Pikiran Rakyat
USD Jual 14.370,00 Beli 14.070,00 | Umumnya cerah, 21.9 ° C

Mengukur Kultur dengan Jujur Melalui Sudut Pandang Mahasiswa Asing BIPA Unpad

Yusuf Wijanarko
MAHASISWA asing Program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Unpad mengunjungi Kampung Naga di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa 4 Desember 2018.*
MAHASISWA asing Program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Unpad mengunjungi Kampung Naga di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa 4 Desember 2018.*

JIKA ingin mengukur dengan jujur kultur dan tradisi kita, sekaligus seberapa imun dan abai kita terhadapnya, salah satu cara terbaik adalah mengukurnya melalui sudut pandang orang asing. Maka, Program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) Unpad adalah alat ukur yang tepat.

Program BIPA merupakan pusat kajian atau riset pembelajaran kursus Bahasa Indonesia untuk penutur asing yang berada di bawah naungan Pusat Bahasa Fakultas Ilmu Budaya Unpad. Para peserta didiknya adalah mahasiswa asing yang mempelajari bahasa Indonesia dengan beragam motif seperti pendidikan, penelitian, profesi, maupun hubungan bilateral.

Hikaru Suzuki serta beberapa mahasiswa asal Jepang baru saja melepas sepatu dan masuk ke satu rumah di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya. Namun, seketika itu pula mereka terpaku menyaksikan seorang warga begitu terampil menganyam hihid (kipas tradisional) dan boboko (bakul) dari bambu.

Bola mata mereka sudah menangkap begitu banyak cahaya ketakjuban dan keingintahuan. Namun, mereka hanya mematung. Sejurus kemudian, pertanyaan dari mulut mereka berhamburan.

Dalam tur selama 2 hari, 4-5 Desember 2018, 50 mahasiswa BIPA Unpad dari berbagai negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Prancis, Maroko, Madagaskar, dan Kirgizstan mengunjungi sejumlah tempat di Kabupaten Tasikmalaya dan Garut.

Selain ke Kampung Naga, mereka diajak menyaksikan langsung proses produksi berbagai barang olahan kulit dan pembuatan dodol di Garut. Dalam perjalanan pulang, para mahasiswa meyempatkan diri mengunjungi Candi Cangkuang.

Merespons lingkungan



Gegar budaya yang berkaitan dengan lingkungan juga terangkum dalam peristiwa dan cerita selama tur.

Sepanjang perjalanan, jika ada kesempatan, mahasiswa asal Prancis Nathan Theis-Decamaret selalu menyempatkan diri merokok. Setelah hisapan terakhir, dia akan sibuk mencari asbak atau tempat sampah untuk membuang puntung rokoknya.

Pada kesempatan lain, seorang peserta tur yang merupakan orang Indonesia membuang abu rokok ke kolam yang penuh ikan dan melempar puntung rokok ke dalam selokan.

Lain lagi dengan cerita mahasiswa asal Kirgizstan Dzakybolieva tentang pengalamannya yang risih meihat tikus, kecoa, dan cicak di mana-mana. Namun setelah tiga bulan menetap di Bandung, dia mulai terbiasa dengan keberadaan hewan-hewan penanda kotornya lingkungan itu.

“Setelah menjadi orang lokal, ketika ada tikus mendekat, tikus sudah saya panggil teman,” kata dia dan disambut tawa mahasiswa lainnya.

Karunia yang terlupakan



Mahasiswa dari Maroko Lachen Hadid, dengan bahasa Indonesia cukup fasih, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sekira 17.000 pulau. Fakta itu tentu sudah menjadi pengetahuan umum.

Akan tetapi, cara penyampaian yang apa adanya membuat siapa saja yang mendengar seperti mendapat tamparan bertubi-tubi karena kerap lupa mensyukurinya. Haru, bangga, sedih, dan malu bercampur dalam hati para pendengarnya yang saat itu baru selesai menyantap sajian makan malam.

Banyaknya mahasiswa asing yang bercerita bahwa mereka sangat terbantu dengan keberadaan ojek online gojek, startup asli Indonesia. Layanan seperti itu tidak ada di negara mereka. Menurut mereka, hampir semua kebutuhan harian bisa dipenuhi oleh ojek online yang memananjakan konsumen dan berharap layann itu suatu saat hadir di tanah kelahirannya.***

Bagikan: