Pikiran Rakyat
USD Jual 14.353,00 Beli 14.053,00 | Cerah berawan, 27 ° C

Mengenal Awan Cumulonimbus dan Bahayanya

Tim Pikiran Rakyat
AWAN hitam yang menggelayut di atas Kota Bandung difoto dari ketinggian di Kabupaten Bandung, Rabu 21 Februari 2018./ARIF HIDAYAH/PR
AWAN hitam yang menggelayut di atas Kota Bandung difoto dari ketinggian di Kabupaten Bandung, Rabu 21 Februari 2018./ARIF HIDAYAH/PR

PUBLIK dikejutkan dengan penampakan awan cumulonimbus di langit Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa 1 Januari 2019. Bagaimana awan tersebut bisa tercipta, dan benarkah kehadirannya jadi sebuah pertanda bencana alam?

Ada banyak jenis awan. Jenis awan ditentukan oleh ketinggiannya, yaitu awan tinggi, awan tengah, awan rendah, dan awan tengah rendah. Awan tinggi berada di ketinggian 10.000 dan 25.000 kaki (3.000 dan 8.000 m) di daerah kutub, 16.500 dan 40.000 kaki (5.000 m dan 12.000 m) di daerah beriklim sedang, 20.000 dan 60.000 kaki (6.000 dan 18.000 m) di daerah tropis. 

Awan tengah cenderung terbentuk pada ketinggian 6.500 kaki (2.000 m), tetapi dapat juga terbentuk di ketinggian sampai 13.000 kaki (4.000 m), 23.000 kaki (7.000 m) atau 25.000 kaki (8.000 m) bergantung pada daerah. Umumnya, kata Didi, semakin lebih hangat iklim, semakin tinggi dasar awan. The World Meterological Organisastion menyebut awan ini nimbostratus dan mengklasifikasikan awan ini sebagai awan menengah yang dapat mengentalkan ke dalam rentang ketinggian rendah selama hujan.

Awan rendah ditemukan di permukaan hingga 6.500 kaki (2.000 m) dan termasuk awan stratus genus. Bila awan ini kontak de­ngan tanah, disebut kabut. Meskipun tidak semua bentuk kabut berasal dari stratus. Sementara itu, awan tengah rendah berada pada 10.000 kaki (3.000 m). Cumulonimbus biasanya bentuk rentang ketinggian rendah ini, tetapi dasar akan naik ke bagian bawah kisaran menengah saat kondisi kelembapan relatif sangat rendah.

AWAN hitam menggelayut di atas Monumen Perjuangan Rakyat Jabar, Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung, Senin 20 November 2017./ADE BAYU INDRA/PR

Cumulonimbus dan jenis awan lainnya

Berdasarkan jenisnya, awan ada tiga, awan cummulus, awan stratus, dan awan cirus. Awan cummulus yaitu awan yang ber­gumpal dan bentuk dasarnya horizontal. Awan stratus yaitu awan tipis yang tersebar luas dan menutupi langit secara merata. Awan cirus yaitu awan yang berdiri sendiri, halus, dan ber­serat sering terdapat kristal es tetapi tidak menimbulkan hujan.

Awan memang punya bentuk yang berbeda-beda. Awan cu­mulonimbus tergolong pada awan rendah, tetapi berbahaya. Awan ini berada di ketinggian rendah, gumpalannya sangat be­sar. Lebarnya bisa mencapai 1-10 km dan tingginya bisa mencapai 10-17.000 km. Awan cumulonimbus mendominasi wilayah Indonesia. Wilayah Indonesia termasuk wilayah dengan banyak uap air, bila musim hujan uap air ini akan bertambah banyak lagi. 

Awan cb sifatnya berada di ketinggian rendah dengan gum­pal­an sangat besar dan umumnya berwarna gelap. Awan cb sa­ngat berbahaya karena mengandung arus listrik disertai golak­an udara sangat dahsyat. Di dalam awannya sendiri dapat terjadi badai yang sangat hebat. 

Bahayanya, bila intensitas awan cb sangat tinggi, pada bagian atasnya terdapat es dan dapat menjadi "icing". Di dalamnya da­pat terjadi awan badai, yaitu awan badai bawah (down burst) atau awan badai besar (macro burst). Macro burst dapat menghasilkan Micro burst.

Yang bahaya lagi dalam awan cb kerap terdapat petir sehingga dapat mengakibatkan turbulensi pada pesawat. Awan cb di darat biasa terjadi pada siang sampai sore hari, sedangkan di lautan terjadi pada malam hari. Fase hidup awan cb hanya mencapai 1-3 hari lamanya. 

"Seharusnya, awan cb dapat terdeteksi radar. Bila dari depan, awan cb bisa kelihatan tetapi dari belakang tidak bisa kelihatan. Inilah makanya pilot akan menghindari awan ini karena kalau pesawat masuk ke awan cb bisa fatal akibatnya," ucap Didi Sa­tiadi. Didi diwawancara PR, saat menjabat Kepala Bidang Pemodelan Atmosfer Lapan, 2015.

Keberadaan awan sangat memengaruhi kondisi cuaca. Kon­disi cuaca juga berpenga­ruh pada pertanian, penerbangan, dan pelayaran. Pada pertanian dapat mengakibatkan gagal tanam maupun gagal panen. Sayuran dapat cepat membusuk dst.

Kondisi cuaca seperti ini bila dibandingkan dengan 3 tahun ke belakang, terjadi perubah­an suhu dan curat hujan. Hasil si­mulasinya menurut Didi, memperlihatkan terjadinya pening­katan curah hujan, tetapi musim hujannya lebih pendek. Se­ba­liknya, musim kemarau jauh lebih lama sehingga cuaca ini te­rasa sangat ekstrem. Kalau hujan, deras sekali. Tapi kalau kemarau, panasnya juga sangat luar biasa.

Bila dikaitkan dengan pemanasan global, terjadi fase hiatus. Fase ketika suhu meng­alami flat (tetap) secara global. Padahal, suhu seharusnya meningkat. Fase flat (tetap) disebut juga fase jeda. Ciri-cirinya dapat dilihat di Samudra Pasifik yang men­dingin. Hal ini menyebabkan Indonesia mengalami banyak hu­jan. Padahal, saat sekarang, Elnino teridentifikasi lemah dari Samudra Pasifik. Seharusnya hujan dapat berkurang, tetapi justru malah hujan deras. 

Untuk awan yang berada di daerah tinggi (di atas 6.000 m), terbentuk awan siro-stratus yang tampak sebagai teja di sekitar matahari atau bulan. Terbentuk juga awan siro-kumulus yang berbentuk keping-keping terhampar luas. Berbentuk tipis tersebar seperti asap. 

AWAN hitam menutupi sebagian wilayah dataran tinggi di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 19 Januari 2017./DOK PR

Cumulonimbus penyebab angin ribut

Bergeraknya angin ke pusat tekanan rendah tersebut juga mem­bawa uap air dari area sekitarnya. Akibatnya, terjadi proses konvergensi yang membuat massa udara bergerak ke atas dan membentuk awan, apalagi jika ditunjang dengan suhu udara relatif tinggi. 

Dengan suhu yang lebih tinggi dari sekitarnya, massa udara akan terus ber­gerak naik dengan kecepatan tinggi. Ka­rena proses inilah, pembentukan awan cumulonimbus semakin intensif dan bertambah kekuatannya. 

Walau tidak semua pembentukan  awan comulonimbus dapat me­nyebabkan puting beliung, setidak­nya ma­syarakat dapat mewaspadainya. Salah satu tanda yang mu­dah dikenali adalah jika terjadi pembentukan awan comulonimbus yang rendah, didahului kondisi suhu udara yang terasa gerah. 

Ciri-ciri awan cumulonimbus adalah awan putih bergerombol yang berlapis-lapis secara visual seperti bunga kol, berwarna ge­lap pekat, puncaknya tinggi dan cakupan areanya cukup luas. Bi­a­sanya, awan membawa hujan dengan intensitas tinggi disertai kilat dan petir. Pada kondisi seperti itu, awan tersebut akan ber­potensi memunculkan angin puting beliung, terutama di zona bagian bawah awan. 

Angin puting beliung umumnya terjadi sesaat sebelum turunnya hujan lebat.  Durasi fase pembentukan awan hingga fase awan punah berlangsung paling lama se­kitar satu jam.

Hingga saat ini, kalangan ahli meteorologi mengakui masih sulit memprakirakan secara tepat di mana terjadinya angin puting beliung karena durasi pembentukan hingga punahnya yang sangat singkat.

Untuk mengurangi risiko terjangan angin puting beliung, perlu diambil langkah antisipatif sebagai berikut. Pertama, menebang dahan pohon yang rimbun dan tinggi untuk mengurangi beban berat pohon. Kedua, memperkuat atap rumah yang sudah rapuh. Ketiga, cepat berlindung atau menjauh dari tempat kejadian bila  ada indikasi akan terjadi puting beliung. ***

Bagikan: