Pikiran Rakyat
USD Jual 14.260,00 Beli 14.162,00 | Umumnya berawan, 24.6 ° C

Hari Pertama, UNBK dan USBN Diklaim Lancar Tanpa Kebocoran

Dhita Seftiawan
SEJUMLAH siswa mengikuti pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) SD, di SDN 062 Ciujung, Jalan Lapangan Supratman, Kota Bandung, Senin 22 April 2019. Pelaksanaan USBN SD berlangsung hingga Rabu 24 April 2019 dengan tiga mata pelajaran yang diujikan yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA.*/ADE BAYU INDRA/PR
SEJUMLAH siswa mengikuti pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) SD, di SDN 062 Ciujung, Jalan Lapangan Supratman, Kota Bandung, Senin 22 April 2019. Pelaksanaan USBN SD berlangsung hingga Rabu 24 April 2019 dengan tiga mata pelajaran yang diujikan yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA.*/ADE BAYU INDRA/PR

JAKARTA, (PR).- Hari pertama ujian nasional berbasis komputer (UNBK) untuk jenjang SMP/MTs dan ujian sekolah berstandar nasional (USBN) untuk jenjang SD berjalan lancar. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengklaim tidak ada laporan dugaan kebocoran soal seperti yang terjadi pada UNBK jenjang SMA beberapa waktu lalu.

Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan, pelaksanaannya pun berjalan tepat waktu. Ia mengaku senang semua pihak yang bertanggung jawab menggelar UNBK dan USBN menyiapkan segala sesuatunya dengan maksimal.

"Secara umum bagus, sudah sesuai standar yang ditetapkan, mulai dari prosesnya, bagaimana soal diproses sampai ke tangan siswa, kemudian sistem pengawasannya karena ditukar antarsekolah, jumlah peserta juga teratur," ujar Muhadjir saat melakukan sidak di SMP 11 dan 19 Jakarta serta SD 5 Muhammadiyah, Jakarta, Senin 22 April 2019.

Dalam sidak di dua SMP tersebut, Muhadjir mengapresiasi positif panitia dan pengawas ujian. Pasalnya, semua siswa bisa mengikuti UNBK tanpa harus bergantian. "Saya senang karena dari dua SMP yang saya kunjungi ini cuma satu shift, artinya fasilitas untuk sarana UNBK nya sudah terpenuhi, sehingga tidak perlu ada giliran," katanya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan UNBK dan USBN yang berjalan bersamaan, terselenggara sesuai dengan rencana. Pasalnya, Kemendikbud juga melihat jadwal pemilihan umum presiden, puasa Ramadan dan libur nasional lainnya. Menurut dia, pemerintah sengaja menggelar UNBK dan USBN serentak setelah Pilpres agar tak mengganggu jadwal penting nasional lainnya. "Semua kami hitung agar tidak mengganggu," katanya.

Belum 100%

Pelaksanaan UNBK untuk jenjang SMP tahun ini belum 100%. Siswa yang berada di daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T) masih menjalani ujian nasional berbasis kertas pensil (UNKP). Kendati demikian, Kemendikbud menargetkan pada tahun depan UNBK bisa mencapai 100%.

"Karena jumlahnya sangat banyak, dan SMP ini sebagian besar tidak bisa UNBK itu wilayah 3T. Sarana untuk melakukan ujiannya belum memenuhi. Prasarananya terutama jaringan TI belum terpenuhi dengan baik. Tapi terus kami koordinasikan," ucap Muhadjir.

Terkait materi soal, Muhadjir menegaskan sekitar 20% dari jumlah soal UNBK dan USBN berjenis higher order thinking skill (HOTS) atau soal yang membutuhkan penalaran tinggi. Ia menyatakan, HOTS akan terus dipertahankan hingga ujian tahun selanjutnya. 

Saya langsung cek contoh-contoh soal latihan yang dikerjakan anak saya yang kebetulan hari ini ikut USBN, itu soalnya sudah ada unsur-unsur HOTS sehingga anak sudah harus rasional. Artinya anak tidak hanya menghafal, mengingat kemudian menjawab, tapi penalarannya sudah dimasukkan, anak harus membuat pilihan tepat, dia harus merangkai berbagai secara logis soal itu," katanya.

Pada tahun ini, sebanyak 148.000 SD di seluruh Indonesia serentak menggelar USBN yang diklaim telah memenuhi memenuhi 8 standar yang ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Di antaranya standar isi ujian, evaluasi, sarana, dan prasarana USBN. Sementara itu, UN SMP diikuti 2.605.116 siswa dari 27.214 sekolah dan 975.691 siswa MTs dari 16.619 sekolah.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud, Totok Suprayitno mengatakan 91% pelaksanaan UN tahun ini berbasis komputer. Menurut dia, UN tidak hanya penting untuk menilai aspek kognitif siswa. Tetapi juga aspek nonkognitif yang banyak dipengaruhi lingkungan keluarga.

Ia mengatakan, hasil UN dapat dijadikan rujukan bagi dinas pendidikan dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kompetensi guru per mata pelajaran. Dengan demikian, para guru tidak akan lagi dilatih secara umum. “Kalau ternyata di kota A nilai UN mata pelajaran matematika jelek, ya gurunya yang dilatih adalah guru mata pelajaran tersebut. Siswa akan mengisi angket setelah menyelesaikan UN. Ada 5 jenis angket, dan setiap siswa hanya mengerjakan satu jenis angket,” katanya.

Penyelenggaraan UN tahun ini akan diikuti oleh 8.259.581 siswa dari 103.000 satuan pendidikan. Sebanyak 7.507.116 UN berbasis komputer dan sisanya melaksanakan UN berbasis kerta pensil. Totok optimistis, meningkatnya penyelenggaraan UNBK akan menaikkan indeks integritas sekolah.***

Bagikan: