Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Sebagian cerah, 23.2 ° C

SBMPTN Tambah Ketat, Siswa Harus Punya Strategi Jitu

Catur Ratna Wulandari
Direktur Utama Ganesha Operation, Bob Foster, menjelaskan tentang strategi menjelang SBMPTN di acara Meeting on Maximizing Motivation (M3) yang digelar Ganesha Operation di Sasana Budaya Ganesha, Minggu, 24 Maret 2019.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
Direktur Utama Ganesha Operation, Bob Foster, menjelaskan tentang strategi menjelang SBMPTN di acara Meeting on Maximizing Motivation (M3) yang digelar Ganesha Operation di Sasana Budaya Ganesha, Minggu, 24 Maret 2019.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

BANDUNG, (PR).- Persaingan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019 semakin ketat. Calon mahasiswa baru harus punya strategi jitu untuk bisa diterima di jurusan dan perguruan tinggi negeri yang diharapkan.

Direktur Utama Ganesha Operation, Bob Foster, mengatakan, memahami tingkat persaingan SBMPTN menjadi bagian penting untuk persiapan diri para peserta. "Harus mengenali medan pertempuran," kata Bob saat menjadi pembicara di Meeting on Maximizing Motivation (M3) yang digelar Ganesha Operation di Sasana Budaya Ganesha, Minggu, 24 Maret 2019.

Persaingan SBMPTN tak pernah mengendur tiap tahunnya. Tahun 2019, dari 721.326 pendaftar, hanya 17,6 persen saja yang lulus, 82,4 persen lainnya gagal. Tahun 2017, jumlah peserta yang lulus 18,6 persen dari jumlah pendaftar 797.738 orang. Tahun 2018, sebanyak 80,7 persen dari 860.001 pendaftar harus menelan kegagalan.

Jika melihat jumlah peminat pada 2018 dan daya tampung 2019, persaingan SBMPTN 2019 tak kalah ketatnya. Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB, misalnya, hanya bisa menampung 168 mahasiswa, tapi pendaftarnya mencapai 4.804 orang. Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB hanya menampung 96 mahasiswa, sementara pendaftarnya mencapai 4.147 orang.

Hal serupa juga terjadi di Universitas Padjadjaran. Prodi Pendidikan Dokter hanya bisa menampung 125 orang. Tahun lalu peminatnya mencapai 6.513 orang. Ilmu Komunikasi hanya menampung 60 mahasiswa, tapi peminatmya mencapai 5.347 orang.

"Ada ratusan ribu orang yang ingin diterima. Banyak yang gagal karena belum siap dan tak punya strategi," katanya.

Direktur Utama Ganesha Operation, Bob Foster, menjelaskan tentang strategi menjelang SBMPTN di acara Meeting on Maximizing Motivation (M3) yang digelar Ganesha Operation di Sasana Budaya Ganesha, Minggu, 24 Maret 2019.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

Beberapa strategi menghadapi SBMPTN

Bob mengatakan, salah satu strategi adalah memahami sistem dan aturan SBMPTN. Mulai tahun ini, SBMPTN menerapkan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

Jika tahun lalu, peserta memilih jurusan dulu baru ikut tes, mulai tahun ini sebaliknya. Peserta mengikuti UTBK dulu baru kemudian mendaftar SBMPTN untuk memilih prodi dan perguruan tinggi negeri. "Perlu strategi, pemetaan, supaya diterima di tempat yg diinginkan," katanya.

Strategi lainnya, peserta harus mengerjakan soal dalam waktu yang cepat. Pada Tes Potensi Skolastik (TPS), terdapat 80 soal yang harus dikerjakan dalam waktu 120 menit. Setiap soal harus dikerjakan dalam waktu 1,25 menit sampai 1,75 menit saja.

Pada Tes Kemampuan akademik (TKA), peserta pada jurusan sains menghadapi 80 soal dengan waktu 90 menit. Satu soal harus selesai dalam waktu 1,1125 menit. Peserta dari jurusan humaniora harus mengerjakan 100 soal dalam waktu 90 menit. Satu soal harus selesai dalam waktu 0,9 menit.

Bob mengatakan, latihan soal sangat penting untuk melatih kecepatan mengerjakan. "Kalau tidak latihan, lihat soal kaget dulu, sudah berapa menit? Kalau latihan soal, dia tahu apa jawaban yang diinginkan," katanya.

Tahun ini, GO menargetkan 45.000 siswanya bisa masuk perguruan tinggi negeri. Manajer Marketing, Ricko Juriaman, mengatakan, berdasarkan pendataan sampai dengan 23 Maret 2019, 5.972 siswa GO telah diterima di PTN melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Acara M3 ketiga nantinya didesain untuk mengatur strategi. M3 ketiga ini diikuti oleh seluruh siswa GO, dari jenjang SD, SMP, maupun SMA. Kegiatan ini diadakan di seluruh GO di Indonesia. Bandung jadi kota pertama yang menggelar kegiatan ini. Saat ini GO telah tersebar di 266 kota dengan 636 outlet di seluruh Indonesia.***

Bagikan: