Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

Pentingnya Mendampingi Warga Desa Agar Siap Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0

Satira Yudatama
 SEORANG warga menjemur opak di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat, 9 Agustus 2019.*/SATIRA YUDATAMA/PR
SEORANG warga menjemur opak di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat, 9 Agustus 2019.*/SATIRA YUDATAMA/PR

INSINYUR teknik mesin sekaligus ahli kimia asal Inggris raya James Watt menemukan mesin uap, melatarbelakangi arus revolusi industri gelombang pertama, periode 1750-1850. Kemunculan mesin uap buatan Watt yang dapat berfungsi secara efisien segera membawa perubahan di berbagai sektor, di antaranya, pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, serta teknologi. Tenaga manusia di sebagian lini pekerjaan tergantikan mesin, menimbulkan dampak hebat akan aspek sosial, ekonomi, dan budaya. 

Revolusi industri pertama bermula di Inggris Raya, kemudian menyebar ke negara-negara di Eropa, Amerika Utara, Jepang, seluruh dunia. Gelombang revolusi industri terus terjadi.

Kini, dunia menghadapi era revolusi industri gelombang keempat, dengan istilah 4.0. Menukil pernyataan profesor bidang jaringan komputer Jürgen Jasperneite dari Ostwestfalen-Lippe University of Applied Sciences (Jerman) yang terunggah pada laman computer-automation.de, revolusi industri 4.0 berarti otomatisasi yang mencakup pertukaran data melalui jaringan siber, serta kecerdasan buatan (artificial intelligence)

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Komputer Indonesia mengadakan Program Pemberdayaan Masyarakat Unggulan Perguruan Tinggi "Penerapan Aplikasi Smart Asset Business Pada Bumdes dan Industri Rumah Tangga Desa Pagerwangi di Era Revolusi Industri 4.0" di Villa Six Garden, Jalan Sukanagara, Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, 8-9 Agustus 2019. Aktivitas atas pelaksanaan program hibah Dikti itu terdiri atas lokakarya, pelatihan, dan pendampingan. Tim LPPM Unikom memberi bekal keterampilan, dan pengetahuan bagi elemen masyarakat Desa Pagerwangi agar siap menghadapi era revoulusi industri 4.0. 

Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Pagerwangi bergerak di bidang retail. Sementara itu, industri rumah tangga, kebanyakan bergerak di bidang makanan, dan minuman.

Hal yang menarik, industri rumah tangga di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat masih menerapkan model tradisional, nyaris tanpa menggunakan mesin. Mencocokan dengan tren atas setiap fase gelombang revolusi industri, masyarakat Desa Pagerwangi seakan-akan langsung masuk pada fase 4.0.

Becermin akan hal itu, tim LPPM Unikom dengan ketua pelaksana Deden Abdul Wahab Sya'roni terus melakukan pendampingan secara berkala, tak sebatas lokakarya, dan pelatihan. 

Penanggung jawab lapangan program Supriyati menuturkan, sebagian personel Bumdes, dan hampir semua pelaku industri rumah tangga di Desa Pagerwangi awam akan teknologi informasi. "Kami perlu telaten mengenalkan, dan membimbing personel Bumdes beserta pelaku industri rumah tangga dalam mengimplementasikan aplikasi Smart Asset Business. Apalagi, kebanyakan mereka belum paham betul mengoptimalkan fungsi akun surat elektronik," kata dia saat dijumpai pada Jumat, 9 Agustus 2019.

Personel Bumdes beserta pelaku industri rumah tangga, ucap Supriyati, menunjukkan sikap antusias mengikuti berbagai rangkaian aktivitas. Tim LPPM Unikom, turut melibatkan mahasiswa dari berbagai jurusan, terutama dalam hal pendampingan. Pihaknya mengunjungi Desa Pagerwangi setiap dua pekan guna melihat progres implementasi aplikasi Smart Asset Business. 

Perihal aplikasi, Supriyati menuturkan, hasil pengembangan gabungan dosen Program Pascasajarna Manajemen, Kompunterisasi Akuntasi, serta Akuntansi Unikom. Aplikasi mempunyai banyak fungsi, di antaranya, inventarisasi aset tangible (fisik) beserta intangible (non-fisik), memudahkan penyusunan balance sheet, juga laporan keuangan berdasarkan standar akuntasi keuangan tanpa akuntabilitas publik.

"Banyak pelaku industri rumah tangga, dan personel Bumdes belum bisa memisahkan uang modal usaha dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Mereka pun belum tahu cara memenuhi kelengkapan perizinan atas pemasaran produk masing-masing," kata Supriyati. 

Koordinator Lilis Puspitawati menambahkan, industri rumah tangga di Desa Pagerwangi sudah beroperasi sebelum ada program Tim LPPM Unikom. Akan tetapi, cakupan pemasaran masih terbatas di cakupan lokal. Setelah beroleh bekal dari program, pihaknya berharap para pelaku industri rumah tangga di Desa Pagerwangi dapat melebarkan cakupan pemasaran.

"Produk mereka menjanjikan. Mereka perlu melakukan peningkatan di berbagai sisi, kemudian memanfaatkan peluang tren e-commerce yang sedang maju pesat. Demikian pula personel Bumdes yang baru akan meresmikan kegiatan usaha dalam waktu dekat," ucap dia. 

Lilis mengungkapkan, tim LPPM Unikom menyampaikan sejumlah materi dengan narasumber kompeten. Materi terdiri atas kompetensi sumber daya manusia Bumdes, industri rumah tangga dari Deden Abdul Wahab Sya'roni, prosedur perizinan dan keuangan (Lilis Puspitawati), manajemen tata kelola dan Smart Asset (Supriyati), manajemen pemetaan pemasaran dan kemasan (Apriani Puti Purfini), peluncuran aplikasi Smart Asset Business (Hery Dwi Yulianto). 

Produksi terbatas

Salah seorang pelaku industri rumah tangga, Ade Sukandi (64) yang akrab dengan sapaan Abah Opak mengatakan, penjualan opak buatannya relatif masih terbatas, pasar, dan pemesan perorangan. Dia menyambut gembira perihal upaya perguruan tinggi yang membuka kesempatan bagi dirinya memasarkan produk buatannya ke cakupan konsumen lebih luas. 

Proses pembuatan opak, ucap Abah Opak, masih mengutamakan tata cara manual. Hal itu menyebabkan kapasitas produksi relatif masih terbatas. "Belum lagi persoalan modal yang pas-pasan," kata dia. 

Kepala Desa Pagerwangi Agus Ruhidayat mengatakan. terdapat sejumlah produk industri rumah tanggal unggulan di daerahnya, di antaranya, opak (kecimpring), rengginang, semprong, minuman kemasan olahan lemon. Menurut dia, pengangan yang tepat dapat menambah nilai ekonomi produk-produk tersebut, kemudian meningkatkan kesejahteraaan pelaku industri bersangkutan. 

Agus menyebutkan, elemen masyarakat Desa Pagerwangi cenderung masih awam akan teknologi informasi. Program dari LPPM Unikom membuka wawasan personel Bumdes, dan pelaku industri rumah tangga di Desa Pagerwangi menjalankan bidang usaha sesuai dengan menangkap peluang era revolusi industri 4.0. 

Sesuatu yang menarik saat membayangkan prinsip revolusi industri 4.0 terlaksana di Desa Pagerwangi yang bertopografi perbukitan dengan suasana asri. Hal itu membuka peluang produk Bumdes, dan industri rumah tangga Desa Pagerwangi menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan luar negeri.***

Bagikan: