Pikiran Rakyat
USD Jual 14.084,00 Beli 14.182,00 | Cerah berawan, 27.7 ° C

Revolusi  Industri 4.0 Tuntut Guru Ubah Pola Pembelajaran

Dhita Seftiawan
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

JAKARTA, (PR).- Datangnya era Revolusi Industri 4.0 menuntut guru untuk mengubah pola pembelajaran di dalam dan luar kelas. Guru tak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai fasilitator, pengarah, dan penggali potensi peserta didik. Kegiatan belajar mengajar bersifat dua arah sehingga melahirkan diskusi yang kritis.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Supriano menegaskan, Kemendikbud mendukung dengan memberikan pelatihan langsung di daerah untuk membentuk guru yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan tersebut. Menurut dia, tak hanya guru, kepala sekolah juga dituntut untuk terus berinovasi dalam mengelola sekolah.

"Saya mengimbau agar guru-guru yang hadir di sini terus berkarya, berkreasi, dan berinovasi agar proses pembelajaran di sekolah mampu mentransformasi manusia-manusia Indonesia yang kompetitif," kata Supriano saat membuka acara Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Berprestasi dan Berdedikasi di Jakarta, Selasa 13 Agustus 2019 malam.

Ia menyatakan, sejalan dengan tema besar peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia "SDM Unggul, Indonesia Maju", tema Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi Tahun 2019 adalah "Guru dan Tenaga Kependidikan sebagai Agen Transformasi Penguatan SDM".  Menurut dia, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, guru sebagai tokoh sentral dalam pendidikan nasional dituntut untuk adaptif dalam mengembangkan metode pembelajaran.

Ia menyatakan, tuntutan tersebut akan bermuara pada upaya mengembangkan potensi siswa agar mampu menjadi manusia unggul yang berperan bagi kemajuan bangsa. "Pada akhirnya 'kan hasil pembelajaran. Kalau sumber daya manusia Indonesia mau baik, tentunya mereka mendapatkan pendidikan yang baik. Nah, tentunya itu ada peran guru, yang mempunyai kompetensi dan bisa menghadirkan proses pembelajaran yang baik," ujarnya.

Ia menjelaskan, mutu pendidikan dasar dan menengah harus dibangun secara komprehensif. Diawali dengan membenahi kompetensi guru dan tenaga kependidikan. Menurut dia, pembangunan fisik sarana dan prasarana sekolah tak akan bermanfaat jika mutu guru dan tenaga pendidik masih tak relevan dengan kebutuhan zaman.

Saat ini, kementerian mengupayakan berbagai program yang dapat meningkatkan kualifikasi pendidikan, kompetensi dan keterampilan guru dan tenaga kependidikan. Beragam stimulan lain juga terus diberikan agar guru mampu mengajarkan dan membimbing peserta didik menguasai lima potensi dasar abad ke-21. Yaitu kemampuan berpikir kritis, kreatif dan inovatif, komunikatif, bekerja sama, dan berkolaborasi, serta mampu menghadirkan sebuah kepercayaan diri. ***

 

Bagikan: