Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Hujan singkat, 31.2 ° C

Mahasiswa Pasang Alat Peringatan Dini Longsor di Gunung Wuled

Eviyanti
BADAN Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Sebelas Maret (KKN UNS) memasang alat Early Warning System (EWS) atau alat peringatan dini tanah longsor di Desa Gunung Wuled.*/EVIYANTI/PR
BADAN Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Sebelas Maret (KKN UNS) memasang alat Early Warning System (EWS) atau alat peringatan dini tanah longsor di Desa Gunung Wuled.*/EVIYANTI/PR

PURBALINGGA, (PR).- Badan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Sebelas Maret (KKN UNS) memasang alat Early Warning System (EWS) atau alat peringatan dini tanah longsor di Desa Gunung Wuled, Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah. 

“Kegiatan tersebut sesuai tema KKN kami yaitu KKN Tematik Pengurangan Resiko Bencana,” kata Ketua KKN UNS di Desa Gunung Wuled, Muhammad Annas  Kamis 15 Agustus 2019.

Pemasang alat ini merupakan salah satu bentuk pengabdian KKN UNS kepada masyarakat di Desa Gunung Wuled. KKN UNS tersebut memastikan tersedianya alat pendeteksi dini bencana tanah longsor di lokasi rawan bencana. Berdasarkan informasi dari KKN Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP)  sebelumnya sering terjadi pergerakan tanah di Desa Gunung Wuled. “Sementara di lokasi tersebut belum ada alat pendeteksi bencana maka kami buatkan alat itu,” tambahnya.

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tercatat, sekitar 66,67 persen wilayah Kabupaten Purbalingga dinilai rawan terjadi pergerakan tanah dan bencana longsor. 

Kasi Kedaruratan dan Logistik, BPBD Purbalingga, Muhsoni daerah yang masuk rawan longsor itu meliputi 65 desa di 13 kecamatan. Pada wilayah tersebut, setidaknya terdapat 68.942 Kepala Keluarga (KK) atau 278.358 jiwa. 

Annas menambahkan,  daerah rawan longsor lainnya banyak  belum dipasang  alat pendeteksi dini tanah longsor, karena alat tersebut mahal.

“EWS sendiri itu banyak macamnya, tergantung jenis bencananya untuk EWS yang kami buat khusus untuk bencana tanah lonsor,” jelas Annas.

Menurutnya, keefektivan EWS yang dipasang cukup peka untuk  mendeteksi pergerakan tanah pada daerah rawan  pergerakan tanah. 

Alat tersebut memiliki tiga tanda lampu untuk menunjukan tingkatan bahaya longsor. Seperti lampu biru untuk tingkatan bahaya ringan, lampu kuning untuk bahaya sedang, sedangkan lampu merah untuk tingkatan bahaya tinggi,” terangnya.

"Ketika lampu indikator berwarna merah menyala, maka akan disertai dengan bunyi sirine. Bunyi tersebut dapat memberitahukan warga sekitar adanya pergerakan tanah yang cukup besar atau terjadi tanah longsor," katanya.

Ia berharap dengan adanya pemasangan EWS tersebut pergerakan tanah dan bahaya longsor dapat dideteksi sedini mungkin. Sehingga warga setempat dapat mengetahui lebih dini dan tanggap terhadap bencana yang terjadi.

“Harapan besarnya tidak ada atau sedikit yang menjadi korban jiwa apalagi berdasarkan data yang kami dapatkan desa ini paling tinggi resiko bencana longsornya,” terangnya.***

Bagikan: