Pikiran Rakyat
USD Jual 14.075,00 Beli 14.173,00 | Cerah berawan, 31.4 ° C

Keterlibatan TNI dalam MPLS, Jangan Mengedepankan Militerisme

Catur Ratna Wulandari
ILUSTRASI.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

BANDUNG, (PR).- Forum Orangtua Siswa (Fortusis) berharap agar keterlibatan TNI dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tidak sekadar mengedepankan militerisme. Membangun rasa kebangsaan dan nasionalisme harus menyentuh aspek psikomotorik, afektif, dan kognitif.

"Kalau menurut saya, lebih baik bukan TNI aktif. TNI kan ada pusat pendidikan, nah diambilnya dari situ. Misalnya Lemhanas, Seskoad, itu kan tentara aktif yang mempunyai pikiran masyarakat sipil," kata Ketua Fortusis Dwi Subawanto saat dihubungi, Kamis 11 Juli 2019.

Ia mengatakan, keterlibatan TNI aktif khawatir menguatkan kesan militerisme. Apalagi yang dihadapi ialah siswa-siswa usia remaja. "Kami khawatir kalau itu diterapkan, sama seperti pendekatan agama dengan dogma," katanya.

Menurut dia, penanaman nasionalisme dan kebangsaan seharusnya tidak sekadar menggunakan metode ceramah. Metode yang digunakan harus mencakup aspek psikomotorik, afektif, dan kognitif. Jika tidak, tak ubahnya hanya seperti mengisi gelas kosong. "Diisi sampai meluber pun tidak ada gunanya," ujarnya.

Tiga pendekatan itu bisa diwujudkan lewat kegiatan yang menyenangkan bagi siswa. Sehingga materi tak sekadar dihafal tapi bisa diserap dan siswa mampu mengambil nilai-nilainya untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari.

Tanamkan kedisiplinan

Dosen Universitas Pendidikan Indonesia Iik Nurulpaik mengatakan, tujuan besar pemerintah membuat program tersebut ialah untuk menanamkan sikap kedisiplinan, wawasan kebangsaan, patriotisme, juga cinta tanah air. "Tidak lebih, tidak kurang. Bukan berarti militer masuk sekolah," katanya.

Ia mengatakan, masyarakat tak perlu khawatir dengan keterlibatan TNI ini. Di era keterbukaan seperti sekarang, tidak mungkin pemerintah membuat langkah yang kontraproduktif.

"Hanya memang, dari sisi implementasi harus dikemas dengan baik di lapangan," katanya.

Pengemasan kegiatan ini, kata dia, harus sesuai dengan usia siswa yang masih remaja, juga berupa kolaborasi dengan sekolah dan orangtua siswa. "Harus lebih bermakna, lebih happy, tidak menistakan harga diri dan martabat siswa sebagai manusia," ujarnya.***

Bagikan: