Pikiran Rakyat
USD Jual 14.024,00 Beli 14.122,00 | Umumnya berawan, 20.1 ° C

Belajar Bersama Maestro (BBM), Menimba Ilmu di Tepi Citarum

Tri Joko Her Riadi
TISNA SANJAYA.*/ DOK.PIKIRAN RAKYAT
TISNA SANJAYA.*/ DOK.PIKIRAN RAKYAT

DI tepi Sungai Citarum, di Kampung Cigebar, Kabupaten Bandung, Siti Wainah Maulidah (17) menyapukan kuasnya di salah satu tembok masjid Al-Amanah. Dia melukis siluet sebatang pohon dengan tinta warna hitam, seolah melambangkan harapan yang tumbuh di sungai yang pernah dicap sebagai yang terkotor di dunia itu.

 “Melukis di ruang terbuka selalu menyenangkan. Ada ilmu berbeda yang kami dapat. Kalau di kelas kan (kami dapat) teori dan teknik, di sini dapat pengalaman yang sangat berharga,” kata Siti, Senin sore 8 Juli 2019.

 Siti merupakan siswi SMA Negeri Model Terpadu Madani, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Sejak awal Juli 2019 lalu dia tinggal di Kota Bandung, tepatnya di rumah seniman Tisna Sanjaya di kawasan Cigondewah. Bersama Siti, ada 14 murid SMA/SMK lain yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia.

Sebelum bersama-sama menyelesaikan satu bidang dinding masjid itu, ke-15 remaja itu sudah melakoni banyak kegiatan lain yang tak kalah menyenangkan. Masing-masing orang sudah menghasilkan satu karya personal di atas kanvas yang lagi-lagi terinspirasi dari apa yang mereka temui di Citarum. Lukisan-lukisan itu dipajang tak jauh dari masjid.

Kalau Siti tidak memiliki latar belakang khusus terkait seni rupa, Abdul Muhaimin (16) merupakan siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta. Cita-citanya jelas: menjadi pelukis. Maka senang betul Abdul menghabiskan berjam-jam waktu untuk melukis bersama teman-temannya.

“Kami baru setengah jalan di Bandung, tapi sudah banyak ilmu yang diperoleh. Liburan sekolah kami kali ini betul-betul mengesankan. Saya akan pulang dan membagikan banyak pengalaman kepada kawan-kawan,” ucapnya.

 Siti, Abdul, dan belasan kawan mereka merupakan peserta program Belajar Bersama Maestro (BBM) yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selama dua pekan penuh, mereka “berguru” pada Tisna Sanjaya, seniman serbabisa yang sohor dengan kekritisannya pada isu-isu sosial-politik. 

Waktu belajar dalam program BBM betul-betul 24 jam sehari. Ke-15 murid SMA/SMK itu tinggal di rumah Tisna dan mengikuti semua rutinitas harian yang dilakukan oleh sang seniman dan keluarganya. 

“Saya siapkan dua kamar bagi mereka. Plus, saya bersihkan satu studio. Prosesnya menyenangkan sekali. Saya pun banyak belajar dari anak-anak generasi milenial ini,” kata Tisna yang sore itu berkali-kali menyemangati para anak didiknya dengan tepukan tangan.

 Tisna tidak mengajarkan kemanjaan kepada ke-15 siswa SMA/SMK itu. Ia langsung membawa mereka ke lapangan. Selain membaur dengan komunitas warga di Cigondewah, para siswa dibawanya ke Citarum. Bagi Tisna, seni harus selalu terlibat dengan isu dan permasalahan masyarakatnya.

 “Penting sekali bagi anak-anak muda, termasuk para calon-calon seniman, untuk melek urusan sosial dan politik. Seni harus terlibat dan berkontribusi bagi masyarakat. Selalu begitu,” ujarnya.

 

Belajar dari lapangan

Program Belajar Bersama Maestro pertama kali dilangsungkan pada 2015 lalu. Tujuannya memberikan pengalaman kepada para peserta didik untuk terlibat langsung dalam proses kreatif dan hidup keseharian para seniman yang mumpuni di bidang seni rupa, pertunjukan, musik, media, dan tari. BBM pada dasarnya merupakan salah satu kegiatan pembentukan karakter.

 Tahun ini terdapat 300 siswa yang terpilih dari sekitar 7 ribu pendaftar dari seluruh pelosok Indonesia. Selain Tisna Sanjaya, beberapa nama maestro lain di antaranya adalah Hanafi, Addie MS, Purwacaraka, Iman Soleh, Matep Soedharsono, serta Didiek Nini Thowok.

Frans Sartono, jurnalis senior yang dipilih menjadi salah satu narasumber BBM, mengatakan, target program tahunan ini bukanlah sebuah karya. Para peserta didik menghabiskan waktu dua pekan liburan mereka bukan untuk membuat sebuah lukisan, lagu, atau pentas teater. Program ini bertujuan memberikan pengalaman yang tidak mungkin ditemui di ruang kelas.

“Dengan tinggal dan berinteraksi langsung dengan para maestro, mereka bisa melihat dan mengalami secara langsung bagaimana hidup seorang seniman, lengkap dengan komunitas dan permasalahannya. Ini yang kita harapkan menghasilkan pengetahuan, tapi sekaligus imajinasi para siswa,” kata Frans.

 Menjelang petang, ke-15 remaja itu menyelesaikan lukisan mereka. Hujan baru saja reda. Truk-truk hilir-mudik melintasi jalan becek di pinggiran sungai. Air di Citarum masih hitam pekat, tapi para pelajar itu tidak mau kehilangan harapan akan datangnya perbaikan. ***

 

Bagikan: