Pikiran Rakyat
USD Jual 14.353,00 Beli 14.053,00 | Cerah berawan, 27 ° C

Siswa Perlu Informasi Pendidikan Tinggi sejak Dini

Catur Ratna Wulandari
ILUSTRASI pendidikan.*/REUTERS
ILUSTRASI pendidikan.*/REUTERS

BANDUNG, (PR).- Siswa memerlukan informasi tentang pendidikan tinggi sedini mungkin. Agar pemilihan perguruan tinggi dan jurusan yang dipilih benar-benar didasarkan pada keiginan siswa.

"Informasinya seawal mungkin, soalnya kalau sudah kelas 12 sudah genting," kata Amatul Jannah, siswa kelas 11 SMAN 20 Bandung ditemui di sela-sela acara Education Expo di SMAN 20 Bandung, Rabu 9 Januari 2019.

Ia menaruh minat pada politik internasional. Maka itu Amatul berencana memilih jurusan hubungan internasional.

Meski baru akan mendaftar ke perguruan tinggi tahun depan, ia ingin mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mulai sekarang. Hal yang sama juga disampaikan temannya, Sara Emaninta.

Bagi Sara, penting untuk mengetahui apa saja yang akan dipelajari di jurusan yang ia bidik. "Saya ingin masuk Ilmu Kebumian ITB karena saya suka ilmu bumi. Saya ingin memastikan apa saja yang akan saya pelajari di sana," katanya.

Sementara itu, Irham M. Insani punya pendekatan yang bereda. Siswa kelas 11 ini memilih jurusan di perguruan tinggi berdasar pada profesi yang ingin ia geluti nantinya.

"Saya ingin jadi diplomat. Makanya saya ingin sekolah jurusan hubungan internasional," ujar Irham.

Ia tak mematok harus di perguruan tinggi negeri. Ia justru sudah punya incaran perguruan tinggi swasta yang mempunyai reputasi bagus di jurusan hubungan internasional.

Baginya, mencapai tujuan sebagai diplomat lebih penting ketimbang menjadikan perguruan tinggi tertentu atau jurusan tertentu sebagai tujuan. "Tidak masalah swasta, malah yang saya tahu di sana yang terbaik hubungan internasionalnya," katanya.

Meski setiap perguruan tinggi mempunyai website juga media sosial yang memberikan informasi tentang kegiatan belajar, para calon mahasiswa tetap memerlukan pameran pendidikan semacam ini. "Kalau bertemu langsung itu lebih puas, bisa bertanya langsung," kata Irham.

Pertanyaan yang paling sering diajukan para calon mahasiswa ini ialah kiat-kiat agar bisa diterima di jurusan yang diinginkan. "Bisa tanya langsung dengan yang sudah diterima di sana, bagaimana caranya biar diterima," katanya.

Angka partisipasi kasar pendidikan tinggi rendah

Education Expo yang digelar SMAN 20 Bandung ini merupakan penyelenggaraan keempat. Tahun ini diikuti lebih dari 40 peserta pameran, yang sekitar 36 diantaranya merupakan perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.

Beberapa perguruan tinggi negeri peserta pameran berasal dari luar Jawa Barat. Data Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menyebutkan, Angka Partisipasi Kasar pendidikan tinggi pada 2018 sebesar 34,58 persen.

Artinya dari 100 lulusan SMA, tak lebih dari 34 orang saja yang melanjutkan ke pendidikan tinggi. Angka itu sudah membaik dibanding tahun sebelumnya, yakni 33,37 persen. 

Kepala Sekolah SMAN 20 Bandung Yeni Gantini mengatakan, siswa perlu mendapat wawasan dan informasi yang benar terkait pendidikan tinggi. "Apalagi sekarang masuk perguruan tinggi itu sebelum UN dimulai, tidak seperti tahun lalu," ujarnya.

Ia berharap, 75 persen lulusan SMAN 20 Bandung bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Dewi Sartika mengatakan, penting bagi siswa untuk mengenali potensi dan bakatnya masing-masing. Sehingga mereka bisa membuat rencana selepas menyelesaikan pendidikan di SMA. 

"Ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi, ada yang lewat kursus berikutnya, tidak masalah. Yang penting percaya diri, bahagia, dan merasa yakin dengan kemandiriannya jadi bisa sukses," tutur dia.***

 

Bagikan: