Pikiran Rakyat
USD Jual 14.106,00 Beli 13.806,00 | Sebagian berawan, 21 ° C

Materi Nilai Moral Pancasila akan Dimasukkan dalam Kurikulum Sekolah

Dhita Seftiawan
GARUDA Pancasila.*/DOK. PR
GARUDA Pancasila.*/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang menyiapkan materi penguatan pembelajaran nilai moral Pancasila untuk diajarkan di jenjang pendidikan anak usia dini, SD, SMP dan SMA. Kendati demikian, materi tersebut belum ditetapkan akan jadi mata pelajaran baru atau tidak.

Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan, materi penguatan pembelajaran nilai moral Pancasila merupakan bagian dari program pendidikan karakter. Menurut dia, materi tersebut sangat mungkin untuk disisipkan kepada mata pelajaran yang sudah ada dan relevan seperti Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

“Kalaupun jadi mapel, ini namanya sedang kami cari. Apakah kembali ke PMP atau yang lain. Nanti kalau PMP dikira kembali ke jaman dulu. Tapi kalau nanti bikin istilah baru nanti dikritik juga. Yang penting isinya dulu. Soal kemasan gampang,” kata Muhadjir di Kantor Kemendibud, Jakarta, Rabu, 10 Juli 2019.

Ia berharap, materi baru tersebut bisa mulai diterapkan dalam tahun ajaran baru 2019/2020. Menurut dia, di dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang diterapkan saat ini, memasukan materi baru sangat bisa dilakukan.

“Jadi dalam kurikulum ada yang namanya core dan sekuen. Core itu inti materi. Dan kapan itu harus diberikan itu sekuen. Nah, kami sedang pertimbangkan untuk kewarganegaraan atau civic education itu bisa diberikan kepada anak-anak di jenjang lanjut. Misalnya, SMP kelas 3, SMA kelas 2 dan 3,” katanya

Sedangkan, ucap Muhadjir, penanaman nilai Pancasila mulai diberikan sejak PAUD. Ia menjelaskan, membuat mapel baru atau tidak bukan yang utama. Tetapi, inti materi yang diajarakan ada sedikit perubahan. “Jadi begitu. Jadi tidak ditambah mapelnya tetapi sekuen dan core-nya ditekankan,” ujarnya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud Totok Suprayitno menambahkan, materi pembelajaran yang diterapkan pada setiap jenjang berbeda-beda. Untuk janjang PAUD, penekanannya lebih kepada pembentukan karakter watak anak.

“Bukan pengetahuan. Jadi misalnya kalau gotong-royong, mengajari gotong-royong itu, ya langsung praktik. Belajar saling berempati melalui praktik. Semakin tinggi jenjang pendidikannya ini kan tatarannya beda. Untuk SD dan SMP mulai diberikan pengetahuan selain praktik. Untuk SMA, sepenuhnya pengetahuan,” katanya.

Ia menuturkan, implementasi pembelajaran moral Pancasila menjadi bahan untuk penilaian guru dalam mengisi rapor karakter siswa. Rapor tersebut bukan berupa angka, tetapi penilaian guru yang dideskripsikan. “Rapor karakter ini nanti anak tidak dijudge kamu bodoh, kamu jahat. tidak begitu,” katanya.

Rapor karakter

Rapor karakter merupakan dokumen resmi penilaian hasil pendidikan siswa yang diterbitkan Kemendikbud sejak 2017. Rapor tersebut berupa uraian penjelasan yang dibuat sekolah dalam menerapkan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Rapor karakter untuk menilai perkembangan sikap, minat dan bakat siswa.

Rapor tersebut juga sebagai instrumen baru dari implementasi program PPK. Rapor karakter dipakai sekolah saat membuka penerimaan peserta didik baru. Siswa wajib menyerahkan rapor karakter saat akan melanjutkan pendidikan ke sekolah lebih tinggi.

“Jadi rapor karakter itu ke depannya akan jadi semacam portofolio siswa. Penilaiannya kualitatif. Sekolah wajib memasukkannya ke data pokok pendidikan (Dapodik) Kemendikbud,” ujarnya.***

Bagikan: