Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Berawan, 22.4 ° C

Sesepuh Unpad Minta MWA Segera Pilih Rektor Baru

Catur Ratna Wulandari
SESEPUH Unpad yang terdiri dari para guru besar dan profesor berbincang dengan Sekretaris Majelis Wali Amanat Unpad Erri Megantara (kiri), sesuai menyampaikan sikapnya terkait Pemilihan Rektor Unpad, di Sekretariat MWA Unpad, Jalan Cimandiri, Kota Bandung, Kamis, 14 Maret 2019.*/ADE BAYU INDRA/PR
SESEPUH Unpad yang terdiri dari para guru besar dan profesor berbincang dengan Sekretaris Majelis Wali Amanat Unpad Erri Megantara (kiri), sesuai menyampaikan sikapnya terkait Pemilihan Rektor Unpad, di Sekretariat MWA Unpad, Jalan Cimandiri, Kota Bandung, Kamis, 14 Maret 2019.*/ADE BAYU INDRA/PR

BANDUNG, (PR).- Para guru besar emeritus Universitas Padjadjaran meminta Majelis Wali Amanat (MWA) segera memilih Rektor Unpad periode 2019-2024 dari tiga calon yang ada. MWA tak perlu ragu karena memiliki legitimasi untuk menuntaskan pemilihan rektor ini.

"Awalnya karena kegamangan dan keprihatinan orang-orang tua, the old soldiers. Kenapa kok (pemilihan rektor) tidak maju-maju, seolah ada persoalan yang besar," kata Mantan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad Soeganda Prijatna menjelaskan maksud ķedatangan sesepuh Unpad ke Sekretariat MWA di Jalan Cimandiri Bandung, Kamis, 14 Maret 2019.

Menurut dia, puluhan tahun Unpad bisa memutuskan sendiri berbagai hal, termasuk pemiliham rektor, di forum internal. Untuk kali pertama, pemilihan rektor berlangsung alot.

Sejak November 2018 sampai sekarang tak kunjung ada rektor terpilih. Padahal proses pemilihan telah menjaring 8 bakal calon. MWA juga telah menetapkan tiga calon Rektor Unpad, yaitu Aldrin Herwany (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Atip Latipulhayat (Fakultas Hukum), dan Obsatar Sinaga (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik).

"Sudah pemaparan visi misi di mana-mana, dan tidak ada masalah ketika itu," kata Soeganda. Ketiga calon rektor telah memaparkan visi misinya di hadapan guru besar, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan MWA. 

Namun kemudian, sekitar Oktober 2018, berbagai keluhan dan pengaduan masyarakat terkait salah seorang calon datang serentak. Ombudsman dan Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak ikut memberikan pandangannya. Sampai akhirnya MWA membuka jalur pengaduan masyarakat seperti yang disarankan Ombudsman.

Tapi polemik tak kunjung mereda. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menerbitkan surat pemberhentian sementara atas Obsatar Sinaga. Keputusan itu kemudian diadukan oleh Prijana, salah seorang dosen Unpad ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN). Atas aduan itu, KASN berpendapat keputusan menteri itu tidak tepat dan perlu ditinjau kembali. Menteri sampai saat ini belum mencabut keputusannya.

"Kenapa yang harusnya Nov tapi sampai sekarang belum juga diputuskan? Ada masalah apa? Itu yang jadi kekhawatiran kami," tutur Soeganda.

Menurut dia, jika pemilihan diulang, keadaan tak akan berbeda. Akan selalu ada kelemahan dan kekurangan calon yang dibuka ke publik. Oleh sebabnya, para sesepuh berpendapat, pemilihan ini sebaiknya dilanjutkan dari tiga calon yang ada.

"Segeralah ambil keputusan. Jangan mundur maju," ujarnya.

Soeganda mengatakan, jangan sampai pemilihan ini buntu sehingga harus menunjuk pelaksana tugas rektor. "Bayangkan betapa kacaunya, masa Plt rektor melantik mahasiswa, itu tidak boleh terjadi," ujarnya.

Selain Soeganda, pertemuan dengan MWA kemarin dihadiri pula oleh para guru besar yang sudah purnatugas, antara lain Dadi Suryadi, Dadang Suganda, dan Udju Rusdi. Pada kesempatan itu, para sesepuh Unpad ini menyampaikan rekomendasi tertulis yang ditandatangani oleh 20 guru besar emeritus. Salah seorang diantaranya mantan Rektor Unpad Himendra Wargahadibrata.***

Bagikan: