Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 29.4 ° C

Ilmuwan Terbaik Inggris dan Indonesia Kolaborasi Riset Bencana Alam

Dhita Seftiawan
PRESIDEN Joko Widodo (ketiga kanan) meninjau peralatan milik BNPB usai membuka Rakornas Penanggulangan Bencana 2019 di Surabaya, Sabtu 2 Februari 2019./ANTARA FOTO
PRESIDEN Joko Widodo (ketiga kanan) meninjau peralatan milik BNPB usai membuka Rakornas Penanggulangan Bencana 2019 di Surabaya, Sabtu 2 Februari 2019./ANTARA FOTO

JAKARTA, (PR).- Indonesia-Inggris kerja sama riset kebencanaan senilai Rp 31 miliar. Fokus riset di antaranya terkait penanggulangan bencana banjir dan longsor. Hasil dari riset tersebut diharapkan dapat mengurangi kerugian materil dan menekan timbulnya korban jiwa lebih banyak.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menuturkan, riset kebencanaan yang melibatkan ilmuwan terbaik dari Inggris sangat pentik karena Indonesia menjadi satu dari sedikit negara yang sering dilanda bencana alam. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sepanjang 2018, terjadi lebih dari 2.564 bencana alam di Indonesia.

“Oleh karena itu pemerintah menjadikan penelitian di bidang kebencanaan sebagai salah satu program utama. Sebagai upaya memetakan, mencari solusi dan mencegah jatuhnya korban akibat bencana alam yang terjadi,” ujar Nasir di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Jumat 8 Februari 2019.

Ia mengatakan, kerja sama tersebut melibatkan Departemen Bisnis, Energi dan Strategi Industri Inggris melalui Newton Fund untuk mendanai penelitian bidang hidrometeorologi. Tiga penelitian terbaik di bidang kebencanaan hidrometeorologi mendapatkan Rp 31 miliar untuk pendanaan riset dalam jangka waktu 3 tahun. Satu peneliti Indonesia akan berkolaborasi dengan satu peneliti Inggris untuk melakukan penelitian kebencanaan.

"Risetnya ini dilakukan Kemenristekdikti yang berkolaborasi dengan UK dengan Newton Fund maupun (dengan dana) dari Indonesia. Setelah itu mengedukasi pada mahasiswa atau masyarakat kampus. Masyarakat kampus inilah yang mengedukasi masyarakat nantinya,” ujarnya.

Indonesia kerap dilanda bencana karena berada di ring of fire (lingkar cincin api). Nasir menambahkan,Kemenristekdikti dan peneliti Indonesia juga telah menginisiasi kerja sama riset kebencanaan gempa bumi, tsunami, asap, dan bencana alam lainnya dengan Jepang, Amerika Serikat dan Perancis.

Prioritas

Duta Besar Kerajaan Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste Moazzam Malik menuturkan, skema kerja sama ini dapat menghasilkan penelitian yang berdampak besar pada penanggulangan bencana banjir. Menurut dia, Indonesia-Inggris sama-sama diuntungkan.

"Bencana banjir dan longsor tidak hanya mengancam keberlangsungan hidup masyarakat, namun juga perkembangan ekonomi Indonesia. Ilmuwan terbaik Inggris dan Indonesia akan bekerja sama saling belajar agar bisa membuat suatu perubahan besar serta menginspirasi generasi ilmuwan muda berikutnya," katanya.

Ia menyampaikan pemerintah Inggris bangga dapat berkolaborasi dengan Indonesia dalam mengembangkan penelitian dan inovasi terkait kebencanaan. "Bidang sains dan riset Inggris menempati posisi kedua dunia, 54 persen hasil penelitiannya masuk ke dalam kategori terbaik dunia. Hasil riset Inggris dikutip lebih banyak, bila dibandingkan dengan hasil riset negara lainnya. Kami bangga bisa bermitra dengan ilmuwan di Indonesia serta berkontribusi membangun Indonesia yang lebih aman, lebih makmur dan lebih unggul,” ujarnya

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati menyatakan Kemenristekdikti membuka kesempatan kolaborasi dengan negara lain dalam bidang riset selama mendukung Prioritas Riset Nasional 2020-2024 berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 38 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional Tahun 2017-2045.

“Kami harap ketiga riset yang dipilih ini akan membangun kekayaan ilmu pengetahuan bidang kebencanaan, di mana kesiapan terhadap ancaman bencana di Indonesia dapat lahir dan berkembang dari penelitian-penelitian ini,” ungkap Dimyati. ***

Bagikan: