Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Cerah berawan, 29.1 ° C

Hasil UN SMP Meningkat

Dhita Seftiawan
UNBK SMP.*/ADE BAYU INDRA/PR
UNBK SMP.*/ADE BAYU INDRA/PR

JAKARTA, (PR).- Rata-rata nilai murni hasil Ujian nasional (UN) jenjang SMP/MTs sederajat meningkat. Nilai murni di SMP negeri naik sebanyak 1,67 poin, sedangkan SMP swasta sebanyak 2,11 poin. Kemudian MTs negeri sebanyak 1,58 poin, sedangkan MTs swasta sebanyak 1,34 poin.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Totok Suprayitno mengatakan, peningkatan tersebut cukup membanggakan. Pasalnya, ekspansi UN berbasis komputer (UNBK) hingga mencapai 83% peserta (3.581.169) yang berasal dari 43.833 sekolah. Sebanyak 7 provinsi telah menyelenggarakan UNBK jenjang SMP 100%. 

"Sebanyak 22 provinsi menyelenggarakan UNBK jenjang MTs 100%, sedangkan ujian paket B terselenggara UNBK 100% di 33 provinsi. Kenaikan nilai tertinggi terjadi pada mata pelajaran Matematika," kata Totok di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu, 29 Mei 2019.

Untuk pendidikan kesetaraan, terjadi peningkatan jumlah peserta UNBK dari 79,639 peserta (2018) menjadi 118,885 (2019). Nilai rerata UN untuk mata pelajaran Matematika naik 1,32, sedangkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) meningkat 0,36 poin.

"Berdasarkan distribusi nilai, terlihat perbedaan profil peserta 2019 dibandingkan tahun 2018 adalah bertambahnya peserta didik dengan rerata nilai kurang dari 40," katanya.

Koreksi nilai terjadi pada sekolah-sekolah yang menyelenggarakan ujian nasional berbasis kertas dan pensil (UNKP) pada tahun 2018 dengan indeks integritas ujian nasional (IIUN) rendah yang kemudian beralih menjadi sekolah penyelenggara UNBK di tahun 2019. Sekolah-sekolah yang IIUN rendah tersebut terkoreksi nilainya hingga 12,20 poin. Namun, sekolah-sekolah UNKP dengan IIUN tinggi meningkat sebesar 0.31 poin.

“Dengan UNBK refleksinya menjadi lebih jernih. Kelemahannya di mana, kekuatannya di mana, dari setiap mata pelajaran itu diketahui. Bayangkan, kalau dengan kecurangan, siswa itu sebenarnya tidak bisa menjawab soal itu, tetapi seolah-olah bisa mengerjakan. Sehingga tidak dapat intervensi yang diperlukan. Harusnya gurunya masih perlu dilatih, tetapi tidak,” ujar Totok.***

Bagikan: