Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 29.4 ° C

Mahasiswa MBA ITB Bantu Cari Solusi Kendala Bisnis UKM Jabar Lewat Coaching Clinic

Catur Ratna Wulandari
DIREKTUR Thegreaterhub SBM ITB Dina Dellyana memaparkan sambutannya, saat membuka acara "Coaching Clinic UKM Jabar 2019", di Thegreaterhub Gelap Nyawang Section, Jalan Gelap Nyawang, Kota Bandung, Senin 4 Februari 2019. Acara yang berlangsung hingga Mei 2019 itu, sebagai salah satu upaya mempertemukan UKM dengan mahasiswa MBA ITB yang akan menjadi "coach" untuk meningkatkan potensi UKM di Jabar.* ADE BAYU INDRA/PR
DIREKTUR Thegreaterhub SBM ITB Dina Dellyana memaparkan sambutannya, saat membuka acara "Coaching Clinic UKM Jabar 2019", di Thegreaterhub Gelap Nyawang Section, Jalan Gelap Nyawang, Kota Bandung, Senin 4 Februari 2019. Acara yang berlangsung hingga Mei 2019 itu, sebagai salah satu upaya mempertemukan UKM dengan mahasiswa MBA ITB yang akan menjadi "coach" untuk meningkatkan potensi UKM di Jabar.* ADE BAYU INDRA/PR

BANDUNG, (PR).- Mahasiswa Master of Business Administration (MBA) Program School of Business and Management (SBM) ITB terlibat dalam pelatihan sekitar 125 pelaku usaha kecil dan menengah di Jawa Barat lewat program Coaching Clinic. Mahasiswa akan mendampingi pelaku usaha ini untuk mencari solusi atas persoalan bisnis yang mereka hadapi.

Program Coaching Clinic ini dikembangkan oleh perogram MBA SBM ITB bersama dengan Thegreaterhub, inkubator bisnis milik SBM ITB. Direktur Thegreaterhub SBM ITB, Dina Dellyana menjelaskan, program ini melibatkan sekitar 60 mahasiswa MBA ITB tingkat akhir sebagai pelatih (coach). Selain itu juga melibatkan sekitar 55 orang pelatih sukarelawan yang berasal dari mahasiswa maupun alumni MBA ITB.

"Mereka ini punya kemampuan untuk menganalisa masalah-masalah yang dihadapi UKM," kata Dina kepada wartawan di Thegreaterhub SBM ITB, Senin 4 Februari 2019.

Sementara itu, saat ini sudah ada 124 pelaku UKM yang mendaftarkan diri mengikuti program ini. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jabar, seperti Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Garut, Bekasi, dan lainnya. Usaha yang mereka geluti beragam, seperti fashion, kerajinan tangan, makanan, kuliner, agrikultur, dan teknologi informasi. Selanjutnya dalam program ini mereka disebut dengan coachee.

Dina mengatakan, coach akan menyediakan pendampingan di empat bidang, yaitu manajemen pemasaran (terkait pengembangan produk dan pengemasan, pemasaran digital, dan sebagainya), manajemen operasional (terkait manajemen produksi, supply chain management, quality control, dan sebagainya), manajemen keuangan (terkait cashflow, laba rugi, analisa keuangan, dan sebagainya), dan manajemen sumber daya manusia (terkait penggajian, pengukuran indikator pencapaian kinerja, alokasi SDM, dan sebagainya).

Pada pelaksanaannya, para coach akan menyediakan diri untuk sesi konsultasi yang dilaksanakan setiap Senin-Jumat pukul 15.00-17.00 WIB di Thegraterhub SBM ITB. Coachee bisa datang dan membahas berbagai persoalan yang dihadapi bersama coach di sana.

"Kalau persoalannya sederhana bisa selesai di sana. Tapi kalau persoalannya kompleks, perlu beberapa kali pertemuan dan akan ada evaluasi setiap Jumat. Nanti juga akan ada dosen pendamping yang dilibatkan," tutur Dina.

Ia menambahkan, coaching clinic ini akan berlangsung selama 14 minggu sampai dengan 30 April 2019. Coachee tidak dipungut biaya apapun. Mahasiswa yang terlibat sebagai coach akan diberi sertifikat sebagai coach dan menjadi penulis di buku yang akan menjadi salah satu hasil program ini. 

"Output program ini juga berupa buku yang isinya persoalan apa saja yang masih dihadapi oleh UKM di Jabar. Buku ini nantinya bisa bebas diunduh," kata Dina.

Coaching Clinic ini, kata Dina, tidak bermaksud memberi solusi instan atas persoalan yang dihadapi UKM. Melainkan menyediakan berbagai instrumen untuk mengurai persoalan itu. "Yang harus dilakukan coachee ialah menceritakan masalahnya dan mengajukan berbagai pertanyaan," ujarnya.

Direktur MBA ITB Subiakto Sukarno menambahkan, mahasiswa yang terlibat sebagai coach merupakan mahasiwa yang memang setelah lulus dipersiapkan untuk menjadi pebisnis. Melalui program ini, mereka bisa mendekatkan teori-teori yang sudah didapatkan dengan praktik di lapangan. "UKM juga akan mendapatkan sesuatu. Mudah-mudahan cara ini berhasil," ujarnya.

Ia mengatakan, persoalan yang banyak dihadapi UKM terkait manajemen keuangan. "Mereka merasa permintaan banyak, penjualan bagus tapi uangnya tidak ada. Seringkali mereka membeli bahan terlalu banyak," tuturnya.

Salah seorang pelaku usaha dari Bekasi, Riantama Suktana Faudzan mengatakan, ketertarikannya mengikuti program ini untuk mendapatkan ilmu baru dan berkonsultasi soal masalah bisnis makanan alahannya. Dengan 15 pegawai, ia mengolah mangrove menjadi dodol dan kerupuk. Ia juga mempunyai usaha katering nasi bebek. Selama ini ia tak punya teman bicara yang membahas soal bisnisnya. "Apalagi SDM yang ada masih belum mengerti tentang manajemen," katanya.

Ia mengaku terkendala dengan jumlah bahan baku mangrove yang terbatas. Selain itu juga terkendala pasar yang belum ramah terhadap produk UKM.***

Tags
Bagikan: