Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Langit umumnya cerah, 19.6 ° C

Hasil Penelitian Kemendikbud, Kemampuan Literasi Siswa Indonesia Membaik

Dhita Seftiawan
SEJUMLAH anak membaca buku yang tersedia di layanan Kotak Literasi Cerdas (Kolecer) di Taman Sempur, Kota Bogor, Jawa Barat.*/ANTARA
SEJUMLAH anak membaca buku yang tersedia di layanan Kotak Literasi Cerdas (Kolecer) di Taman Sempur, Kota Bogor, Jawa Barat.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut tingkat kemampuan literasi siswa Indonesia berada di kisaran 61%. Hasil tersebut diklaim cukup bagus dan menjadi penanda bahwa minat membaca siswa Indonesia juga meningkat. Angka 61% itu muncul dari hasil penelitian terhadap 6.500 siswa kelas 10 yang tersebar di 34 provinsi.

Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud, Dadang Sunendar mengatakan bahwa penelitian tersebut melibatkan 68 peneliti yang mengambil sampel dari total 298 sekolah perwakilan seluruh provinsi. Menurut dia, penelitian yang dilakukan Kemendikbud lebih komperehensif dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan Programme for International Student Assessment (PISA). 

Pasalnya, ucap Dadang, PISA hanya mengambil sampel dari sekolah di 2 kabupaten, tidak mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Kendati demikian, Dadang mengakui masih banyak kekurangan dalam minat baca siswa yang harus segera dibenahi pemerintah pusat dan daerah.

“Hasilnya, dari interval 200-800, rata-ratanya 489. Artinya tingkat kemampuan anak Indonesia sebesar 61%. Dalam satu kabupaten diambil maksimal 10 sekolah. Penelitian ini lebih komprehensif dari hasil penelitian PISA yang hanya mengambil sampel dari 2 kabupaten saja di Indonesia, di mana kita memperoleh angka 397,” kata Dadang di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Kamis 25 April 2019.

Pembenahan bacaan

Ia menyatakan, perbaikan yang sedang dibenahi antara lain terkait kualitas teks dan ketersediaan buku bacaan di sekolah. Menurut dia, para siswa Indonesia harus mulai dikenalkan dengan teks yang lebih kompleks yang membutuhkan penalaran tinggi. Selain itu juga perlu disediakan bahan bacaan yang lebih eksploratif dan argumentatif. “Karena kelemahan anak-anak kita ada di sana, yaitu tidak terbiasa membaca data, peta, grafik, teks panjang, dan sebagainya. Oleh karena itu, ini harus dimulai,” katanya.

Dadang menuturkan, pemerintah juga terus memperkuat implementasi dari Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Di antaranya dengan pembiasaan membaca selama 15 menit sebelum belajar. Menurut dia, tantangan terbesar dari program tersebut ialah ketersediaan buku bacaan nonpaket di sekolah.

“Perintah pusat tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan dukungan dari pemerintah kabupaten/kota yang juga memiliki tugas yaitu memfasilitasi pengembangan budaya literasi,” katanya.

Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Kemendikbud, Hurip Danu Ismadi menambahkan bahwa Kemendibud telah melakukan berbagai cara untuk mendistribusikan buku bacaan nonpaket ke semua sekolah. “Kami muat di berbagai laman, dikirim salinan digitalnya ke dinas pendidikan di seluruh Indonesia, dengan harapan masing-masing daerah bisa menggandakan sesuai dengan kebutuhannya,” kata Hurip.

Menurut survei yang dilakukan Tanoto Foundation, dari 298 sekolah yang diteliti Kemendikbud, hanya 9% di antaranya yang memiliki inisiatif menyediakan bacaan nonbuku paket. Padahal, penyediaan bahan bacaan berkualitas nonbuku paket di sekolah penting untuk mendorong minat dan kemampuan membaca siswa.***

Bagikan: