Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

Program YES 2019, Belajar ke Amerika Sambil Memperkenalkan Indonesia

Muhammad Irfan
SEBANYAK 80 siswa SMA dari berbagai daerah di Indonesia mendapatkan  beasiswa Kennedy Luggar Youth Exchange and Study (YES) 2019. Senin, 5 Juli 2019, mereka bertandang ke kediaman Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R Donovan JR di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, untuk dijamu dan diberi pembekalan sebelum berangkat ke Amerika.*/MUHAMMAD IRFAN/PR
SEBANYAK 80 siswa SMA dari berbagai daerah di Indonesia mendapatkan beasiswa Kennedy Luggar Youth Exchange and Study (YES) 2019. Senin, 5 Juli 2019, mereka bertandang ke kediaman Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R Donovan JR di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, untuk dijamu dan diberi pembekalan sebelum berangkat ke Amerika.*/MUHAMMAD IRFAN/PR

DENGAN semangat, Muhammad Fathir, siswa MAN 1 Subang, bertandang ke kediaman Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R Donovan JR, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 5 Juli 2019. Kedatangannya ke sana tentu bukan untuk sekadar bertamu.

Dia bersama 79 temannya diundang khusus oleh Joseph Donovan untuk dijamu dan diberi pembekalan sebelum berangkat ke AS. Ya, Fathir dan 79 kawannya dari berbagai daerah di Indonesia akan berangkat ke sana!

Lolos lewat program beasiswa Kennedy Luggar Youth Exchange and Study (YES) 2019, ke-80 siswa-siswi tingkat SMA ini akan menghabiskan satu tahun ke depan di negeri Paman Sam. Selain studi, mereka juga disebar di beberapa negara bagian dan tinggal bersama keluarga asli Amerika untuk mengenal dan memahami kultur sana. Sebaliknya, mereka bertugas untuk memperkenalkan Indonesia kepada warga Amerika.

"Kesempatan ini life changing banget buat saya," kata Fathir kepada "PR" saat bertemu di kediaman Dubes Joseph Donovan.

Namun, untuk sampai pada tahap ini, Fathir dan yang lainnya sudah melalui proses seleksi panjang yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Menurut Fathir, proses itu bahkan memakan waktu sampai satu tahun.

"Kita melewati seleksi satu tahun, dari mulai administrasi, cek berkas gitu-gitu, wawancara, seleksi nasional dan internasional untuk sampai ada di sini," ucap dia.

Selain proses seleksi yang menentukan lolos atau tidaknya mereka di program ini, Fathir juga menceritakan adanya tentangan dari lingkungannya sendiri. Maklum, selama ini ada kesan bahwa umat Muslim kerap mendapat perlakuan diskriminatif di negeri paman Sam.

"Saya berasal dari madrasah, itu kontroversi sekali. Kayak yang bilang ngapain ke Amerika? Tapi di sini, kesempatan saya untuk bilang bahwa saya ke sana itu untuk belajar dan menjadi jembatan untuk saling memahami antara Indonesia dengan Amerika. Sesuai dengan tujuan program ini, Amerika juga ingin memahami negara Muslim yang signifikan," ucap Fathir yang nanti akan tinggal negara bagian South Carolina.

Antusias untuk belajar kultur dan kemandirian

SEBANYAK 80 siswa SMA dari berbagai daerah di Indonesia mendapatkan  beasiswa Kennedy Luggar Youth Exchange and Study (YES) 2019. Senin, 5 Juli 2019, mereka bertandang ke kediaman Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R Donovan JR di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, untuk dijamu dan diberi pembekalan sebelum berangkat ke Amerika.*/MUHAMMAD IRFAN/PR

Dari Jawa Barat, Fathir tak sendiri. Ada juga Raditya Sema, siswa SMAN 24 Bandung, dan Dwiyana Natasari, siswi SMA Pasundan 1 Bandung, yang ikut serta. Menurut Sema, kiat dirinya bisa lolos di program ini adalah tekun pada apa yang dia sukai.

"Saat mendaftarkan kami diharuskan menyertakan esai. Nah, esai saya waktu itu tentang perkembangan teknologi. Bukan tidak ada persiapan, tapi saya dari awal sudah passion sama teknologi jadi cuma tinggal membaca ulang saja," ucap Sema yang akan tinggal di negara bagian California.

Sementara, Dwiyana mengatakan, ia tak memiliki persiapan khusus meski nantinya akan tinggal bersama keluarga baru di sana. Menurutnya, sebelum mendapatkan keluarga angkat, pemerintah Amerika udah menawarkan terlebih dahulu para peserta YES kepada keluarga Amerika yang sudah diverifikasi. Sebelum berangkat, Anne juga sudah berkorespondensi dengan keluarga angkatnya lewat surel.

"Dan, ya, mereka sangat antusias menyambut saya di sana," ucap Anne yang akan tinggal di New York.

Orang tua Dwiyana di Bandung pun sudah mendukung sejak awal. Meski tak bisa dipungkiri ada kekhawatiran ketika anaknya akan tinggal setahun penuh di negara asing nan jauh. "Semakin dekat tanggal berangkat, baru kelihatan semakin khawatir. Apa yang kurang, apa yang akan saya lakukan di sana. It's okay," ucap dia.

Alumni program YES 2015 dari Jawa Barat, Nabila Musri, mengatakan bahwa program ini akan sangat mengubah diri para kandidat nanti. Pengalaman tinggal di Amerika akan memberi banyak referensi dan perspektif baru bagi para peserta program ini.

"Aku lebih mengenal diri aku gitu. Di sana kan ngurusin diri sendiri dan pasti para teman-teman kandidat juga akan merasakan salah satu titik terendah dalam hidupnya dan bagaimana kita harus menyikapinya. Jauh lebih mandiri dan lebih dewasa," ucap Nabila.

Dubes AS Joseph Donovan mengatakan, lewat program ini, diharapkan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia yang telah dijalin 70 tahun lamanya bisa semakin kokoh. Menurut dia, banyak pemimpin di Indonesia yang juga alumni dari program-program seperti ini.

"Mereka tidak hanya belajar segala sesuatu tentang AS, tetapi juga membantu warga AS mengetahui lebih banyak mengenai Indonesia. Kalian akan belajar tentang diri kalian dan kalian akan membantu orang Amerika yang ingin belajar tentang Indonesia. Bantulah mereka juga. Kalian harus bangga,” ucapnya.***

Bagikan: