Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

Cuma Dapat 2 Siswa, SMA Cokroaminoto Tetap Gelar Kegiatan Belajar Mengajar

Ani Nunung Aryani
SEJUMLAH siswa SMA Cokroaminoto membersihkan kelas di hari pertama masuk sekolah Senin 15 Juli 2019. Sekolah Menengah Atas Cokroaminoto yang berlokasi tidak jauh dari BJB Cabang Cirebon di Jalan Siliwangi Kota Cirebon, hanya mendapat dua siswa dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2019 ini.*/ANI NUNUNG ARYANI/PR
SEJUMLAH siswa SMA Cokroaminoto membersihkan kelas di hari pertama masuk sekolah Senin 15 Juli 2019. Sekolah Menengah Atas Cokroaminoto yang berlokasi tidak jauh dari BJB Cabang Cirebon di Jalan Siliwangi Kota Cirebon, hanya mendapat dua siswa dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2019 ini.*/ANI NUNUNG ARYANI/PR

CIREBON, (PR).- Sekolah Menengah Atas (SMA) Cokroaminoto yang berlokasi tidak jauh dari BJB Cabang Cirebon di Jalan Siliwangi Kota Cirebon, hanya mendapat dua siswa dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2019 ini.

Meski hanya mendapat dua siswa, namun pihak sekolah swasta paling tua di Kota Cirebon ini tetap menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM).

Pada hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang Senin 15 Juli 2019, hanya diisi kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah dan ruang kelas, sehingga Senin siang pukul 10.00 siswa sudah bisa pulang.

Padahal sebagai sekolah SMA swasta pertama dan bersejarah yang ada di Kota Cirebon kontribusi SMA Cokroaminoto dalam meningkatkan taraf pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia warga Kota Cirebon, tidak sedikit.

SMA yang didirikan tahun 1955 merupakan sekolah swasta pertama, di saat SMA Negeri hanya ada satu-satunya di Kota Cirebon. Selain SMA, saat awal didirikan juga memiliki SMP. Namun akibat semakin sepinya peminat, tahun 2010, jenjang SMP terpaksa ditutup.

Menurut Kepala SMA Cokroaminoto Mohamad Tajudin, untuk menambah jumlah siswa, mereka tetap membuka pendaftaran sampai akhir Agustus, menjelang pelaksanaan ujian tengah semester (UTS).

"Sudah beberapa tahun terakhir ini, kami terpaksa memperpanjang waktu pendaftaran sampai menjelang pelaksanaan UTS," katanya saat ditemui Senin 15 Juli 2019.

Dari pintu ke pintu

Selain memperpanjang waktu pendaftaran, semua guru dan bagian tata usaha tidak terkecuali kepala sekolah,  mendapat tugas mencari siswa dari pintu ke pintu, dengan wilayah tugas masing-masing.

Misalnya Kepala Sekolah Mohamad Tajudin, mendapat tugas "bergerilya" mencari siswa di wilayah utara Kabupaten Cirebon dari mulai daerah Pasindangan, Gunungjati, Suranenggala sampai Kapetakan dan sekitarnya.

Jumlah guru termasuk kepala sekolah 10 orang sedangkan tenaga TU hanya dua orang. Dari 10 tenaga pengajar, hanya seorang guru yang berstatus PNS, sementara sisanya guru yayasan.

Salah seorang guru, Titin yang mendapat tugas mencari siswa di wilayah sekitar lokasi sekolah, berhasil mendata empat siswa yang tertarik untuk bersekolah di SMA Cokroaminoto.

"Tapi keempat-empatnya tercatat sebagai warga Pancuran Kota Cirebon berasal dari keluarga tidak mampu, sehingga minta semuanya digratiskan," kata Titin.

Meski nasibnya sama-sama mengenaskan, karena sangat minim pendaftar, nasib SMA Cokroaminoto memang yang paling mengenaskan, karena hanya mendapatkan dua siswa. 

Sementara beberapa SMA lain di antaranya SMA Taman Siswa dan Widya Utama masing-masing mendapat delapan siswa, Penabur Plus 12 siswa dan Nurusshidiq 32 siswa.

Tidak ada penjurusan

Menurut Tajudin, sepinya pendaftar terjadi beberapa tahun belakangan ini, terutama dengan ditambahnya rombongan belajar di sembilan SMA negeri di Kota Cirebon.

"Tahun kemarin yang saat ini kelas XI ada delapan siswa. Sedangkan kelas XII yang mengikuti UN dan sudah lulus sebanyak 13 siswa dari total 15 siswa," katanya.

Akibat kurangnya jumlah siswa, di SMA Cokroaminoto tidak ada penjurusan, yang ada hanya jurusan IPS. 

"Dulu waktu jumlah murid masih banyak, semua jurusan ada, bahkan laboratorium kami juga lengkap. Saat ini peralatan dan perlengkapan laboratorium terpaksa disimpan di gudang," paparnya.

Dikatakan Tajudin, sebenarnya sekolah di SMA Cokroaminoto lebih murah ketimbang di SMA Negeri. Bahkan mayoritas siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu, digratiskan.

Tajudin bersyukur ada bantuan bantuan operasional sekolah (BOS) dan bantuan pendidikan menengah universal (BPMU).

Dana hibah BPMU SMA/SMK swasta dan MA Provinsi Jawa Barat adalah bantuan dana untuk membantu sekolah dalam memenuhi biaya operasional.

"Boro-boro untuk membayar SPP, untuk ongkos transportasi dari rumah ke sekolah saja, kami guru-guru seringkali harus rela merogoh kocek pribadinya untuk membantu siswa," paparnya.

Menurut Tajudin, tidak sedikit siswanya yang berlatarbelakang keluarga broken home. Sehingga cenderung cuek dengan anaknya.

"Tidak sedikit orang tua siswa yang tidak peduli dengan anaknya. Mau sekolah silahkan, tidak sekolah juga tidak masalah. Makanya kami guru-guru harus aktif memantau siswa. Bahkan seringkali harus menjemput siswa ke rumahnya agar bisa ikut ujian," katanya.***

Bagikan: