Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Umumnya berawan, 26.1 ° C

ITB Kembali jadi Perguruan Tinggi Terbaik se-Indonesia

Dhita Seftiawan
ITB/DOK. PR
ITB/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menjadi perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Dengan mengoleksi skor 3.671, ITB mengungguli Universitas Gadjah Mada (3.594) dan Institut Pertanian Bogor (3.577).

Sejak 2016, ITB memang kerap berada di peringkat pertama klaster 1 yang setiap tahun dirilis Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Pada tahun ini, klaster 1 diisi 13 PTN. Selain tiga PTN di atas, juga ada Institut Teknologi Sepuluh Nopember (skor 3.462), Universitas Indonesia (3.401), Universitas Diponegoro (3.207), Universitas Airlangga (3.056), Universitas Hasanuddin (3.036), Universitas Brawijaya (2.948), Universitas Padjadjaran (2.906), Universitas Andalas (2.795), Universitas Sebelas Maret (2.711), dan Universitas Sumatera Utara (2.695).

Rektor ITB Kadarsah Suryadi mengaku tak terlalu melihat capaian tersebut. Menurut dia, pemeringkatan tak lebih penting dari bagaimana cara ITB untuk terus berprestasi dengan menghasilkam lulusan yang siap kerja dan kompetitif. ITB terus melakukan pembenahan kerja sama dengan pihak industri agar kompetensi lulusannya tepat guna.

"Ranking pertama itu hanya kebetulan saja. Tapi lulusan kami memang kompetensinya relevan dengan tantangan dunia industri sekarang dan masa depan. Plus minus 3 bulan (setelah dan sebelum sarjana) lulusan kami sudah bekerja. Mungkin itu yang membuat kami ada di peringkat pertama," kata Kadarsah kepada Pikiran Rakyat di Jakarta, Jumat, 16 Agustus 2019. 

Pemetaan

Menristekdikti Mohamad Nasir menjelaskan, klasterisasi dilakukan untuk memetakan dan meningkatkan kualitas perguruan tinggi di bawah Kemenristekdikti. Sekaligus juga menjadi dasar bagi Kemenristekdikti untuk memberikan kebijakan sesuai kapasitas setiap klaster perguruan tinggi tersebut.

“Tujuan kami ingin mendorong perguruan tinggi Indonesia semakin maju dan masuk ke kelas dunia. Dorongan ini menjadi sangat penting. Kalau kita sudah sampaikan ini, kita bisa lakukan pemetaan. Tujuannya pemetaan perguruan tinggi Kemenristekdikti bagaimana membuat kebijakan masing-masing yang ada di perguruan tinggi nanti, supaya nanti ke depan kita bisa mewujudkan perguruan tinggi berkualitas,” kata Nasir.

Dalam rangka mengapresiasi beberapa perguruan tinggi dengan ranking tertinggi, Kemenristekdikti saat ini mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk memberikan endowment fund atau dana abadi untuk dialokasikan bagi riset di perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

“Kami ingin ajukan skema, siapa yang bisa masuk itu akan ada endowment fund yang kami bangun, kami ajukan ke Presiden, saya mohon 10 triliun Rupiah untuk awal, supaya nanti kita bisa kembangkan untuk riset di perguruan tinggi tersebut, tapi bagaimana mekanismenya nanti kami akan atur. Ini bagaimana kita dorong perguruan tinggi kita bersaing lebih baik,” ujarnya.

Ia menegaskan, tidak ada dikotomi antara PTN dan perguruan tinggi swasta (PTS) dalam membantu peningkatan kualitas. Nasir mengapresiasi beberapa PTS yang mampu bersaing dengan PTN dan berada pada klaster 2.

Indikator

Pemeringkatan Perguruan Tinggi 2019 berfokus pada indikator atau penilaian yang berbasis Output-Outcome Base, yaitu dengan melihat Kinerja Masukan dengan bobot 40 % yang meliputi kinerja Input (15%) dan Proses (25%), serta Kinerja Luaran dengan bobot 60% yang meliputi Kinerja Output (25%), dan Outcome (35%). Penambahan indikator baru tersebut sebagai upaya agar perguruan tinggi dapat secara aktif merespon perkembangan zaman, terutama revolusi industri keempat dan kebutuhan tenaga kerja. 

“Dengan perubahan penilaian kinerja perguruan tinggi dari tahun-tahun sebelumnya, diharapkan perguruan tinggi didorong untuk lebih menekankan produk atau luaran pendidikan tinggi yang berkualitas yaitu dengan pemberian bobot output yang lebih besar dari bobot input,” kata Direktur Jenderal Kelembagaan Kemenristekdikti Patdono Suwignjo.

Kemenristekdikti juga mengeluarkan hasil klasterisasi perguruan tinggi dalam dua kategori yaitu kategori Perguruan Tinggi Non-Vokasi (pendidikan akademik), yang terdiri dari Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi, dan kategori Perguruan Tinggi Vokasi, yang terdiri dari Politeknik dan Akademi.

Perguruan Tinggi Non-Vokasi dengan jumlah sebanyak 2.141 perguruan tinggi dibawah Kemenristekdikti diperoleh 5 klaster perguruan tinggi Indonesia dengan komposisi Klaster 1 berjumlah 13 perguruan tinggi, Klaster 2 berjumlah 70 perguruan tinggi; Klaster 3 berjumlah 338 perguruan tinggi, Klaster 4 berjumlah 955 perguruan tinggi, dan Klaster 5 berjumlah 765 perguruan tinggi. Berikut adalah seratus perguruan tinggi non-vokasi dengan ranking tertinggi di Indonesia pada 2019.***

Bagikan: