Pikiran Rakyat
USD Jual 14.325,00 Beli 14.025,00 | Umumnya berawan, 28.7 ° C

Publik Menguji Visi dan Misi Kandidat Rektor Unpad

Catur Ratna Wulandari
TIGA calon Rektor Universitas Pajajaran Aldrin Herwany, Atip Latipulhayat, dan Obsatar Sinaga menyampaikan gagasannya di hadapan para tokoh Jawa Barat di Aula Pikiran Rakat, Kota Bandung, Selasa 9 Oktober 2018. Dalam diskusi tersebut, ketiganya memaparkan visi dan misi memimpin Unpad.*
TIGA calon Rektor Universitas Pajajaran Aldrin Herwany, Atip Latipulhayat, dan Obsatar Sinaga menyampaikan gagasannya di hadapan para tokoh Jawa Barat di Aula Pikiran Rakat, Kota Bandung, Selasa 9 Oktober 2018. Dalam diskusi tersebut, ketiganya memaparkan visi dan misi memimpin Unpad.*

BANDUNG, (PR).- Pemilihan Rektor Unpad (Universitas Padjadjaran) periode 2019-2024 segera memasuki babak akhir. Setelah memaparkan gagasannya di kalangan internal Unpad, kini ketiga calon rektor diberi kesempatan menyampaikannya kepada publik.

Pemaparan gagasan calon rektor kepada publik digelar di Aula Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika 77, Kota Bandung, Selasa 9 Oktober 2018. Tiga calon rektor, yaitu Aldrin Herwany, Atip Latipulhayat, dan Obsatar Sinaga sampai ke tahap ini setelah berhasil menyisihkan lima pesaing lainnya.

Calon rektor dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Aldrin Herwany, bercita­cita menjadikan Unpad sebagai universitas riset berdaya saing internasional. Secara berturut­turut, yakni pada 2008, 2009, dan 2010 lalu, Aldrin mendapat penghargaan makalah terbaik di konferensi ilmiah internasional bidang keuangan, yang diselenggarakan The Institute for Business and Finance Research (IBFR).

Aldrin berjanji, jika ia terpilih nanti, Unpad tidak lagi berlangganan jurnal internasional paket hemat. Ia ingin mahasiswa dan dosen mendapat akses lebih besar ke penelitian internasional.

”Saya tidak mau dosen dan mahasiswa Unpad mengemis username dan password ke universitas lain. (Langganan jurnal internasional) Mahal, biar saja mahal, harus bisa,” tutur Aldrin di hadapan mahasiswa di Bale Santika Kampus Unpad Jatinangor, Selasa 25 September 2018 lalu.

Sementara itu, calon dari Fakultas Hukum Atip Latipulhayat memberi perhatian pada desentralisasi pengelolaan Unpad. Menurutnya, desentralisasi memainkan peran penting Unpad dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Guru Besar Hukum Internasional itu berpendapat, sentralisasi menyebabkan fakultas kesulitan mengembangkan keilmuan. Atip pernah mencalonkan diri sebagai Hakim Konstitusi pada 2014.

Ia meraih gelar Doctor of Philosophy dari Fakultas Hukum Universitas Monash, Melbourne, Australia. Calon terakhir, Obsatar Sinaga, ingin menjadikan Unpad sebagai smart university pada 2024 dan menuju World Class University 2026.

”Kalau smart university tentu bukan soal colokan dan wifi karena itu semua pasti sudah ada,” kata Obsatar saat memaparkan gagasannya di depan alumni di Rektorat Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Sabtu 29 September 2018 lalu.

Obsatar merupakan anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat periode 2016-2019. Selain mengemban tugas sebagai koordinator bidang kelembagaan, ia juga menjabat sebagai Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Widyatama Bandung.

Suara publik



 Ketiga calon mempunyai waktu hingga 26 Oktober 2018 untuk menyosialisasikan gagasannya. Puncaknya, tanggal 27 Oktober 2018 ketiga calon akan memaparkan gagasannya di depan Sidang Terbuka Majelis Wali Amanat (MWA).

Kemudian akan dilanjutkan dengan sidang tertutup MWA untuk memilih dan menetapkan Rektor Unpad 2019-2024. Fokus grup diskusi di Pikiran Rakyat mengundang para pemangku kepentingan Unpad dari berbagai kalangan.

Menurut rencana, diskusi akan dihadiri beberapa kepala daerah di Jawa Barat, tokoh politik, tokoh olah raga, ekonomi, budayawan, serta sesepuh Unpad dan tokoh sesepuh Jawa Barat dan perwakilan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Ketua Majelis Wali Amanat Rudiantara yang dihubungi pekan lalu, mengemukakan, melalui fokus grup diskusi dengan publik dan pemaparan gagasan para calon rektor di hadapan kalangan internal,  Majelis Wali Amanat Universitas Padjadjaran mendengarkan masukan dari para pemangku kepentingan.

Menurut dia, penyampaian gagasan kepada pihak-pihak yang berkepentingan ini merupakan salah satu cara untuk menjaring aspirasi dan juga bentuk keterbukaan setiap calon.

”Kami agendakan pertemuan seperti ini agar pada saat majelis wali amanat mengambil keputusan, mempertimbangkan suara pemangku kepentingan. Tentu saja dalam pertemuan-pertemuan tersebut majelis wali amanat tidak boleh memengaruhi atau memihak. Kami hanya mendengarkan dan menjadi bahan untuk nanti memutuskan rektor terpilih,” kata Rudiantara melalui sambungan telefon.***

Bagikan: