Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Umumnya cerah, 18.7 ° C

Sejarah Indonesia dalam Buku 11 Meter

Dhita Seftiawan
PENGUNJUNG mengamati isi buku Jejak Sejarah Indonesia yang diluncurkan Forum Silaturahmi Alumni ITB angkatan 1973 di Auditorium Perpustakaan Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa, 18 Desember 2018. Buku setebal 38 halaman ini jika dibentangkan mencapai 11,73 meter dan diklaim menjadi buku sejarah terpanjang di Indonesia.*
PENGUNJUNG mengamati isi buku Jejak Sejarah Indonesia yang diluncurkan Forum Silaturahmi Alumni ITB angkatan 1973 di Auditorium Perpustakaan Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa, 18 Desember 2018. Buku setebal 38 halaman ini jika dibentangkan mencapai 11,73 meter dan diklaim menjadi buku sejarah terpanjang di Indonesia.*

SETELAH melewati proses peng­umpulan bahan dan diskusi selama 1,5 tahun, pada Selasa, 18 Desember 2018, Fortuga (Forum Silaturahmi Alumni ITB Angkatan 1973) akhirnya resmi meluncurkan buku berjudul Jejak Sejarah Indonesia.

Jika dibentangkan, buku itu memiliki panjang 11,73 meter. Buku seharga Rp 750.000 ini membahas secara singkat, tetapi runut, terkait dengan sejarah berdirinya negara Indonesia.

Isi bukunya tak banyak menyajikan rangkaian kata. Sebagian besar berupa grafis, foto, dan data berupa angka. Dimulai dari terbentuknya alam semesta, kondisi alam zaman purbakala, peradaban awal 4.000 sebelum Masehi, kemunculan agrikultur pada abad pertengahan (400-1500 Masehi), era kolonial dan industri (1500-1900), hingga penetrasi teknologi pada era globalisasi (1900-2017).

"Mungkin karena tim penyusunnya bukan para ahli menulis. Mereka semua kan orang teknik yang ahli dalam tata ruang dan grafis. Buku ini aneh memang, biasanya buku sejarah sangat tebal dengan tulisan-tulisan. Tapi, karya dari Fortuga ini menjadi khas dan tanpa mengurangi keakuratan informasi sejarahnya,” kata sejarawan Taufik Abdullah saat menjadi pembicara dalam peluncuran dan bedah buku itu di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa, 18 Desember 2018.

Dengan memuat lini waktu catatan sejarah secara sistematis, komposisi isi buku ini lebih banyak diwarnai ilustrasi dan visualisasi berwarna. Semuanya didesain untuk merangkum irisan sejumlah peristiwa penting di dunia yang berkaitan dengan berdirinya Indonesia sejak 6.000 tahun terakhir.

Dengan lini waktu yang berpadanan ini, pembaca diharapkan dapat memiliki perspektif baru dan lebih luas terkait dengan sejarah Indonesia. 

Benang merah

Ketua Tim Penyusun Jejak Sejarah Indonesia Sapta Putra Yadi menuturkan, dengan tampilan yang lebih menarik, para pembaca akan makin terinspirasi untuk meneliti dan mencari ”benang merah” baru antara peristiwa di dunia dan dalam negeri. ”Misalnya, diyakini ada keterkaitan kuat antara peristiwa Terusan Suez tahun 1956 yang dinasionalisasi oleh Presiden Mesir Gammal Abdul Naseer dan Dasasila Bandung sebagai hasil KTT Asia-Afrika 1955 yang digagas Presiden RI Soekarno,” katanya.

Buku setebal 38 halaman berukuran 30 x 42 sentimeter ini hanya dicetak 1.000 eksemplar. Sapta menyatakan, Fortuga tidak berusaha menulis ulang buku sejarah, tetapi memberi pandangan baru. Bahwa ada sesuatu yang mendekati ”kebenaran” lain yang selama ini belum muncul dari dalam kesadaran kolektif masyarakat. Fortuga memercayai peristiwa Big Bang benar-benar terjadi.

Ketua Fortuga Kelana Budi Mulia menuturkan, validitas data sejarah dalam buku ini dapat dipertanggungjawabkan. Pasalnya, data dalam bu­ku ter­sebut diambil dari buku-buku sejarah yang ditulis oleh para sejarawan kredibel.

”Tapi, disampaikan dengan perspektif baru ala Fortuga. Kami meyakini, sejarah yang terangkum dalam sebuah buku adalah hasil pilihan pemimpin dan rakyat pada zamannya. Masalahnya, apakah pilihan tersebut berbasis pembelajaran masa lampau? Fortuga mencoba mengisi pilihan baru tersebut,” ujarnya.***

Bagikan: