Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Cerah berawan, 26.8 ° C

Politeknik Jadi Andalan untuk Hadapi Bonus Demografi

Dhita Seftiawan
Perkuliahan.*/DOK. PR
Perkuliahan.*/DOK. PR

MADIUN, (PR).- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sangat mengandalkan politeknik untuk menyambut bonus demografi 2030. Kendati demikian, hingga saat ini, pamor politeknik masih kalah dibandingkan dengan perguruan tinggi umum. Hal tersebut membuat pemerintah harus bekerja lebih keras agar minat masyarakat untuk sekolah di politeknik meningkat setiap tahun.

Menristekdikti Mohamad Nasir menyatakan, kompetensi lulusan politeknik sangat dibutuhkan industri masa depan. Terutama untuk program studi yang serumpun dengan science, technology, enggineering dan mathematics (STEM). Berbeda dengan pendidikan tinggi biasa, para mahasiswa politeknik lebih banyak praktik langsung di lapangan daripada belajar teori.

"Itu yang membuat politeknik unggul. Lulusannya lebih siap diserap dunia usaha dan industri. Nanti politeknik harus menjadi program nasional untuk mempercepat kebutuhan tenaga kerja Indonesia sesuai dengan bonus demografi. Kalau tidak dimanfaatkan dengan baik akan menjadi ancaman," kata Nasir dalam kuliah umum di Politeknik Negeri Madiun (PNM), Kota Madiun, Jawa Timur, Rabu 9 Januari 2019.

Ia mengatakan, sebagai program prioritas, Kemenristekdikti menargetkan akan menambah dua kali lipat jumlah politeknik hingga 2024. Saat ini, jumlah politeknik hanya 15% dari total sekitar 4.500 perguruan tinggi. Nasir menegaskan, selain menambah kampusnya, dosen politeknik juga harus dielaborasi dengan praktisi. "Dosennya 50 persen dari akademisi dan 50 persen dari praktisi industri. Dosen dari praktisi minimal harus 5 tahun sudah menjadi ahli di bidangnya. Itu dilakukan untuk meningkatkan kompetensi lulusan politeknik sehingga benar-benar siap diserap industri begitu lulus kuliah," ujarnya.

Revitalisasi pendidikan tinggi vokasi berjalan sejak 2015. Selama ini, ada sebanyak 15 politeknik yang menjadi prioritas revitalisasi. Antara lain, Politeknik Negeri Madiun, Politeknik Perkapalan Surabaya dan Politeknik Bandung. Nasir menjelaskan, setiap politeknik tersebut memiliki keunggulan masing-masing. "Seperti di PNM, prodi yang kami dorong betul adalah perkeretaapian. Karena di Madiun ini ada PT INKA, jadi bisa saling membantu. Industri menyediakan lapangan pekerjaannya, kampus menyediakan SDM dan risetnya," ujarnya.

Direktur PNM Fajar Subkhan menuturkan, prodi perkeretaapian dibuka sejak 2018. Sebanyak 4 dari 10 dosennya berasal dari PT INKA. Menurut dia, saat dibuka, peminat prodi tersebut langsung membludak. "Tapi karena daya tampung kursi dan kesiapan dosen, yang diterima hanya 44 mahasiswa dulu. Saya berharap, Kemenristekdikti terus mendorong program revitalisasi ini terus membaik," ucapnya.

Peminat

Masih minimnya peminat ke politeknik tak sebanding dengan jumlah serapan lulusannya terhadap dunia kerja terus meningkat. Direktur Jenderal Kelembagaan Kemenristekdikti Patdono Suwignjo mengakui, pada tahun depan, upaya pemerintah dalam membangun citra dan kualitas politeknik harus lebih keras agar bisa semakin dipercaya masyarakat.

Pasalnya, ucap Patdono, peran politeknik sangat strategis dan menjadi tulang punggung pemerintah dalam mencetak sumber daya manusia terampil, siap kerja dan berkualitas. Menurut dia, revitalisasi pendidikan vokasi diyakini menjadi satu dari sekian banyak solusi untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia di tingkat global.  

Ia mengatakan, program peningkatan kualitas politeknik diawali dengan penyelarasan kurikulum berbasis industri yang disesuaikan dengan tantangan revolusi industri 4.0. "Dengan cara tersebut, pemerintah berharap para lulusan politeknik memiliki berbagai sertifikat kompetensi di bidangnya masing-masing," kata Patdono.***

Bagikan: