Pikiran Rakyat
USD Jual 14.260,00 Beli 14.162,00 | Berawan, 22.2 ° C

Kalangan Swasta Takut Rugi, 81% Dana Riset Masih dari APBN

Dhita Seftiawan
ILMU pengetahuan.*/DOK. PR
ILMU pengetahuan.*/DOK. PR

DEPOK, (PR).- Sekitar 81% dari total anggaran riset sebesar Rp 25,8 triliun masih berasal dari APBN 2019. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab anggaran riset Indonesia masih termasuk yang terendah di Asia. Hanya setara 0.25% dari produk domestik brutto nasional. Sementara anggaran riset Malaysia dan Singapura sudah minimal 2% dari PDB masing-masing negara tersebut.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menuturkan, 70-80% anggaran riset Malaysia dan Singapura bersumber dari swasta. Berbeda jauh dengan Indonesia yang hanya maksimal 10%. Menurut dia, pihak swasta di dalam negeri enggan menggelontorkan dana riset karena takut rugi. "Jika riset yang dibiayai mereka ternyata masih sulit diterapkan di industri secara bisnis, mereka akan rugi. Makanya kualitas dan relevansi hasil riset dengan dunia industri harus ditingkatkan," ujar Nasir, di Depok, Jumat 22 Februari 2019.

Ia mengatakan, selain meningkatkan kualitas riset, pihak swasta juga tak mendapat insentif berupa tax deduction dari pemerintah jika mau membiayai sebuah riset. Menurut dia, di Malaysia dan Singapura, pihak industri yang menggelontorkan dana riset mendapat keringanan pajak. "Bahkan triple tax deduction. Ini saya sudah usulkan kepada Menkeu agar kita juga memberikan insentif pajak. Bisa double tax deduction. Jadi, pihak swasta tak akan rugi kalau hasil risetnya tak terpakai untuk bisnis," katanya.

Ia menuturkan, insentif pajak sudah lazim diterapkan di seluruh negara maju. Insentif tersebut menjadi kebijakan yang mampu mempercepat pertumbuhan riset pada bidang prioritas seperti energi, pariwisata dan pertanian. "Sudah dari tahun lalu saya usulkan, tapi kan kewenangannya ada di Kemenkeu. Dari insentif pajak itu memang memungkinkan penerimaan pajak negara jadi berkurang. Tapi, jika pajak itu untuk riset, saya kira tidak apa-apa," katanya.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, Dimyati mengatakan bahwa Kemenristekdikti, Kementerian Keuangan dan Badan Kebijakan Fiskal sedang menyusun aturan insentif pajak tersebut. Menurut dia, insentif pajak bagi perusahaan yang melakukan penelitian sudah diterapkan di sejumlah negara seperti Korea Selatan dan Amerika Serikat.

“Double tax deduction pada intinya memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang melakukan penelitian. Tujuannya untuk mendorong peran serta sektor swasta melakukan riset dan pengembangan lebih banyak lagi. Mengingat kontribusi sektor swasta yang masih sangat kecil dibandingkan dengan negara-negara lain,” kata Dimyati.

Ia mengatakan, percepatan riset dalam negeri terutama pada bidang energi menjadi prioritas. Kalangan akademisi, bisnis dan pengusaha harus bersinergi dan bekerja sama lebih baik. Ia menyatakan, keterbatasan fiskal yang dimiliki negara membuat peran pengusahan menjadi strategis dalam upaya memajukan riset nasional.

Selain insentif pajak, Kemenristekdikti juga mengeluarkan beberapa peraturan untuk mendukung iklim percepatan riset dan pengembangan. Di antaranya rencana induk riset nasional (RIRN), penelitian berbasis output, dan penelitian “multiyears”.

“Jumlah dana riset di Indonesia mayoritas masih berasal dari Pemerintah atau APBN, berbanding terbalik dengan negara-negara lain seperti Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, China, Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam, yang mayoritas dana risetnya berasal dari sektor bisnis,” ujarnya.

Dimyati juga menegaskan pentingnya kualitas sumber daya manusia. Bonus demografi pada 2030 harus disambut dengan mempersiapkan beragam kebijakan yang mendukung berkembangnya iklim riset. “Kita harus memanfaatkan ‘golden momentum’ dari keuntungan bonus demografi untuk percepatan riset dalam negeri terutama di bidang energi dengan support dari sektor swasta. Kalangan akademisi, bisnis, dan pemerintah harus berjamaah dalam melakukan riset agar output yang dihasilkan lebih optimal,” katanya.***

Bagikan: