Pikiran Rakyat
USD Jual 14.353,00 Beli 14.053,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

Diawali di Daerah Rawan Bencana, Pendidikan Kebencanaan Mulai Digelar

Dhita Seftiawan
PRESIDEN Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan) meninjau simulasi terjadinya gempa bumi saat menghadiri pelaksanaan Program Tagana Masuk Sekolah dan Kampung Siaga Bencana di SDN Panimbang Jaya 1, Pandeglang, Banten, Senin 18 Februari 2019/ANTARA FOTO
PRESIDEN Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan) meninjau simulasi terjadinya gempa bumi saat menghadiri pelaksanaan Program Tagana Masuk Sekolah dan Kampung Siaga Bencana di SDN Panimbang Jaya 1, Pandeglang, Banten, Senin 18 Februari 2019/ANTARA FOTO

PANDEGLANG, (PR).- Presiden RI Joko Widodo mengatakan pendidikan mitigasi kebencanaan akan terus dilakukan di semua daerah. Pendidikan tersebut berupa praktik dan teori yang melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Tentara Nasional Indonesia serta pemerintah daerah.

Untuk saat ini, pendidikan dan pelatihan kebencanaan difokuskan ke daerah rawan bencana seperti Provinsi Banten. Ia menegaskan, untuk meminimalisasi jumlah korban, mitigasi kebencanaan menjadi sangat penting untuk dipelajari siswa sekolah dasar dan menengah. Pemerintah juga terus memperbaiki sistem penggulangan bencana seperti dengan menambah alat pendeteksi tsunami.

Ia menjelaskan, sebagai negara yang dikelilingi “cincin api”, banyak daerah yang rawan dilanda gempa, banjir dan bencana alam lainnya. Menurut dia, mengedukasi masyarakat tentang kebencanaan harus rutin digelar karena terjadinya bencana alam tak dapat diprediksi.

“Jangan sampai kita tidak siap. Kita enggak ngerti apa yang harus kita lakukan sehingga korban menjadi banyak. Tapi apapun itu harus tetap kita syukuri cobaan ujian dari Allah yang diberikan kepada kita bangsa Indonesia,” kata Jokowi saat memberikan sambutan pada acara kegiatan Peningkatan Kesiapsiagaan Masyarakat Melalui Taruna Siaga Bencana (Tagana) Masuk Sekolah dan Kampung Siaga Bencana, di Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten, Senin 18 Februari 2019.

Ia menuturkan, sosialisasi dan simulasi tanggap bencana dapat memberikan pelajaran dan motivasi kepada siswa. Jokowi mengaku senang melihat para siswa yang tanggap ketika mengikuti simulasi bencana. Ia mengatakan, yang paling penting pendidikan kebencanaan ini telah dimulai.

”Tadi kami tes anak yang sudah, saya kira nangkepnya cepat dan bisa mempraktikkan. Ini akan dilakukan di semua provinsi, yang rawan bencana. Diutamakan, diprioritaskan yang rawan bencana,” katanya.

Yang dipelajari siswa soal tanggap bencana

Dalam simulasi tersebut, para siswa dilatih untuk tanggap dalam merespons sirine tanda bencana berbunyi. Begitu sirine dibunyikan, mereka tampak tertib mengikuti semua instruksi dan berkumpul di titik kumpul yang telah ditentukan.

Sebelumnya, Mendikbud Muhadjir Effendy menjelaskan, pendidikan kebencanaan yang akan diimplementasikan di semua sekolah jenjang dasar dan menengah terbagi tiga bagian. Yakni, pembekalan informasi dan teori, teknik antisipasi, dan penanganan bencana. Dalam pendidikan tersebut, Kemendikbud menargetkan semua siswa melakukan simulasi langsung di lapangan minimal sebanyak 2 kali dalam setahun.

Ia mengatakan, simulasi dari program tersebut akan segera digelar dengan melibatkan guru dan organisasi intra sekolah seperti Korps Sukarelawan Sekolah, Palang Merah Sekolah, dan Pramuka. Modul pendidikan kebencanaan tersebut sudah rampung dibuat pada akhir Januari 2019. Modul komprehensif itu merupakan hasil kajian bersama dengan Kemensos dan BNPB terkait standar pelatihan kebencanaan di sekolah. “Dalam waktu dekat akan ada simulasi nasional kebencanaan secara serempak,” ujar Muhadjir. ***

Bagikan: