Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Umumnya berawan, 25.5 ° C

Sempat Ragu Akan Kemampuannya, Dipasukha Edbert Raih Nilai Ujian Nasional Tertinggi di Jawa Barat dengan Nilai Sempurna

Riesty Yusnilaningsih
SISWA peraih nilai UN SMA kelas IPA yang tertinggi di Jawa Barat, Dipasukha Edbert. yang bahkan sempat tidak percaya telah meraih nilai sempurna untuk empat pelajaran yang diuji, ketika ditemui di sekolahnya, SMAK BPK Penabur Harapan Indah Kota Bekasi, Rabu, 15 Mei 2019.*/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
SISWA peraih nilai UN SMA kelas IPA yang tertinggi di Jawa Barat, Dipasukha Edbert. yang bahkan sempat tidak percaya telah meraih nilai sempurna untuk empat pelajaran yang diuji, ketika ditemui di sekolahnya, SMAK BPK Penabur Harapan Indah Kota Bekasi, Rabu, 15 Mei 2019.*/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR

TAK percaya dan menduga semua adalah hoaks belaka. Itulah perasaan yang terbersit di benak Dipasukha Edbert ketika mendengar kabar perihal nilai sempurna yang ditorehkannya saat mengerjakan Ujian Nasional. Namun, saat kian banyak ucapan selamat disampaikan kepadanya melalui aplikasi pesan, Edbert pun mulai percaya seraya berucap syukur akan sesuatu yang tak pernah diduganya itu.

"Jadi, awalnya itu dikasih tahu orang tua yang mendapat ucapan selamat dari kepala sekolah. Waktu itu sempat tidak percaya juga kaget, rasanya seperti tersambar petir di malam hari. Tapi setelah diperlihatkan juga hasil penilaiannya, baru saya merasa senang dan lantas bersyukur," kata remaja yang karib disapa Edbert itu kala ditemui di sekolahnya, SMAK BPK Penabur Harapan Indah Kota Bekasi, Rabu, 15 Mei 2019.

Edbert sempat tidak percaya akan hal tersebut karena pengalamannya ketika beberapa kali mengikuti try out. Jadi, setelah menyelesaikan soal-soal UN pun, meski merasa telah mengerjakan dengan kemampuan terbaiknya, Edbert tak mematok dapat menorehkan nilai sempurna. Apalagi, sampai mengantarkannya sebagai siswa SMA peraih nilai UN terbaik se-Jawa Barat.

"Utamanya saat mengerjakan soal Bahasa Indonesia yang saya rasa paling sulit dibandingkan mata pelajaran lain, karena kecenderungan pemahaman untuk menjawab soal yang subjektif, tidak sepasti ilmu eksak semisal Matematika juga Fisika," kata remaja kelahiran Jakarta, 26 September 2001 itu.

Untuk soal Matematika juga Fisika, siswa kelas XII IPA itu memang lebih percaya diri hasilnya akan baik. Pasalnya, ia tak menemui kesulitan berarti saat mengerjakan 35-40 soal yang diujikan karena jauh sebelum UN, ia telah rutin berlatih soal.

"Saya tidak ikut bimbingan belajar, hanya mengandalkan buku kumpulan soal yang disiapkan sekolah. Hampir tiap hari saya meluangkan waktu untuk berlatih soal-soal di buku itu," katanya.

Strategi belajar di ruang khusus dan senang berbagi ilmu

SISWA peraih nilai UN SMA kelas IPA yang tertinggi di Jawa Barat, Dipasukha Edbert. didampingi Kepala SMAK BPK Penabur Harapan Indah, Siwi Tri Wahyuningtyas. ketika ditemui di SMAK BPK Penabur Harapan Indah Kota Bekasi, Rabu, 15 Mei 2019. Edbert telah meraih nilai sempurna untuk empat pelajaran yang diuji dan akan melanjutkan pendidikan tinggi ke Singapura*/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR

Agar konsentrasinya tak buyar saat belajar, ia telah menyusun aturan sendiri. Misalnya, ia belajar di ruangan khusus yang jauh dari keberadaan alat-alat elektronik. Semua alat elektronik tersebut diyakininya bisa mendistraksi fokus juga konsentrasi belajar.

Selain mempersiapkan ruangan khusus, Edbert juga telah menentukan waktu yang paling pas untuk belajar. Waktunya ialah selepas bangun tidur pukul 04.00 WIB sebelum berangkat ke sekolah.

"Bangun jam 04.00 itu pikiran masih kosong, jadi gampang diisi materi baru. Apalagi, setelah cukup waktu istirahatnya karena biasanya saya tidur pukul 22.00 WIB atau semalam-malamnya pukul 24.00 WIB, jika sedang banyak tugas," katanya.

Selain fokus belajar secara mandiri di luar jam sekolah, Edbert meyakini bahwa ia kian menguasai materi-materi pelajaran justru karena kerap berbagi ilmu kepada kawan dekatnya. "Saya percaya, ilmu itu bisa bertambah bukan hanya karena belajar, tapi juga karena menyampaikan lagi materi itu kepada orang lain. Cara ini yang saya yakin mempengaruhi 95 persen pemahaman saya akan setiap materi yang dipelajari," katanya.

Kini, selepas menyelesaikan pendidikannya di bangku SMA, dalam dua bulan ke depan, Edbert akan bertolak menuju Singapura untuk melanjutkan pendidikannya di National University of Singapore. Sejak Februari 2019, ia telah diterima sebagai mahasiswa Fakultas Science NUS.

Meski begitu, saat mengerjakan UN pada April 2019, ia tetap mempersiapkannya sungguh-sungguh dan mengerjakannya secara serius. "Ini saya anggap sebagai wujud berbakti kepada orang tua, sekaligus untuk membahagiakan mereka juga," ucapnya.

Sementara itu, Kepala SMAK BPK Penabur Harapan Indah, Siwi Tri Wahyuningtyas, mengatakan, ia memang meyakini kemampuan Edbert. "Kami intens berkomunikasi sejak Edbert rutin berkonsultasi terkait rencana studinya setelah SMA. Melalui komunikasi itu, saya dapat melihat dia anak yang fokus juga cermat menata masa depan yang akan dititinya. Jarang anak seusianya yang memiliki pola pikir demikian, sehingga saya yakin Edbert bisa mencapai sesuatu yang membanggakan di masa mendatang," katanya.

Keberhasilan tersebut sudah terlihat dengan nilai UN sempurna. Ia pun memotivasi adik-adik kelas Edbert untuk bisa meniru jejaknya supaya selalu disiplin dan tekun belajar.***

Bagikan: