Pikiran Rakyat
USD Jual 14.353,00 Beli 14.053,00 | Cerah berawan, 27 ° C

Asdos, Jabatan Prestisius Idaman Mahasiswa

Amaliya
Perkuliahan.*/DOK. PR
Perkuliahan.*/DOK. PR

MASIH berpredikat mahasiswa, tetapi dipercaya ­mengajar di kampus seperti dosen. Begitulah asdos (asisten dosen) dari kalangan mahasiswa. Tidak salah ­jika menilai mereka hebat.

Karena dipercaya ­mengajar, artinya mereka dipilih ­dengan kriteria tertentu. N Winda Latifah Subhiyyah adalah salah satu orang yang terkesima dengan para asdos.

”Waktu ospek ada pengenalan lab (laboratorium). Nah, di situ dikenalin ini nih mahasiswa hebat yang jadi asdos. Sejak saat itu saya ingin jadi asdos,” ujar Mahasiswa semester VIII Jurusan Teknologi Pangan Fakultas Teknik Universitas Pasundan Bandung itu.

Siapa sangka, keinginan Winda terkabul. Sudah dua tahun ini dia menjadi seorang asisten laboratorium atau aslab. Setiap tahun dia memperbarui kontraknya sebagai aslab biokimia.

Tidak mudah meraih jabatan asdos seperti Winda. Sebagai jabatan prestisius di kalangan mahasiswa, pemilihannya dilakukan melalui seleksi dan tentu saja diperebutkan. Winda pada saat itu harus bersaing dengan sekitar 30 mahasiswa, termasuk dari angkatan di atas dan di bawahnya.

Seleksi itu terdiri atas tiga tahap, yakni administrasi, wawancara dengan aslab dari kalangan mahasiswa, lalu wawancara dengan dosen.

”Kalau administrasi lebih kepada nilai biokimia di kelas dan biokimia di lab harus A. Setelah wawancara, baru pengumuman,” kata Winda.

Dari 30 orang yang diseleksi, hanya 5 yang dipilih. Winda tak menyangka dia termasuk salah seorangnya. Sebagai seorang yang pemalu, pengumuman asdos itu membuat dia harus belajar berani tampil di depan umum.

Perkuliahan.*/CULT OF PEDAGOGY

Faktanya, menjadi aslab tidak semudah hanya berani berbicara di hadapan banyak orang. Winda harus melahap buku-buku yang selama ini tidak dia baca. Bagaimana pun, mempersiapkan diri dengan lebih banyak ilmu akan lebih baik daripada mengandalkan ilmu seadanya.

Namun tetap saja, Winda kadang dibuat mentok oleh pertanyaan mahasiswa adik angkatan yang dia ajar.

”Mereka kadang nanya yang aneh-aneh, kepo gitu. Makanya kita harus siapkan segala sesuatunya. Pernah ada yang nanya kalau kita mau misahin enzim dari suatu bahan atau bikin enzim sendiri bisa nggak sih? Nah itu kita jawab dengan sepengetahuan kita,” kata dia.

Menjadi aslab pernah membuat Winda lelah bahkan stres. Tak lain karena mahasiswa tak juga mengerti dengan materi yang dia jelaskan. Agar mereka paham, Winda harus mengulang-ulang penjelasan sampai mereka tak lagi bingung.

”Tapi saya sangat menikmati dan harus menikmati meski setiap hari kadang pulang jam 19.00 atau 22.00. Seumuran saya pasti pengen main, tapi saya punya tanggung jawab yang menjadi pilihan. Menjadi asdos itu istimewa,” kata Winda bersemangat.

Winda mengurai satu per satu manfaat yang dia peroleh sebagai aslab ketika lelah itu datang. Bagaimana pun, dia menjadi terlatih untuk lebih banyak belajar dan tampil percaya diri di depan umum. Tak hanya itu, menjadi kebanggaan bagi Winda ketika dia bisa berinteraksi akrab dengan dosen.

Jaminan profesi

Manfaat lainnya adalah jaminan profesi pascalulus. Jika lulus nanti, Winda tetap bisa memperpanjang kontrak asdosnya. Jika dia mendapat tawaran dari luar kampus, tentu saja Winda tinggal memilih mana yang lebih menguntungkan.

”Nanti kita akan menerima sertifikat asdos yang bisa menjadi tambahan pengalaman ketika kita mendaftar kerja,” kata dia.

Keuntungan menjadi asdos juga dirasakan oleh Ana Nur Faizah. Ana yang duduk di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran itu meng­ajar principle accounting dan advanced accounting.

Karir.*/CURTIS-VILLAR

Keuntungan utamanya tentu saja dia menjadi lebih mudah memahami mata kuliah yang dia ambil karena ­sudah sangat paham dengan mata kuliah yang dia ajarkan kepada adik kelasnya.

”Selain itu, biasanya dapat proyekan dari dosen. Kalau lihat alumnus dari asdos rumpun akuntansi keuangan, rata-rata habis lulus langsung masuk Big Four KAP (Kantor Akuntan Publik). Bahkan, dosen-dosen sendiri banyak yang asdos akuntasi keuangan ketika kuliah,” kata Ana.

Meski begitu, Ana juga merasakan duka asdos seperti yang dirasakan Winda. Dia dan tim asdos dituntut menjelaskan secara detail dan sejelas-jelasnya kepada kelas. Bahkan, pernah juga sebuah materi di­ujikan beberapa kali sampai tidak ada ralat sedikit pun.

”Kalau mereka pas belajar sama dosen masih nanyain lagi dan bilang kalau yang diajarin asdos nggak sesuai, akhirnya satu tim yang kena,” ucap dia. Namun, Ana memahami begitulah risiko asdos. Sejak awal dia tahu, amanah itu menguji mental dan ilmu pengetahuannya.

Mendapat honor

Honor barangkali bukan tujuan utama para mahasiswa ketika bersaing merebutkan jabatan asdos. Namun, ketika pihak universitas mengapresiasi mereka dengan pemberian honor, tentu saja itu menjadi bonus yang menyenangkan.

Ana mengatakan, honor setiap asdos tidak selalu sama. Hitungannya bergantung banyaknya kelas yang mereka ajar. Untuk satu kelas dengan 15-30 mahasiswa, honor yang diterima adalah Rp 500.000/se­mester.

”Ada satu rumpun yang satu orang mengajarnya sampai 6 kelas, tapi ada juga yang 2 kelas. Belum di­tambah dia dapat proyekan dari dosen,” kata Ana.

Namun, Ana menegaskan, tujuan dia menjadi asdos lebih kepada berbagi dan mendapat ilmu, serta berjejaring lebih luas dengan alumni asdos.

Sementara Winda, dalam 2,5 bulan biasanya me­nerima sekitar Rp 2 juta. Besar kecilnya nominal tergantung dari jumlah peserta didik yang mereka ampu. Winda biasanya bertanggung jawab atas 25 mahasiswa.

”Nah kalau ini sih alhamdulillah anggap saja bonus. Itung-itung pelipur lara karena kita sering menghabis­kan waktu di kampus daripada main di luar, hehehe,” ujar dia.

Kekurangan dosen

Tidak ada aturan dari pemerintah terkait asisten dosen yang direkrut dari kalangan mahasiswa. Namun, hal itu diatur oleh perguruan tinggi masing-­masing sehingga pengatur­annya berbeda di setiap kampus.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Uman Suherman mengatakan, asdos muncul karena tidak seimbangnya rasio antara jumlah dosen dan jumlah mahasiswa.

”Kadang dosennya hanya sendiri, jumlah ­kelasnya banyak. Sementara kebijakan ­perguruan tinggi belum meng­angkat dosen sebanyak-banyaknya,” ujar Uman.

Kondisi seperti itu me­munculkan ­kebutuhan asdos yang kemudian diatur oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi mengatur kriteria calon asdos juga kriteria dosen yang layak didampingi ­asdos.

Kriteria dosen itu misalnya adalah dosen dengan mata kuliah praktikum sehingga ­butuh tenaga pendamping untuk ­menjangkau seluruh kelas.

Sementara untuk calon asdos, kriterianya biasanya prestasi akademik dan kemampuan lain yang digali melalui wawancara.

Proses seleksi menjadi hal wajib yang harus diikuti para calon asdos. Menurut Uman, calon asdos sudah tentu harus lebih unggul dalam akademik dan berkemampuan membimbing.

”Bagi para ­asdos, itu menjadi kesempatan pembelajaran,” kata dia.

Di perguruan tinggi swasta, menurut Uman, asdos lebih banyak ditugasi ­mengawasi ujian dan praktik di laboratorium dari­pada mengajar di kelas. Dalam ­menjalankan tugasnya, asdos harus tetap ­dipantau oleh dosen.

”Tidak harus secara langsung, tapi dosen bisa menanyakan ­kepada mahasiswa,” kata Uman.

Meskipun demikian, Uman menegaskan, asdos tidak menggantikan posisi dosen. Mereka tidak terhitung sebagai tenaga tetap yayasan maupun dosen luar biasa. Untuk itu, pada praktiknya para asdos tidak selalu mendapatkan insentif atau honor.

”Ada yang dibayar, ada yang tidak karena itu tadi. Mereka bukan tenaga tetap atau dosen ­luar biasa. Dosen yang ngasih (honor). Kecuali kebutuhan asdos didaftarkan ke yayasan,” ujar Uman.

Jika dalam praktiknya para asdos diapresiasi dengan honor ­tertentu, Uman menyambut baik hal itu.

Pengalamannya dulu, tak ada bayaran bagi asdos. Uman yang waktu itu duduk di ­semester III Psikologi Pendidikan IKIP ­Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia), dipercaya mengajar di kelas.

”Nggak dibayar tapi jadi ­kebanggaan,” kata dia.***

Bagikan: