Pikiran Rakyat
USD Jual 14.007,00 Beli 14.105,00 | Umumnya cerah, 25.8 ° C

Ini Penyebab Daya Saing Lulusan Perguruan Tinggi di Indonesia Masih Rendah

PASURUAN, (PR).- Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof Mohamad Nasir, mengatakan sebagian besar pendidikan tinggi di Indonesia masih berorientasi pada bidang akademik. Minimnya orientasi terhadap peningkatan kompetensi lulusan, dianggap Nasir sebagai faktor penyebab rendahnya daya saing lulusan perguruan tinggi.

"Kemampuan lulusan pendidikan tinggi kita masih jauh dari yang diperlukan dunia industri. Itu salah satu faktor daya saing kita masih rendah," kata Nasir, saat memberikan orasi ilmiah di hadapan wisudawan Universitas Yudharta Pasuruan di Pasuruan, seperti dikutip dari Kantor Berita Antara, Minggu 21 Oktober 2018.

Dia menyatakan daya saing global Indonesia berada pada posisi 36 dari 137 negara, masih di bawah Singapura yang berada pada posisi ketiga, Malaysia di posisi 23 dan Thailand di posisi 32. Padahal, jumlah penduduk Indonesia merupakan yang terbanyak keempat di dunia, setelah China, India dan Amerika Serikat.

Jumlah penduduk Indonesia 262 juta jiwa, sedangkan jumlah penduduk Tiongkok mencapai 1,4 miliar lebih. Dari segi jumlah perguruan tinggi, Indonesia memiliki lebih banyak daripada negara Tirai Bambu itu, dengan rincian Indonesia memiliki 4.600 perguruan tinggi, sedangkan China hanya 2.824 perguruan tinggi.

"Jumlah penduduk kita seperenam China, perguruan tinggi kita dua kalinya. Namun, daya saing kita masih kalah," ucapnya.

Karena itu, Nasir menilai ada yang salah dalam pengelolaan pendidikan tinggi di Indonesia. Pendidikan tinggi harus berorientasi pada peningkatan kompetensi lulusan, bukan semata akademik.

Peringkat dunia



Saat awal menjadi menteri, Nasir mengatakan hanya ada dua perguruan tinggi Indonesia yang masuk peringkat 500 besar dunia, itu pun mendekati peringkat 500.

"Saat ini, di tahun 2018, sudah ada tiga perguruan tinggi, yaitu Universitas Indonesia di peringkat 292, Institut Teknologi Bandung di peringkat 340 dan Universitas Gadjah Mada di peringkat 391," katanya.

Selain itu, pada rentang peringkat 500 hingga 600, sudah ada lima perguruan tinggi dan tujuh perguruan tinggi di antara peringkat 600 hingga 700.

"Padahal di China, ada belasan perguruan tinggi yang masuk peringkat 500 besar dunia," ujarnya.

Karena itu, Nasir berharap lulusan Universitas Yudharta mempersiapkan diri dalam persaingan global di era revolusi industri 4.0. Ia mengungkapkan, revolusi industri 4.0 telah membawa lompatan teknologi yang lebih pesat daripada sebelumnya.

"Lompatan teknologi itu kita rasakan dalam kehidupan sehari. Dulu kalau mau naik kendaraan umum, kita harus menunggu di pinggir jalan. Saat ini, dengan Gojek, kita bisa mengirim pesan langsung kepada pengemudi dan dijemput di rumah," tuturnya.(Fani Ferdiansyah)***

Bagikan: