Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Umumnya cerah, 16.7 ° C

MRPTNI: Ujian Tulis Berbasis Komputer Tekan Ketimpangan

Dhita Seftiawan

JAKARTA, (PR).- Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) menilai Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang akan diterapkan pada Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019 akan menekan ketimpangan antarperguruan tinggi. Pasalnya, dengan akses yang tak terbatas, semua calon mahasiswa di pelosok tanah air akan memiliki kesempatan yang sama dengan warga di kota besar.

Ketua MRPTNI Kadarsah Suryadi menegaskan, UTBK akan mengikis eksklusifitas yang biasanya terjadi pada segelintir perguruan tinggi negeri berkualitas dunia. Menurut dia, kebijakan baru dalam pola penerimaan mahasiswa tahun depan juga akan lebih menjaga kualitas mahasiswa yang terjaring.

“UTBK pada SBMPTN akan menekan disparitas, baik antarperguruan tinggi negeri maupun kualitas mahasiswanya sendiri. Kebijakan ini baik karena akses for all, semua calon mahasiswa dari manapun itu bisa masuk ke PTN mana saja, karena semua punya hak yang sama," kata Kadarsah, di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta, Senin, 22 Oktober 2018.

Ia menyatakan, kebijakan baru akan menimbulkan efek ganda bagi rektor di setiap PTN. Selain harus menjalin koordinasi secara masif, para rektor juga memiliki kesempatan lebih besar untuk membahas isu pendidikan dan masalah-masalah di kampus masing-masing.

“Ini sebagai sarana informasi untuk bertemu dengan para rektor PTN dari barat sampai ke timur. Efek gandanya banyak karena setelah ini kami (para rektor) akan bertemu untuk membahas masalah peningkatan mutu, penelitian dan lainnya,” kata Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Sebelumnya, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi memastikan Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC) dihapus dalam SBMPTN 2019. Kemenristekdikti juga menambah 10% kuota SBMPTN menjadi minimal 40%. Untuk kuota SNMPTN dikurangi 10% menjadi minimal 20%, sedangkan untuk jalur mandiri tetap maksimal 30%.

Selain perubahan formasi kuota, Kemenristekdikti juga tak akan menggelar tes SBMPTN secara serentak di masing-masing kampus tujuan calon mahasiswa. Siswa yang ingin kuliah harus mengikuti ujian yang diselenggarakan Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Siswa yang belum lulus SMA/SMK sederajat, sudah bisa mengikuti tes tersebut.

Ketua LTMPT Ravik Karsidi menerangkan, UTBK akan digelar sebanyak 24 kali pada periode Maret sampai Juni tahun 2019. Adapun untuk lokasi tes, direncanakan akan digelar di 85 PTN yang berada di seluruh Indonesia.

“Bayar SBMPTN melalui UTBK sebesar Rp 200.000 setiap kali tes. (Biaya) tidak naik dibandingkan tahun lalu. Bahkan cenderung turun mengingat ada inflasi. Ada pendaftaran ujian ada pendaftaran masuk perguruan tinggi. Dipungut hanya sekali, sedangkan masuk PT tidak dikenakan biaya. Setiap siswa maksimal hanya boleh ikut ujian dua kali,” kata Ravik.

Hasil UTBK yang digelar LTMPT bisa dipergunakan untuk daftar ke kampus tujuan. “Hasil yang terbaik, nilai yang digunakan adalah yang terbaik. Dengan UTBK ini, sekarang calon mahasiswa dari Kalimantan dengan nilai hasil ujian yang mereka punya bisa memiliki akses masuk UI, ITB, UGM dan kampus lainnya di Pulau Jawa,” katanya.

Kendati menggunakan nilai UTBK, kuota kursi di setiap jurusan ditentukan oleh masing-masing rektor. Nilai minimal (passing grade) di setiap jurusan tergantung jumlah pendaftar dan kuota yang tersedia. “Jadi passing grade tak ditentukan duluan oleh kampus. Tapi disesuaikan dengan kuota kursi dan peminat,” ujar Ravik.***

Bagikan: