Pikiran Rakyat
USD Jual 14.034,00 Beli 14.132,00 | Berawan, 22.8 ° C

Dinilai Strategis, Indonesia Perlu Kembangkan Industri Chip

Catur Ratna Wulandari
GURU Besar Sekolah Tinggi Elektronika dan Informatika ITB, Trio Adiono.* DOK PRIBADI
GURU Besar Sekolah Tinggi Elektronika dan Informatika ITB, Trio Adiono.* DOK PRIBADI

BANDUNG, (PR).- Industri chip di Indonesia belum berkembang. Padahal memiliki peran strategis sebagai basis dan platform dari pengembangan berbagai jenis inovasi.

Guru Besar Sekolah Tinggi Elektronika dan Informatika ITB, Trio Adiono menjelaskan, industri elektronika di Indonesia masih berbasis industri manufaktur. Peran serta teknologi dan nilai tambah masih sangat minim. Ekosistem industri elektronika di Indonesia juga belum terbentuk. Dampaknya, biaya pengembangan dan produksi produk menjadi sangat tinggi.

"Value chain industri elektronika Indonesia masih hanya di hilir, yaitu manufaktur, system integrator dan reta. Sementara di hulu, yaitu industri chip atau komponen masih belum berkembang," tuturnya pada Orasi Ilmiah Guru Besar ITB di Aula Barat ITB, Sabtu 9 Februari 2019.

Menurut Trio, infrastruktur pengembangan industri chip masih terbatas. Pendanaan sektor industri elektronika juga masih rendah karena tingginya risiko teknologi dan ketatnya persaingan dengan produk impor. Jumlah tenaga ahli dan tenaga kerja di bidang ini juga masih sedikit.

Di negara-negara maju, pemerintahnya terlibat aktif mendukung kemajuan industri elektronikanya. Misalnya dengan memberi berbagai kebijakan insentif, dukungan dana pemasaran, bantuan regulasi, dan penyediaan fasilitas seperti technopark dan infrastruktur lainnya. Dengan berbagai upaya itu, tak heran jika sektor industri elektronikanya berkontribusi signifikan pada GDP. Contohnya industri elektronika di Jepang, Korea, dan China. 

Kontribusi industri elektronika pada ekspor Korea mencapai 25 persen. Sementara di Indonesia, ekspor industri komputer dan barang elektronik baru berkontribusi sekitar 2,08 persen pada PDB.

Trio memaparkan, pengembangan industri chip di Indonesia bisa dilakukan dengan mengembangkan produk berteknologi tinggi dan produk subtitusinya. Dalam hal ini, Trio bersama Pusat Mikroelektronika ITB telah menghasilkan chipset 4G untuk aplikasi User Equipment (UE) dan Base Station (BTS). 

Base Station 4G yang diberi nama InfiniteBe (dibaca: Infin-iteBe) telah diluncurkan pekan lalu. Teknologi ini mampu mengatasi permasalahan kapasitas, jaringan berkecepatan tinggi di daerah-daerah padat, baik di dalam maupun di luar ruangan. Sementara produk subtitusi yang dihasilkan ialah chip smartcard. Produk ini dikembangkan dalam bentuk simcard 4G dan smart card.

Capaian ini membangun optimisme kemampuan anak banga membangun industri chip Indonesia yang akan menguatkan industri nasional. Namun demikian, berbagai usaha untuk membangun industri elektronika harus terus dilakukan. Ekosistem industri elektronika harus dibangun, pemerintah perlu membuat regulasi yang meningkatkan daya saing produk lokal.

"Sebagai institusi pendidikan teknik yang menampung putra-putri terbaik Indonesia, ITB harus di depan dan mengambil peran besar dalam usaha ini," ucap Trio.***

Bagikan: