Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Sedikit awan, 21.9 ° C

Penerapan Zonasi Bisa Timbulkan Keresahan di Masyarakat

Dewiyatini
ILUSTRASI penerimaan peserta didik baru (PPDB).*/DOK. PRFM
ILUSTRASI penerimaan peserta didik baru (PPDB).*/DOK. PRFM

BANDUNG, (PR).- Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 untuk SMA, SMK, dan SLB diharapkan tidak menimbulkan potensi konflik di masyarakat. Komite Monitoring PPDB 2019 meminta Panitia PPDB Jawa Barat berkaca dari pelaksanaan PPDB Kota Bandung.

Menurut Koordinator Pengaduan Komite Monitoring PPDB 2019 Akyad, panitia PPDB Jabar perlu menyiapkan antisipasi atas penyelenggaraan PPDB yang akan dibuka pada 17 Juni 2019. Ia menyebutkan penetapan zonasi bisa saja menimbulkan keresahan di masyarakat.

Akyad mencontohkan yang terjadi saat PPDB Kota Bandung untuk SMP. Terjadi penumpukan pendaftar karena beberapa sekolah tidak menggunakan kartu antrean. Hal itu menimbulkan kerawanan konflik di sekolah.

"Bisa dibayangkan berdesak-desakan tanpa nomor antrean akan seperti apa. Belum lagi tidak ada kejelasan waktu bagi masyarakat dilayani oleh panitia pendaftaran," ucap Akyad,  Senin 10 Juni 2019.

Akyad mengatakan khusus untuk PPDB, orang tua calon peserta didik rela tidak masuk kerja karena harus mengantar anaknya mendaftar. Proses pendaftaran, kata Akyad, bisa saja seharian.

Keresahan berikutnya, lanjut Akyad, input data di sistem online. Akyad mengatakan Panitia PPDB Jabar merilis informasi bahwa data calon peserta didik tidak akan terpampang secara real time. Hal itu diprediksi akan menimbulkan keresahan karena menunggu kepastian.

"Justru ketika tidak ditampilkan secara real time, semakin membuat orang tua dan anaknya resah. Mereka akan mencurigai adanya kecurangan," ungkapnya.

Hal serupa terjadi di PPDB Kota Bandung, kata Akyad, di mana panitia baru memasukkan data pendaftar pada malam hari usai pendaftaran hari itu ditutup. Ia mengatakan panitia di sekolah sebaiknya segera memasukkan data pendaftar.

"Seleksi bisa saja dilakukan setelah penutupan pendaftaran. Tapi data pendaftar secara daring perlu dipampang hari itu juga sehingga masyarakat merasa lebih tenang," ujarnya.

Menghilangkan semangat kompetisi

Koordinator Bidang Kajian Komite Monitoring PPDB 2019 Iwan Hermawan mengatakan, sistem zonasi yang saat ini diterapkan seperti penetapan daerah pemilihan dalam pemilu akan memberikan dampak yang besar. Iwan menyebutkan akan terjadi penumpukan di salah satu sekolah meskipun agak jauh ditempuh. Zonasi yang dekat dilewati karena beda zona sehingga ada beberapa sekolah kosong pendaftar.

Ia mencontohkan dalam PPDB di Kota Bandung, daya tampung di SMPN 10 tidak terpenuhi. Ada sekitar 161 kursi yang tidak terisi. Akibatnya, sisa kuota itu diisi dari pendaftar yang tidak diterima di sekolah lain yang memenuhi jarak dalam zonasi.

Bisa saja mereka tidak mendaftar ke sekolah tersebut. Bahkan bisa juga mereka tidak diterima di sekolah tujuan. Tapi karena ada sekolah yang kuotanya tidak terpenuhi dan jaraknya dekat dengan tempat tinggal siswa yang tidak mendaftar, membuat siswa-siswa tersebut diterima,” papar Iwan.

Kondisi serupa akan terjadi di sekolah-sekolah yang berada jauh dari permukiman. Iwan mencontohkan kemungkinan terjadi di SMAN 3 dan 5 Bandung.

“Ini bisa juga dimanfaatkan oleh oknum untuk menitipkan siswa,” katanya.

Dari hasil kajian Komite Monitoring PPDB 2019, kata Iwan, masih melihat adanya upaya perpindahan kartu keluarga untuk mendekati sekolah favorit. Ia juga menilai sistem zonasi, mampu menghilangkan semangat kompetisi nilai akademik.

Beberapa persoalan yang hadir juga, lanjut Iwan, karena kurang meratanya sekolah di tiap kelurahan dan kecamatan. Bahkan kualitas sarana dan prasarana juga belum merata.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Dewi Sartika mengimbau setiap satuan pendidikan tingkat SMA/SMK/SLB menyimulasikan pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019. Simulasi tersebut bertujuan untuk mematangkan persiapan pendaftaran PPDB yang mulai berlangsung pada 17 Juni 2019 mendatang.

"Minggu ini, sekolah harus mengusahakan proses simulasi pendaftaran PPDB, sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku," ujarnya seusai apel di Disdik Jabar, Jalan Rajiman.

Ike, panggilan akrab Dewi Sartika, mengungkapkan, kegiatan simulasi tersebut dapat menjadi tolok ukur kesiapan sekolah menghadapi pendaftaran PPDB, baik dari segi teknis, pelayanan, maupun kesiapan panitia di sekolah. Itu juga merupakan salah satu upaya yang dilakukan guna memberi pelayanan PPDB dengan optimal. Bahkan pihaknya telah melaksanakan pelatihan khusus  yang diikuti oleh perwakilan operator dan pejabat pengelola informasi dan komunikasi (PPID)  di seluruh kabupaten/kota.***

 

 

Bagikan: