Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 19.8 ° C

Sekolah Negeri Amerika Kekurangan Guru

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI guru mengajar.*/KABAR BANTEN
ILUSTRASI guru mengajar.*/KABAR BANTEN

CALIFORNIA, (PR).- Lebih dari setengah dari negara-negara bagian Amerika melaporkan kekurangan guru-guru yang memiliki kemampuan berbahasa asing, selain bahasa Inggris, untuk menghadapi tantangan keragaman yang semakin besar di sekolah-sekolah Amerika.

Sekitar 10 persen dari siswa sekolah negeri di Amerika masuk dalam kategori “English Language Learners” (pelajar bahasa Inggris) atau “ELL. Tetapi di beberapa negara bagian seperti California, 38 persen siswa masuk ke dalam sistem sekolah negeri sebagai ELL.

Pelajar bahasa Inggris adalah siswa berusia antara 3 dan 21 tahun yang bahasa ibunya bukan Inggris, dan kesulitan membaca, berbicara, serta memahami bahasa Inggris. Bulan lalu, the Council of Great City Schools menerbitkan sebuah laporan yang mengkaji apa yang dihadapi pelajar bahasa Inggris ketika duduk di sekolah negeri di 74 kota besar Amerika.

Bahasa yang paling umum digunakan di kalangan ELL adalah Spanyol, Arab, Tionghoa, Haiti Kreol, dan Vietnam. Pelajar dengan ke lima bahasa ibu ini mewakili 92 persen semua ELL.

Sekolah-sekolah selama bertahun-tahun berjuang untuk mengatasi keragaman bahasa yang semakin besar ini. Pada 1998, pemilih California mengesahkan sebuah undang-undang yang memberlakukan pendidikan hanya diajarkan dalam bahasa Inggris.

Namun pada November 2016, undang-undang itu dihapus dan sekolah negeri California berusaha memperluas pendidikan bi-lingual atau pendidikan dengan dua bahasa pengantar. Tetapi sistem sekolah di negara bagian itu kewalahan menemukan pendidik bilingual yang memenuhi syarat untuk memenuhi kebutuhan siswa-siswa mereka.

California tidak sendirian, 30 negara bagian lainnya dan juga District of Columbia melaporkan kekurangan guru dalam pembelajaran bilingual dan Inggris sebagai bahasa kedua. Pengamat khawatir, defisit ini akan merugikan siswa-siswa ini dan mereka tidak berpeluang meraih pendidikan yang berkualitas.***

Bagikan: