Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Mendongkrak Prestasi, Kuota Mahasiswa Penerima Bidikmisi 2019 Ditambah

Dhita Seftiawan
Menristekdikti Mohamad Nasir/DOK PR
Menristekdikti Mohamad Nasir/DOK PR

JAKARTA, (PR).- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menambah kuota program Bidikmisi dari 85.000 pada 2018 menjadi 130.000 mahasiswa pada 2019. Penambahan tersebut sebagai bentuk komitmen dari fokus kerja pemerintah yang memprioritaskan pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan, program Bidikmisi dapat memotong mata rantai kemiskinan karena anak-anak dari keluarga tidak mampu tapi berprestasi dapat menyelesaikan pendidikan tinggi. Dengan demikian, ucap dia, daya saing SDM nasional terus meningkat. Menurut dia, 80% penerima bantuan biaya Bidikmisi tahun lalu menunjukan prestasi dengan meraih IPK di atas 3.00. 

“Ini perintah dari Presiden, supaya kalau bisa Bidikmisi dinaikkan 50 persen. Prioritas pembangunan akan digeser dari infrastruktur ke pembangunan sumber daya manusia. Beasiswa Bidikmisi ini sangat barmanfaat badi masyarakat karena mereka bisa memiliki peluang besar untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,” ujar Menristekdikti Mohamad Nasir di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Kamis 3 Januari 2019.

Selain Bidikmisi, pemerintah juga memberikan beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA), beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) Papua, Papua Barat dan wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal. Nasir menuturkan, sejauh ini, alumni Bidikmisi banyak yang sudah bekerja di perusahaan swasta, BUMN, guru maupun yang berwirausaha. “Bidikmisi bisa dipakai untuk kuliah di perguruan tinggi negeri atau swasta,” katanya.

Bidikmisi merata dari Aceh sampai Papua

Program yang berjalan sejak 2010 ini khusus untuk membantu keluarga menengah ke bawah yang keteteran membayar biaya kuliah. Penerima Bidikmisi mendapat bantuan dana Rp 12 juta setahun dan uang saku Rp 650.000 per bulan. Program Bidikmisi menyasar semua program studi, tak ada prioritas antara jurusan sosial dan eksakta. Bidikmisi juga disebar secara merata kepada warga Aceh hingga Papua. 

Selain untuk jenjang sarjana, Kemenristekdikti menyediakan kuota untuk lulusan program Bidikmisi jenjang S1 yang ingin melanjutkan ke jenjang S2. Mahasiswa penerima Bidikmisi S2 akan mendapatkan bantuan dana dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang dikelola kementerian keuangan.

Syarat penerima Bidikmisi S2

Direktur Jenderal Sumber Daya Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti menyatakan, pendaftar program tersebut harus memiliki kemampuan berbahasa asing yang baik. Terutama bagi mereka yang berniat melanjutkan kuliah di luar negeri. “Untuk Bahasa Inggris harus memiliki skor IELTS minimal 6,5” kata Ghufron.

Menurut dia, penerima Bidikmisi S2 bisa melanjutkan kuliah di luar negeri. Selama ini, sebagian besar dari mereka kuliah di perguruan tinggi Inggris, Belanda, Australia, dan Amerika Serikat. Ia menegaskan, syarat untuk mendapatkan Bidikmisi jenjang S2 harus memiliki IPK minimal 3,5  dan berusia maksimum 35 tahun saat melakukan pendaftaran. 

Ia mengatakan,  alumni penerima Bidikmisi hanya dapat mendaftar maksimal 2 tahun sejak dinyatakan lulus dari perguruan tinggi dan harus melampirkan surat keterangan atau surat keputusan penerima Bidikmisi yang dikeluarkan perguruan tinggi terkait.***

Bagikan: