Pikiran Rakyat
USD Jual 14.310,00 Beli 14.212,00 | Cerah berawan, 28 ° C

Maju Mundur Mobil Listrik Nasional

Dhita Seftiawan
MENTERI ESDM Ignasius Jonan (ketiga kiri) didampingi Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar (kedua kiri) melihat mobil listrik Itenas pada acara peringatan ke-49 Hari Bumi Internasional di Museum Geologi Bandung, Jawa Barat, Sabtu (27/4/2019). Kegiatan yang bertema Harmoni Indonesia melalui Green Energy tersebut sebagai bentuk peranan Kementerian ESDM dalam sosialiasasi dan mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran dalam menjaga dan melestarikan bumi.*/ DOK. ANTARA
MENTERI ESDM Ignasius Jonan (ketiga kiri) didampingi Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar (kedua kiri) melihat mobil listrik Itenas pada acara peringatan ke-49 Hari Bumi Internasional di Museum Geologi Bandung, Jawa Barat, Sabtu (27/4/2019). Kegiatan yang bertema Harmoni Indonesia melalui Green Energy tersebut sebagai bentuk peranan Kementerian ESDM dalam sosialiasasi dan mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran dalam menjaga dan melestarikan bumi.*/ DOK. ANTARA

KEINGINAN tak sesuai dengan kenyataan. Kondisi tersebut ­rupanya cocok untuk menggambarkan masa depan ­mobil listrik nasional. Setidaknya jika dilihat dari sisi ­postur anggaran riset. Bukannya bertambah, dana untuk riset pengembangan mobil listrik pada tahun ini malah berkurang tiga kali lipat.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menuturkan, pada tahun lalu, anggaran riset mobil listrik ­nasional sebesar Rp 120 miliar. Pada tahun ini hanya Rp 40 miliar. Dana total Rp 160 miliar dalam 2 tahun itu didistribusikan ke enam perguruan tinggi negeri yang ditugasi khusus melakukan riset ­kesiapan mobil listrik.

Enam PTN itu yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Tek­no­logi Bandung (ITB), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Institut Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Udayana (Udayana). Nasir menyatakan, sejauh ini fokus penelitian diarahkan pada pembuatan baterai yang tahan lama, murah, dan mudah bahan bakunya.

”Tapi ternyata belum ada hasil. Pertama, kita belum menemukan bahan baku yang pas untuk membuat baterainya. Kedua, uji coba baterai yang ada masih terus dilakukan dan belum memuaskan. Untuk membuat satu baterai saja masih membutuhkan biaya tinggi. Kita sudah mampu membuat baterai untuk motor listrik Gesits. Tapi kalau dipakai untuki mobil, itu akan mahal sekali,” kata Nasir di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Senin 6 Mei 2019.

Kendati tak didukung dana yang memadai, Nasir masih optimis­tis target Indonesia mampu memproduksi mobil listrik nasional pada 2025 bisa tercapai. Pasalnya, pemerintah mulai banyak menggandeng pihak swasta untuk melakukan riset. Dari kesiapan bahan baku baterai, pemerintah juga sudah membuat pabrik di Halmahera. ”Dalam waktu dekat saya akan cek ke sana (Halmahera). Rencananya tahun ini sudah mulai produksi bahan baku ­untuk baterai mobil listrik,” ujarnya.

Baterai yang ideal untuk sebuah mobil listrik ialah yang mampu bertahan lebih dari 200 kilometer. Bahkan, beberapa produsen mobil listrik dari Amerika Serikat mampu membuat baterai yang bertahan hinga 450 kilometer. Dengan daya tempuh sejauh itu, baterai cukup diisi ulang 5-6 jam per hari. Dengan kemampuan seperti itu, ucap Nasir, harga jual mobilnya mencapai sekitar Rp 1 miliar.

”Di Indonesia, jika mobilnya paling murah Rp 1 miliar, tidak akan ada yang beli. Maka saya ingin, riset yang dilakukan perguruan tinggi ini agar maksimal mampu membuat baterai yang jika di­konversi ke harga mobilnya maksimal Rp 350 juta. Dengan daya ­jelajah dan ketahanan listriknya lebih dari 150 kilometer,” kata Nasir.

Ia mengklaim, dari sisi teknologi mesin, Indonesia sudah mampu membuat mobil listrik. Ia menuturkan, jika anggaran untuk riset dapat terus ditingkatkan, pada 2022 hasilnya sudah akan terlihat.

”Dengan asumsi ini risetnya jalan terus. Jadi, 2025 sudah bisa produksi massal,” ujarnya.

Tim khusus

Rektor ITB Kadarsah Suryadi mengaku, riset mobil listrik nasio­nal dipegang oleh tim khusus. ”Risetnya masih on going karena yang paling krusial itu baterainya. Kalau engine kan teknologinya sudah ada, sudah bagus. Tapi yang di dunia yang paling vital itu baterai, terutama umur hidup baterainya itu,” ujar Kadarsah.

Mobil listrik belakangan ini memang kerap digadang-gadang ­sebagai mobil masa depan dunia. Mobil listrik diklaim lebih ramah lingkungan dan irit energi. Dengan menggunakan energi listrik, ­biaya perawatan dan pemakainnya pun jauh lebih murah diban­dingkan dengan menggunakan mobil yang memakai bahan bakar minyak.***

Bagikan: