Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sedikit awan, 23.3 ° C

Penghafal Alquran pun Kebagian Beasiswa Jabar Future Leader 2019

Catur Ratna Wulandari
ILUSTRASI beasiswa.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI beasiswa.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

BANDUNG, (PR).- Beasiswa Jabar Future Leader 2019 disiapkan untuk 1.694 mahasiswa asal Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengalokasikan Rp 50 miliar untuk program ini. 

Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Jawa Barat Yesa Sarwedi Hamiseno menjelaskan, secara garis besar, beasiswa JFL 2019 ini dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama, beasiswa penuh di jenjang S1, S2, dan S3 di perguruan tinggi dengan akreditasi A di Jawa Barat, baik negeri maupun swasta. Perguruan tersebut yaitu Insitut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Pasundan (Unpas), Universitas Islam Bandung (Unisba), Universitas Telkom (Tel-U), Universitas Parahyangan (Unpar), dan Universitas Presiden.

Besaran beasiswa untuk jenjang S1 sebesar Rp 72 juta yang dialokasikan untuk 400 orang, S2 sebesar Rp 50 juta untuk 157 orang, dan S3 sebesar Rp 50 juta untuk 50 orang.

"Beasiswa ini sifatnya beasiswa penuh untuk biaya sekolah selama studi dan biaya hidup," kata Yesa di Bandung, Kamis 1 Juli 2019.

Kelompok kedua, berupa bantuan biaya kuliah yang diberikan sekali saja selama menempuh pendidikan sebesar Rp 8 juta. Kelompok ketiga, beasiswa untuk penghafal Alquran. Beasiswa ini khusus untuk mahasiswa Jawa Barat yang menempuh jenjang S1 di  delapan Universitas Islam Negeri (UIN), yaitu UIN Sunan Gunung Djati (Bandung), UIN Syarif Hidayatullah (Tangerang Selatan), UIN Sunan Kalijaga (Yogyakarta), UIN Maulana Malik Ibrahim (Malang), UIN Sunan Ampel (Surabaya), dan UIN Walisongo (Semarang). Jalur ini menyediakan kuota untuk 130 penerima. Beasiswa diberikan sekali saja sebesar Rp 8 juta.

"Totalnya ada 1.694 penerima," ujar Yesa.

Mekanisme seleksi
  
Disdik Jabar telah menggelar pertemuan dengan 10 perguruan tinggi terakreditasi A yang terlibat dalam program ini. Pertemuan itu membahas mekanisme seleksi dan penentuan kuota.

"Kami sampaikan tadi kalau yang sudah dapat dapat beasiswa penuh, kalau bisa jangan dipungut lagi. Hampir semua perguruan tinggi oke, ada yang harus lapor Rektor dulu. Sebab kalau beasiswa dari kita sekian, biaya sekolah di sana lebih kan masih ada selisih. Jadi mereka harus mengatur subsidi silangnya," tutur Yesa.

Ia menjelaskan, beasiswa ini hanya ditujukan kepada masyarakat Jawa Barat yang sudah dinyatakan diterima di perguruan tinggi tahun ajaran 2019/2020. Meski begitu, Pemprov Jabar tetap akan melakukan seleksi kepada calon penerima beasiswa. "Seleksi nanti bisa lihat nilai UN, skor UTBK, rapor kelas 11 dan 12," kata Yesa.

Setelah melihat catatan prestasi akademik, Pemprov Jabar akan memprioritaskan calon penerima dengan latar belakang ekonomi yang tidak mampu.  

Pendaftaran dan pengumuman seleksi akan diumumkan melali website yang rencananya sudah bisa diakses pada pertengahan Agustus. "Setelah daftar di web, akan dipilah dan diteruskan ke masing-masing perguruan tinggi. Setelah itu 1,5 kali jumlah kuota akan diserahkan kembali ke Pemprov Jabar untuk diseleksi lagi," katanya. Pengumuman hasil seleksi rencananya akan dilaksanakan pada Oktober mendatang.

Yesa mengatakan, beasiswa ini akan ditransfer langsung seluruhnya ke mahasiswa. Namun, Pemprov Jabar bekerja sama dengan perbankan agar bisa mengatur beasiswa tersebut tidak bisa diambil seluruhnya sekaligus. 

Sejauh ini, tidak ada ikatan dinas pada beasiswa ini. Pemprov Jabar hanya mematok agar IPK mahasiswa mencapai 2,5. Penerima beasiswa ini akan mengikuti program pengayaan. Selain untuk evaluasi, program itu juga memberi pelatihan kepemimpinan sehingga mereka siap menjadi pemimpipn Jabar di masa datang.

Dengan mekanisme ini, Beasiswa JFL ini belum bisa meningkatkan angka partisipasi kasar masyarakat Jabar di  pendidikan tinggi. Mengingat, penerima beasiswa memang sudah diterima di perguruan tinggi.

"Tapi tahun depan, kami inginnya mekanisme seleksi ini dari awal. Seperti bidik misi," kata Yesa. Dengan begitu, program Beasiswa JFL diharapkan mampu mendongkrak APK pendidikan tinggi Jabar.***

Bagikan: