Pikiran Rakyat
USD Jual 14.603,00 Beli 14.303,00 | Sebagian cerah, 29.2 ° C

ITB Masuk 200 Besar Perguruan Tinggi Terbaik Asia-Pasifik

Catur Ratna Wulandari
ITB/DOK. PR
ITB/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- ITB (Institut Teknologi Bandung) masuk dalam 200 besar perguruan tinggi terbaik Asia-Pasifik yang dirilis Times Higher Education (THE) tahun 2019. Sementara di tingkat Indonesia, ITB masuk perguruan tinggi terbaik kedua.

Rektor ITB Kadarsah Suryadi menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan semua pihak. Terutama kepada pemerintah melalui Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang telah memberikan bantuan dalam berbagai bentuk, baik pendanaan maupun kebijakan yang mendukung world class university

“Kedua, juga terima kasih kepada kawan-kawan internal di ITB karena berkat kerja keras, semua ini bisa terwujud,” kata Kadarsah Suryadi seperti tertuang dalam siaran pers yang dimuat situs itb.ac.id, Sabtu 23 Februari 2019.

Menurut Kadarsah Suryadi, tujuan utama majunya perguruan tinggi bukan hanya diukur dari ranking, melainkan dari perbaikan berkelanjutan.

“Semoga semua perguruan tinggi di Indonesia maju bersama-sama dengan semangat world class university dan continuous improvement," katanya.

THE juga merilis pemeringkatan dalam bidang emerging economies. ITB berada di ranking 164 di Asia-Pasifik. Metodologi pemeringkatan yang digunakan THE mempertimbangkan aspek citations (30%), industry income (2,5%), international outlook (7,5%), research (30%), teaching (30%).

Sementara berdasarkan pemeringkatan QS University Ranking 2019, ITB berada di rangking 359 dunia dan menjadi terbaik kedua di Indonesia.

Pada skala Asia, menurut QS World, ITB berada di ranking 73. Jika dilihat dari ranking by subject, ITB berada di ranking 51-100 untuk Art & Design, dan berdasarkan Graduate Employability Ranking berada di peringkat 301-500.

Capaian yang menantang ITB

Wakil Rektor Bidang Riset Inovasi dan Kemitraan ITB Bambang Riyanto Trilaksono mengatakan, capaian yang diperoleh ini menantang ITB untuk terus meningkatkan peringkatnya baik di tingkat Asia maupun dunia.

Bambang Riyanto Trilaksono menjelaskan, dalam melakukan pemeringkatan, THE dan QS World Ranking memiliki metodologi yang sedikit berbeda, tetapi juga memiliki kesamaan.

Kesamaan yang menonjol adalah produktifitas dan kualitas dari riset dan publikasinya, sitasi, jumlah mahasiswa asing, dan jumalah dosen asing.

Kriteria atau metodologi tersebut dipelajari ITB untuk melakukan inisiatif melaksanakan suatu program yang mendukung pencapaian pada pemeringkatan itu.

"Misalnya, kami melakukan program mengundang mahasiswa dari luar negeri untuk tinggal di ITB selama 2-3 minggu yang instrukturnya dari ITB dan dari luar negeri. Kemudian kami juga mengundang ilmuwan dari luar negeri untuk tinggal di ITB dan melakukan riset bersama dengan dosen ITB," ujarnya.

Dia mengatakan, saat ini ITB juga melakukan hibah riset kolaboratif dengan tiga kampus lain yaitu IPB, UGM, dan Unair.

Riset kolaboratif diharapkan mampu meningkatkan publikasi jurnal Q1 dan meningkatakan sitasi ITB.

"Kami mempunyai berbagai program untuk meningkatkan peringkat kami, tapi yang lebih fundamental daripada tujuan meningkatkan rangking, sebenarnya untuk peningkatan kualitas perguruan tinggi itu sendiri. Jadi, bukan semata-semata untuk ranking tapi ingin meningkatkan kualitas," katanya.***

Bagikan: