Pikiran Rakyat
USD Jual 13.961,00 Beli 14.059,00 | Cerah berkabut, 30.7 ° C

Khawatir Proyek Galian Longsor, Siswa SD Jadi Takut ke Sekolah

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI gedung SD.*/DOK. KABAR BANTEN
ILUSTRASI gedung SD.*/DOK. KABAR BANTEN

SERANG,(PR).- Akses jalan siswa siswi SD Negeri Cilayangguha di Kecamatan Pasir Laban, Desa Cilayangguha, Kecamatan Cikeusal terhambat akibat terdampak proyek tol Serang-Panimbang sejak 20 hari terakhir. Akibatnya siswa yang hendak bersekolah pun harus melalui jalur alternatif lain yang jaraknya lebih jauh untuk sampai di sekolah.

Pantauan Kabar Banten, tampak proyek galian fisik sudah berjalan. Galian tol tersebut persis berada di antara belakang dan samping gedung sekolah dan berjarak sangat dekat. Di antara proyek dan gedung sekolah tersebut dibatasi oleh pagar seng dan garis polisi. Alat berat pun keluar masuk di sekitar lokasi proyek. Terdengar pula kebisingan dan getaran dari sekitar ruang kelas siswa.

Ketua Komunitas Cilayangguha A Yani mengatakan, akses jalan yang terputus itu adalah akses siswa yang berasal dari Kampung Cilayangguha. Padahal hampir 95 persen siswa di sekolah itu berasal dari Kampung Cilayangguha. “Sudah sejak 20 hari lalu,” ujarnya kepada wartawan Kabar Banten, Dindin Hasanudin saat ditemui di lokasi, Kamis 11 Juli 2019.

Yani mengatakan, akibat adanya proyek tersebut, kini siswa yang hendak bersekolah harus mutar lebih jauh dari jalur biasanya. Selama ini, anak-anak biasa berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Namun kini mereka harus diantar jemput oleh orangtuanya karena harus melalui lokasi proyek. “Takut ada longsor juga. Biasanya dekat tapi putus ada flyover, dari Cilayangguha kesini itu sekitar 1,5 kilometer sekarang jadi 2 kilometer,” ucapnya.

Ia menuturkan, selain dari Cilayangguha, siswa di sekolah itu juga berasal dari Kampung Turus, Rahong dan Cilayang maka. Semua siswa tersebut takut ketika hendak berangkat ke sekolah. “Takut kena proyek, ini kan pasti tahunan, sekalipun sudah rampung tetap khawatir untuk sekelas anak-anak SD harus naik overpass, enggak nyaman takut jatuh,” tuturnya.

Disinggung soal upaya menyampaikan keluhan, Yani mengatakan masyarakat sekitar hanya berpikir tentang rasa takut dan tidak nyaman. Namun mereka bingung harus menyampaikan kepada siapa kekhawatiran tersebut. “Informasinya sudah ada lahan penggantinya di Cilayangguha, luasnya sekitar 3.553 meter persegi kata PPK pak Gandi. Malah sudah di survei sama dinas, BPN dan PPK. Tapi sekarang enggak jelas lagi,” katanya.

Ia mengatakan, selain ada bangunan SD, di sekitar proyek tol juga ada satu TK terdampak. Awalnya TK tersebut berbentuk leter L, namun satu bagian sudah dibongkar, dan masih tersisa satu bangunan lagi. “Maish ditempati sekarang. Saya juga khawatir kalau di sini tuh anak-anak suka banyak yang nonton proyek kalau sebelum belajar, padahal proyek galian ini sekitar 11 meter. Selain itu juga berisik, ini menggagu siswa,” ucapnya.

Harus direlokasi

Sementara, Anggota Divisi Pemberdayaan masyarakat Pusat Telaah Informasi Regional Banten (Pattiro Banten) Ahmad Subhan mengatakan, beberapa SD yang terdampak tol harus segera direlokasi oleh pihak terkait. Karena jika dibiarkan khawatir akan berdampak pada siswa. “Bisa saja siswa yang ingin berangkat ke sekolah terjadi hal hal yang tidak diinginkan. Akses jalan ke sekolah ini sudah tidak memungkinkan,” ujarnya.

Menurut dia, untuk menyelesaikan masalah ini disdikbud harus duduk bareng dengan PPK tol. Terlebih titik relokasi saat ini sudah ada, oleh karena itu harus segera dilakukan eksekusi. “Kami minta PPK tol terjun langsung kesini (Cilayangguha) apalagi pihak sekolah hanya terima kunci, kami tidak mau sekolah dihancurkan sementara penggantinya belum ada. Kami minta sebelum cilayangguha hancur harus ada penggantian dulu,” ucapnya.

Subhan mengatakan, sebelumnya Pattiro Banten sudah sempat duduk bersama beberapa instansi seperti Perkim, Disdikbud, Kecamatan Cikeusal dan Kragilan serta bagian hukum. Namun dalam pertemuan itu disayangkan pihak PPK tidak ada yang datang mewakili. “Upaya kami surat sudah masuk, kami ingin duduk bareng dengan PPK tol agar sekolah terdampak bisa segera relokasi. Karena tiga sekolah dampingan Pattiro yakni Cilayangguha, Inpres dan seba adalah yang terparah,” katanya.

Menanggapi hal itu, Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa mengatakan, proyek tol Serang Panimbang adalah proyek strategis nasional. Saat ini untuk pembebasan lahan sudah mencapai 97 persen atau sudah selesai. “Mereka sudah melaksanakan kegiatan fisik,” ujarnya.

Pandji mengatakan, untuk sekolah yang terdampak, semuanya harus segera direlokasi. Namun saat ini masih dalam tahap negosiasi alot. Karena pihak tol masih beranggapan dua sekolah saja yang harus dipindah, sedangkan dua lainnya tidak. “Saya bilang enggak mau, harus empat empatnya dipindah. Masih negosiasi, lahannya sudah dapat. Tinggal menunggu persetujuan mereka. Sebelum beroperasi harus pindah dulu, kalau sekarang belum operasi masih pembangunan. Pasti terganggu (proses belajar mengajar) itu prioritas,” tuturnya.*** 

Bagikan: