Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian berawan, 20.5 ° C

Inovasi Katalis ITB Hemat BBM Rp 25 Triliun per Tahun

Dhita Seftiawan
MENRISTEKDIKTI Mohamad Nasir meninjau uji coba katalis merah putih di kilang minyak unit 2 Pertamina, Dumai, Riau, Kamis, 16 Mei 2019. Katalis inovasi hasil penelitian tima ITB-Pertamina itu diklaim mampu menghemat biaya produksi BBM hinga Rp 25 triliun per tahun.*/DOK HUMAS KEMENRISTEKDIKTI
MENRISTEKDIKTI Mohamad Nasir meninjau uji coba katalis merah putih di kilang minyak unit 2 Pertamina, Dumai, Riau, Kamis, 16 Mei 2019. Katalis inovasi hasil penelitian tima ITB-Pertamina itu diklaim mampu menghemat biaya produksi BBM hinga Rp 25 triliun per tahun.*/DOK HUMAS KEMENRISTEKDIKTI

DUMAI, (PR).- Inovasi teknologi katalis buatan Institut Teknologi Bandung (ITB) diklaim mampu menghemat biaya produksi bahan bakar minyak jenis diesel sekitar Rp 25 triliun per tahun. Pasalnya, pemerintah tak lagi harus mendatangkan katalis dari luar negeri agar bisa mensubstitusi minyak mentah dengan minyak sawit untuk membuat BBM.

Inovasi dalam bidang kimia yang dinamai Katalis Merah Putih ini mulai dipakai di kilang minyak unit 2 Pertamina.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menuturkan, riset katalis merah putih dimulai sejak 1985. Kendati demikian, mulai menunjukkan hasil pada 2004.

Pada 2017, Kemenristekdikti kemudian mengucurkan dana kepada tim dari ITB untuk melakukan penelitian katalis yang bisa diterapkan di industri. Menurut dia, pada 2018 katalis merah putih akhirnya ditemukan berkat kolaborasi riset dengan tim dari PT. Pertamina.

"Nah sekarang diuji coba langsung di kilang minyak ini. Hasilnya ternyata kita mampu, kualitasnya juga jauh lebih baik dari katalis impor. Kilang minyak di Dumai ini mampu menghasilkan 12.000 barel per hari, 10 persennya bahan bakunya dari sawit atau 1.200 barel per hari. Dengan adanya katalis, sawit itu bisa diolah sedemikian rupa mejadi diesel atau BBM jenis lain," kata Nasir di Kilang Minyak Unit 2 Pertamina, Dumai, Riau, Kamis, 16 Mei 2019.

Ia menuturkan, dengan memproduksi katalis sendiri, Indonesia akan mampu menghemat biaya impor BBM tak kurang dari Rp 25 triliun per tahun. Pasalnya, 10% kebutuhan minyak mentah bahan baku BBM bisa disubtitusi oleh minyak sawit.

Nasir menegaskan, ke depan, inovasi katalis ini ditargetkan mampu mensubtitusi 20-30% minyak mentah. "Ini lagi coba terus ditingkatkan. Impor minyak mentah kita itu sekitar Rp 250 triliun per tahun. Jika sekarang 10 persennya bisa dipenuhi sendiri, baru hemat Rp 25 triliun. Tinggal sekarang bagaimana kita meningkatkan kapasitas sawitnya," ujar Nasir.

Ia mengatakan, jika menggunakan katalis dari luar negeri, kualitas diesel cetane numbernya hanya 51%. Sedangkan jika menggunakan katalis merah putih mencapai 58%.

Dengan demikian, kualitas bahan bakar yang dihasilkannya sedikit lebih baik. "Nanti pembakarannya juga lebih sempurna. Ini yang gak pernah didapat di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Jadi katalis merah putih ini memang yang terbaik," ucap Nasir.

Ahli Teknologi Reaksi Kimia dan Katalis Prof. Dr. Subagjo mengatakan,  uji coba katalis berjalan dengan baik. Kendati demikian, ucap dia, ITB-Pertamina belum menghitung berapa nilai investasi yang dibutuhkan untuk menggunakan katalis tersebut di dunia industri.

Menurut dia, katalis merah putih sudah diuji di berbagai laboratorium industri kimia. 

"Kami sekarang gunakan unit yang ada di Pertamina di Dumai, sebelumnya sudah diuji coba di laboratorium Pertamina di Pulogadung. Setelah ujicoba yang sekarang beres, baru kami menghitung nilai keekonomian, investasi dan lainnya. Riset katalis ini melibatkan sekitar 7 ahli dari ITB. Dibantu juga dengan peneliti dari Pertamina," kata Subagjo.

Ia menuturkan, biaya untuk riset dan merintis pembuatan katalis sangat mahal. Pasalnya, bahan kimianya sulit didapatkan karena katalis yang digunakan industri hanya 40% yang dijual bebas di pasaran.

Sedangkan 60% lainnya diproduksi untuk digunakan sendiri oleh industri pengembangnya. Dengan katalis merah putih, Indonesia kini mampu memproduksi zat kimia yang sangat menguntungkan bagi dunia industri minyak tersebut.

Direktur Pertamina Nanang Kurniadi menuturkan, dalam hasil uji coba tersebut, katalis merah putih mampu menghemat 12% kebutuhan bahan baku. Ia berharap, pada 2020 produksi katalis merah putih sudah berjalan. 
"Pengembangannya terus lanjut. Tapi kami masih ada keterbatasan penyimpanan RPDPO untuk konsumsi hidrogen juga harus kami siapkan dengan baik. Inovasi ini akan jadi prospek yang lebih bagus lagi," ujar Nanang.

Ia mengaku masih menghitung ketersediaan bahan baku sawit Indonesia jika pada tahun depan mulai memproduksi diesel berbahan baku campuran minyak sawit dan minyak mentah. Ia juga belum bisa memastikan apakah akan ada kilang baru untuk memproduksi BBM jenis tersebut.

"Repemping kalau skala besar, ini kan co prosesing bukan stand alone. Kami masih pro di planning dari fosil sama sawit. Nanti bagaimana inti plasma sawit ini harus mencukupi kebutuhan bahan baku ke depan ini yang dipikirkan," ujarnya.***

Bagikan: