Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Cerah berawan, 27.6 ° C

1.307 Start-up akan Ramaikan Indonesia Start-up Summit

Dhita Seftiawan
MENTERI Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir berbicara dalam konferensi pers tentang Indonesia Startup Summit 2019 di Gedung D Kemenristekdikti, Jalan Jenderal Sudirman Pintu Satu Senayan, Jakarta, Jumat, 5 April 2019.*/ANTARA FOTO
MENTERI Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir berbicara dalam konferensi pers tentang Indonesia Startup Summit 2019 di Gedung D Kemenristekdikti, Jalan Jenderal Sudirman Pintu Satu Senayan, Jakarta, Jumat, 5 April 2019.*/ANTARA FOTO

JAKARTA, (PR).- Sebanyak 1.307 perusahaan pemula (start up) akan meramaikan Indonesia Startup Summit (ISS) yang akan digelar 10 April mendatang di Jakarta. Semua perusahaan pemula tersebut merupakan binaan Program Inkubasi Bisnis Teknologi (IBT) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi selama 4 tahun.

"Dari 1307 itu kalau kita pisahkan, ada yang start up, ada yang calon start up. Ini harus kita pisahkan. Start up itu yang sudah masuk ke industri. Ini ada 749 start up. 558 sisanya adalah calon start upStart up-start up tersebut dan juga yang berasal dari Perguruan Tinggi dan LPNK di bawah Kemenristekdikti akan dipamerkan pada Temu Akbar Start-up yang akan kita laksanakan pada tanggal 10 April 2019," ungkap Menristekdikti Mohamad Nasir, saat konferensi pers di Jakarta, Jumat, 5 April 2019.

Ia menuturkan, start up yang akan dipamerkan tidak hanya berfokus pada bidang teknologi informasi dan komunikasi. Tetapi juga bidang-bidang lain seperti pangan, kesehatan dan obat-obatan, pertahanan dan keamanan, energi,  transportasi, material maju. Bidang tersebut sesuai dengan bidang prioritas di Rencana Induk Riset Nasional (RIRN).

"Secara detail nanti kami akan tunjukkan pada tanggal 10 April 2019 berbagai start up yang ada, dan akan kami kelompokkan pada beberapa bidang sesuai dengan RIRN,  ada dari pangan, obat-obatan, teknologi informasi, advanced material, nanotechnology, dan lain-lainnya," ujarnya.

Ia menyatakan, tenants IBT belum merata dari seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, Kemenristekdikti akan berikan pendanaan dan bimbingan bagi tenant dari luar jawa yang dapat meningkatkan partisipasi dan kesejahteraan masyarakat di wilayahnya.

"Apakah start up hanya berasal dari Jawa saja? Tidak. Start up-start up ini berasal dari seluruh Indonesia. Dalam Pemerintah RI saat ini, sesuai arahan Presiden RI Joko Widodo, pembangunan harus menyebar di seluruh Indonesia. Ini bukan 'Jawasentris', tapi 'Indonesiasentris'," katanya.

Dari 1307 tenant start up di seluruh Indonesia, Program IBT telah melahirkan 32 tenants yang sudah mature dengan peningkatan omzet rata-rata lebih dari 426 persen dan tenants yang mature tersebut memiliki omzet minimal Rp 500 juta.***

Bagikan: