Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Sebagian berawan, 19.7 ° C

Prediksi Penyakit dengan Matematika Epidemiologi

Catur Ratna Wulandari
DOSEN ITB dari Kelompok Keilmuan Matematika Industri dan Keuangan FMIPA, Nuning Nuraini, menjelaskan tentang matematika epidemiologi yang bisa memberi informasi laju penyebaran suatu penyakit, dan lainnya, pada Seri Kuliah Umum FMIPA ITB di Student Centre ITB, Sabtu, 9 Maret 2019.*/CATUR RATNA WULANDARI/PR
DOSEN ITB dari Kelompok Keilmuan Matematika Industri dan Keuangan FMIPA, Nuning Nuraini, menjelaskan tentang matematika epidemiologi yang bisa memberi informasi laju penyebaran suatu penyakit, dan lainnya, pada Seri Kuliah Umum FMIPA ITB di Student Centre ITB, Sabtu, 9 Maret 2019.*/CATUR RATNA WULANDARI/PR

BANDUNG, (PR).- Matematika bisa dimanfaatkan untuk mencegah penyebaran penyakit menular. Dengan menggunakan matematika, epidemiologi bisa memprediksi penyakit jangka panjang dan menilai intervensi yang paling mungkin untuk mengendalikan penyakit itu.

Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) dari Kelompok Keilmuan Matematika Industri dan Keuangan FMIPA, Nuning Nuraini, menjelaskan, matematika epidemiologi merupakan cabang ilmu epidemiologi yang bergantung pada model matematika. Pemodelan dengan persamaan matematika terhadap suatu penyakit bisa memberi informasi, misalnya laju penyebaran, serta apa yang akan terjadi jika dilakukan intervensi tertentu.

Beberapa model yang bisa digunakan antara lain model kompartemen dinamis, model statistik, mikro dan makro simulasi, dll. Metode epidemiologi ini sudah diakui World Health Organization (WHO) sebagai salah satu alat yang cukup ampuh untuk membantu menentukan strategi pencegahan dan pengobatan massal atau individu.

"Kami punya asosiasi yang anggotanya dosen perguruan tinggi di Indonesia yang melakukan ini," ujarnya usai berbicara di Seri Kuliah Umum FMIPA ITB di Student Centre ITB, Sabtu, 9 Maret 2019.

Para dosen peneliti ini terhubung dengan Dinas Kesehatan baik tingkat kota maupun provinsi melalui BMKG yang terlebih dahulu punya kerja sama dengan pemerintah. "Sehingga mereka percaya ini bisa digunakan. Sebaliknya, kalau (dinas kesehatan tidak punya kerja sama dengan BMKG), mereka belum percaya sepenuhnya bahwa matematika bisa membantu," tuturnya.

Penelitian untuk cegah DB

Nyamuk aedes aegypti/DOK. PR

Nuning mengatakan, ia bersama rekan-rekannya pernah melakukan penelitian di Kota Semarang terkait pencegahan penyakit demam berdarah. Dengan matematika epidemiologi, diketahui puncak peningkatan nyamuk penyebab demam berdarah terjadi dua bulan setelah puncak musim hujan. Informasi itu bisa digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan dan menggalakkan kampanye pencegahan demam berdarah menjelang puncak musim hujan.

Nuning menambahkan, matematika epidemiologi ini memerlukan pemahaman patologi sebuah penyakit, supaya bisa dibuat model yang tepat. Selain itu, diperlukan dokumentasi data yang baik terkait penyakit tersebut.

Nuning dan rekan penelitinya saat ini tengah meriset penyebaran demam berdarah di DKI Jakarta. Menurut dia, provinsi itu mempunyai dokumentasi data yang baik.

Nuning menambahkan, agar metode ini bisa ektif, antara peneliti perguruan tinggi perlu duduk bersama dengan pemangku kebijakan untuk menyamakan persepsi. Utamanya beberapa terminologi yang berpengaruh. Misalnya kampanye masif pencegahan demam berdarah yang baru bisa dilakukan pemerintah setelah kejadian luar biasa.

Terminologi itu mensyaratkan kejadian yang dua kali lebih besar di periode waktu yang sama. "Padahal virus tidak semua begitu. Kalau menurut dinkes, mereka bisa kampanye kalau menemukan itu (kejadian luar biasa). Padahal sudah bisa ketahuan ini hati-hati," katanya.

Penelitian dengan metode matematika epidemiologi ini punya beberapa keuntungan. Nuning mengatakan, biaya risetnya lebih murah dengan hasil yang optimal. Selain itu juga lebih aman, sebab penelitian ini tidak memerlukan intervensi tertentu pada sample. "Matematika punya kontribusi menjawab tantangan masa depan, dapat mencegah penyebaran penyakit," ucap Nuning.***

Bagikan: