Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Umumnya cerah, 30.3 ° C

Surman: Buat Apa Gedung Sekolah Bagus kalau Mebelernya Rusak

Tim Pikiran Rakyat
PENAMPILAN murid SD dan SMP saat pelaksanaan pembukaan Pekan Kreativitas Seni dan Olah Raga Siswa jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tingkat Kab. Pangandaran yang dibuka oleh Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata di halaman kantor Disdikpora Kab. Pangandaran, Senin, 25 Maret 2019.*/AGUS KUSNADI/KABAR PRIANGAN
PENAMPILAN murid SD dan SMP saat pelaksanaan pembukaan Pekan Kreativitas Seni dan Olah Raga Siswa jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tingkat Kab. Pangandaran yang dibuka oleh Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata di halaman kantor Disdikpora Kab. Pangandaran, Senin, 25 Maret 2019.*/AGUS KUSNADI/KABAR PRIANGAN

PANGANDARAN,(PR).- Menurut data dari Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat tahun 2018 untuk capaian rata-rata 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP), Kabupaten Pangandaran berdasarkan raport mutu tahun 2017 untuk jenjang SMP berada di urutan pertama.

Hanya saja sarana dan prasarana di sekolah tidak seimbang dengan capaian prestasi yang diraih di bidang pendidikan.

"Buat apa gedung sekolah bagus kalau mebelernya pada rusak," ujar Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda Dan Olah Raga Kabupaten Pangandaran, Surman dalam sambutannya saat pembukaan Pekan Kreativitas Seni dan Olah Raga Siswa jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tingkat Kab. Pangandaran yang dibuka oleh Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata yang bertempat di halaman kantor Disdikpora Kab. Pangandaran, Senin, 25 Maret 2019.

Surman juga mengatakan, jumlah sekolah di Kab. Pangandaran ada 282 SD dan 53 SMP, 36 di antaranya merupakan SD Negeri. Untuk memberikan gambaran supaya pendidikan meningkat, maka proses perkembangan di 8 standar pendidikan untuk pembiayaan dibantu  oleh negara seperti dana bos dari pusat dan program Pangandaran Hebat dari Pemerintah Daerah.

Surman mengungkapkan, bahwa Pemerintah Kab. Pangandaran telah meningkatkan kesejahteraan para honorer dan sudah diakui dengan memberikan insentif Rp 300 ribu perbulan.

"Malahan sekarang sudah naik menjadi Rp 700 ribu perbulan yang diharapkan di perubahan anggaran mudah-mudahan diangkat menjadi Pekerja Pemerintah Dengan Perjanjian Kontrak (P3K)," ucapnya, seraya dirinya mengimbau kepada pihak sekolah untuk tidak menambah jumlah guru honorer.

"Berdayakan saja guru honorer yang sudah ada," tegasnya.

Dia melanjutkan, untuk mengubah sarana prasarana dan infrastruktur di sekolah sejak tahun 2016 sudah dibantu oleh pemerintah, dimana pada tahun 2016 bantuan sebesar Rp 5 miliar, pada tahun 2017 naik menjadi Rp 13 miliar dan di tahun 2018 naik lagi menjadi Rp 17 miliar.

"Bahkan di tahun 2019 sudah setara dengan daerah lainnya yaitu sebesar Rp 26 miliar," ujarnya.

Surman merinci, rehab ruangan kelas di 2017 ada 42 ruangan, tahun 2018 ada 80 ruangan dan di tahun 2019 ada sekitar 120 ruangan kelas termasuk puluhan ruang kelas SMP.

"Bahkan di tahun 2019 ini kami ingin menciptakan sekolah SMP sehat di Kec Langkaplancar," katanya.

Dengan anggaran yang masih minim, Surman berharap untuk pembangunan WC sekolah di tiap kecamatan yang ada di Kab. Pangandaran bisa melalui dana CSR oleh pihak BUMN (Bank BJB) yang siap untuk mendukung pendidikan di Kab Pangandaran.

Surman menyampaikan, anggaran untuk sekolah dari program Pangandaran Hebat sebesar 11 miliar untuk sekolah SD dan SMP dan 9,6 miliar untuk pendidikan SMA yang ditransfer melalui bantuan ke Provinsi yang kemudian dikembalikan lagi ke sekolah SMA di Kab. Pangandaran.

Sedangkan untuk sekolah swasta, kata Surman, Pemkab juga menyiapkan sebesar 12 miliar baik sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan maupun Kementerian Agama, juga bantuan untuk mahasiswa UNPAD sebesar 400 juta pertahun yang sekarang naik menjadi 600 juta pertahun.

"Saya terima kasih banget kepada Pak Bupati dan Pak Wabub yang telah memperhatikan pendidikan di Kab Pangandaran," ucapnya.

Hampir selesai

Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata usai membuka kegiatan menjelaskan kenapa IPM di Dinas Pendidikan rendah, salahsatunya adalah rata-rata lama siswa, anak usia sekolah di Pangandaran untuk tamat SMP belum di garap dengan benar.

"Nah ini yang akan kita garap dengan benar dan itu yang sedang kita pikirkan," ujar Jeje.

Apalagi di tahun 2020 besok, kata Jeje, kontruksi APBD sudah bisa bergeser karena infrastruktur jalan sudah hampir selesai, dan nanti anggarannya bisa alihkan ke pendidikan peningkatan sumber daya manusia dan peningkatan ekonomi masyarakat.

"Uang yang masuk itu terkoreksi hanya 30 persen hitungan saya. Jadi uang yang masuk ke Pangandaran akhirnya terbawa lagi ke luar oleh apa ya oleh toko modern dan pedagang dari luar Pangandaran," paparnya.

Terkait kegiatan Pekan Kreativitas Seni dan Olah Raga Siswa jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tingkat Kab. Pangandaran yang digelar oleh Dinas Pendidikan, Pemuda Dan Ola Raga Kab. Pangandaran, menurut Jeje sangat bagus untuk memotivasi anak-anak, untuk gratifitas dan inovasi di bidang olahraga dan seni ini merupakan bagian dari peningkatan pendidikan di Kab Pangandaran.

"Dan ini akan kita dorong terus agar di tiap sekolah bisa mengembangkannya karena kemajuan pendidikan itu bukan hanya diukur dari nilai matematika atau lainnya saja tetapi juga satu kesatuan dalam proses pembelajaran itu sendiri. Jafi saya hadir karena ingin mendorong itu," pungkasnya.***
 

Bagikan: