Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 28.6 ° C

Indonesia Kekurangan Doktor di Bidang Pertanian

Dhita Seftiawan
PETANI menggarap sawah di Desa Cikasungka, Cikancung, Ka­bupaten Bandung, Rabu, 30 Januari 2019.*/ADE MAMAD/PR
PETANI menggarap sawah di Desa Cikasungka, Cikancung, Ka­bupaten Bandung, Rabu, 30 Januari 2019.*/ADE MAMAD/PR

JAKARTA, (PR).- Pengembangan sumber daya manusia pada sektor pertanian pangan mendapat perhatian utama dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dalam 5 tahun ke depan. Pasalnya, antara kebutuhan dan ketersediaan SDM pada sektor tersebut masih timpang. Jumlah doktor dan guru besar di bidang pertanian pun masih kurang, sekitar 15%. 

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti menuturkan bahwa setidaknya ada 5 pokok permasalahan yang harus segera dicarikan solusinya untuk mengurangi ketimpangan tersebut. Yakni soal luas lahan pertanian, sistem insentif untuk petani, kemampuan SDM, penguasaan lahan yang tidak adil dan ketersediaan SDM di pendidikan tinggi.

Menurut dia, pengaruh revolusi industri 4.0 mentuntut semua kalangan, termasuk petani untuk berubah dan adaptif dengan kemutakhiran teknologi. “Maka dari itu, kita sangat butuh SDM yang mumpuni di bidang pertanian,” ujar Ghufron dalam acara Diskusi Publik Relevansi Pengembangan SDM Iptek dan Dikti Terhadap Pembangunan Nasional Sektor Pertanian Pangan di Auditorium lantai 2 Gedung D Kemenristekdikti, Jakarta, Senin 18 Maret 2019.

Ia menjelaskan, perguruan tinggi berperan penting dalam menghasilkan SDM di sektor pertanian pangan. Dengan demikian, pemerintah dan kampus harus bisa menarik minat mahasiswa untuk menimba ilmu di program studi pertanian. Menurut dia, saat ini prodi pertanian kurang diminati calon mahasiswa baru. 

“Padahal regenerasi petani sangat dibutuhkan. Berdasarkan data BPS tahun 2013, umur petani didominasi oleh usia di atas 45 tahun. Bahkan, jumlah petani merosot secara berkelanjutan dari 36,4 juta pada tahun 2012 menjadi 35,01 juta pada tahun 2016. Jumlah penyuluh pertanian sedikit dibandingkan dengan sebaran jumlah petani. Begitu juga masalah kompetensi yang masih di usaha pertanian subsisten,” ujarnya.

Ia menegaskan, sektor pertanian di pendidikan tinggi masih memiliki banyak tantangan. Salah satunya adalah proporsi SDM bergelar doktor dan guru besar yang masih rendah, termasuk di PTN terbaik nasional. Ia mencontohkan, di IPB baru 17% proporsi SDM bergelar doktor atau guru besar bidang pertanian. “Begitu juga di ITB dan UGM yang presentasenya hanya 13% dan 12%,” katanya.

Rektor Universitas Yarsi, Fasli Jalal menyatakan, untuk menarik minat generasi muda ke sektor pertanian diperlukan role model yang menginspirasi. Peran ini dapat dimulai melalui dosen dan guru SMK pertanian sehingga citra berkarier di sektor pertanian pangan itu juga bermartabat dan menjamin kesuksesan. 

"Ini suatu langkah yang baik, bisa menjadi rujukan bagi sekolah, kampus, Pemda, dan industri. Sudah ada upaya Pemerintah untuk memikirkan jumlah SDM yang diperlukan di bidang pertanian dari hulu hingga hilir,” kata mantan Wakil Menteri Pendidikan itu.

Pada kesempatan tersebut, sejumlah pakar pertanian pangan berkesempatan menjadi panelis. Antara lain Staf Ahli Bappenas Bambang Priambodo, anggota Dewan Pendidikan Tinggi Benyamin Lakitan dan Aman Wirakatakusumah serta sejumlah pejabat eselon II dan III di lingkungan Kemenristekdikti.***

Bagikan: