Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Cerah berawan, 29.1 ° C

Sadar Keterbatasan, Indonesia Perbanyak Kolaborasi Riset dengan Peneliti Asing

Dhita Seftiawan
Menristekdikti Mohamad Nasir/DOK PR
Menristekdikti Mohamad Nasir/DOK PR

JAKARTA, (PR).- Pemerintah terus menggenjot kolaborasi riset dengan peneliti asing. Terutama peneliti dari negara yang fokus melakukan riset di  bidang kesehatan, obat-obatan dan kemaritiman. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir mengklaim kolaborasi riset tersebut akan sangat menguntungkan dan bermafaat bagi Indonesia.

Ia menuturkan, kolaborasi menjadi sangat penting mengingat Indonesia masih memiliki keterbatasan dari sisi teknologi dan ilmu pengetahuan. Sementara itu, peneliti asing membutuhkan medium untuk melakukan penelitian baru yang sumber daya alammnya melimpah di Indonesia. Nasir menegaskan, Inggris dan Singapura menjadi negara yang paling berkomitmen untuk melakukan kolaborasi riset dengan Indonesia.

“Terus akan kami kembangkan, kalau bisa ya semakin banyak. Kalau enggak, kita enggak bisa tumbuh. Sebagai contoh, Biodiversity (keragaman hayati bawah laut) kita sangat besar loh. Ini yang akan dikolaborasikan. Mereka yang membiayai semua penelitiannya,” kata Nasir di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Senin 13 Mei 2019.

Ia menuturkan, kerja sama dengan Inggris dilakukan untuk bidang kesehatan. Sedangkan dengan Singapura di sektor kemaritiman. Menurut dia, kolaborasi riset antarpeneliti sangat penting untuk saling transfer ilmu pengetahuan. Ia mencontohkan, di bidang kesehatan, dari kolaborasi riset itu Indonesia diharapkan tidak lagi mengimpor 80% bahan baku obat untuk kebutuhan dalam negeri.

“Dengan kerja sama riset ini, bagaimana obat bisa dipenuhi dari dalam negeri. Sekarang biaya kesehatan kita mahal sekali, bahkan BPJS Kesehatan sendiri tidak mampu membiayai, makanya terjadi kekurangan terus. Sekarang problemnya obat itu diimpor, ini yang jadi masalah. Produksinya udah di dalam negeri, tapi bahannya dari luar negeri,” kata Nasir.

Badan Riset

Nasir menuturkan, dana riset yang digelontorkan pemerintah setiap tahun tak menghasilkan riset yang berkualias. Pasalnya, dana tersebut tercecer di beberapa kementerian dan lembaga. Pada tahun ini, wacana pengelolaan dana riset secara terpusat semakin dibahas serius di istana.

“Saya sudah usulkan kepada Presiden agar membentuk badan riset. Ini rancangan undang-undangnya sedang dibahas di DPR. Jadi nanti kalau ada badan riset, semua riset tercena dengan baik. Mulai dari sisi anggaran dan bidang risetnya,” ujar Nasir.***

Bagikan: