Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 25.6 ° C

Pengangguran Lulusan SMK Tertinggi

Dhita Seftiawan

JAKARTA, (PR).- Angka pertisipasi pengangguran lulusan SMK mencapai 11,24% terhadap tingkat pengangguran terbuka 2018. Data dari Kementerian Ketenagakerjaan menunjukan persentase tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan pengangguran lulusan SD (2,43%), SMP (4,80%), SMA (7,95%), Diploma (6,02%) dan Sarjana (5,89%).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan, kendati masih tertinggi, jumlah serapan tenaga kerja lulusan SMK terus meningkat setiap tahun. Yakni, dari sekitar 12 juta pada 2017 menjadi 13 juta pada tahun ini.

Secara persentase, pada tahun lalu pengangguran lulusan SMK sebesar 11,41%. Jumlah pengangguran lulusan SMA dan SMK terus menurun dibandingkan lulusan Sarjana.

Menurut dia, peningkatan serapan tenaga kerja lulusan SMK merupakan indikator dari keberhasilan program revitalisasi pendidikan vokasi. Selain meningkatkan jumlah SMK, pemerintah juga mengeluarkan paket kebijakan untuk meningkatkan kualitas lulusannya.

Antara lain dengan mengubah kurikulum yang melibatkan pihak industri sehingga relevan dengan Revolusi Industri 4.0 dan menambah guru produktif melalui program guru keahlian ganda.

“Justru yang saya khawatirkan ini lulusan perguruan tinggi yang terus meningkat persentase penganggurannya. Tapi itu urusan pak Nasir (Menristekdikti). Kami di Kemendikbud sekarang fokus mengurangi serapan tenaga kerja lulusan SD. Karena, banyak lulusan SD bekerja bukan di sektor produktif,” kata Muhadjir dalam Diskusi Pengurangan Pengangguran di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta, Kamis, 8 November 2018.

Diskusi tersebut turut dihadiri Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dakhiri dan Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. Muhadjir optimistis, pengangguran lulusan SMK akan terus menurun.

Pasalnya, dunia lapangan kerja semakin membutuhkan individu yang memiliki keahlian khusus yang menjadi pembeda antara SMA dan SMK.

Ia menuturkan, untuk menurunkan jumlah pengangguran dari jenjang SMK, Kemendikbud mengeluarkan 6 kebijakan. Yakni membuat peta jalan SMK hingga 2030, penyelarasan kurikulum, peningkatan profesionalitas guru, kerja sama sekolah dengan industri, meningkatkan akses sertifikasi lulusan SMK, dan membentuk kelompok kerja.

“Nanti lulusan SMK harus mengantongi sertifikasi keahlian. Sertifikasi standar keahliannya dibuat oleh badan yang berwenang termasuk kalangan industri. Kelompok kerja dengan membuat teaching factory yang menghubungkan siswa SMK dengan pihak industri, 70 persen kurikulum SMK dibuat pihak industri,” ujar Muhadjir.

Menaker Hanif Dakhiri menambahkan, Kemendibud berperan strategi dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas lulusan SMK yang relevan dengan lapangan pekerjaan. Menurut dia, tingginya persentase pengangguran menunjukan lulusan SMK kurang bisa bersaing dengan lulusan sekolah jenjang dasar dan menengah lainnya.

“Tapi trennya terus membaik. Walaupun masih tertinggi, secara persentase terus turun. Itu artinya serapan tenaga kerja dari SMK terus meningkat. Apa yang dilakukan Kemendikbud berarti sudah berada di jalan yang benar. Revitalisasi pendidikan vokasi harus diteruskan,” kata Hanif.

Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menjelaskan, secara keseluruhan, tingkat pengangguran terbuka turun 5,34% dalam kurun 4 tahun sejak 2014. Menurut dia, pada tahun ini, pemerintah menciptakan sebesar 2,99 juta lapangan pekerjaan. “Itu naik dari tahun lalu yang sebesar 2,61 juta. Dalam 4 tahun ini, secara total sudah menciptakan 9,38 juta lapangan pekerjaan,” kata Bambang.***

Bagikan: