Pikiran Rakyat
USD Jual 14.603,00 Beli 14.505,00 | Berawan, 24.5 ° C

Atasi Perisakan, Anak Harus Berani Bicara

Catur Ratna Wulandari
PELAJAR yang tergabung dalam The cofunas dan Therateather menampilkan pertunjukan dengan tema "Ngga Oke To Bully", di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranangsiang, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.*

BANDUNG, (PR).- Kasus perisakan di sekolah bagai fenomena gunung es. Penanganannya tak hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga orangtua.

"Kalau dirunut ini seperti gunung es. Banyak yang hal yang harus kita lakukan," kata Pembina Gugus Tugas Kota Layak Anak Siti Muntamah Oded ditemui di SDN 023 Pajagalan Kota Bandung, Senin, 3 September 2018.

Sebagai tindak lanjut penanganan aksi perisakan yang terjadi di SDN 023 Pajagalan, sekolah menggelar pertemuan dengan semua orangtua murid dan Komite Sekolah. Pertemuan itu menghadirkan Siti Muntamah atau yang biasa disapa Umi Oded, juga perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM) dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Bandung.

Umi Oded mengatakan, upaya menghadirkan sekolah yang ramah anak harus terus dilakukan. Sejalan dengan itu konseling keluarga juga perlu ditingkatkan.

Ia mengatakan, pengawasan anak tak bisa diserahkan kepada sekolah saja. Apalagi jumlah guru yang terbatas. Di SDN 023 Pajagalan hanya punya 32 guru untuk mengawasi sekitar 800 anak.

"Kalau Komite Sekolah setuju membantu sekolah menjaga anak bergantian," katanya.

Kemarin, kata Umi Oded, P2TP2A mendatangi rumah siswa yang menjadi korban perisakan untuk melakukan pendampingan psikologis. Petugas mendatangi rumahnya karena yang bersangkutan tidak hadir saat dipanggil.

Ia menegaskan, dalam kasus yang melibatkan anak-anak tak ada yang menjadi pelaku atau korban. Sebab semua anak dengan perilaku yang tidak baik adalah korban. Ada andil kesalahan orang dewasa dalam perilakunya itu.

Kepala Sekolah SDN 023 Pajagalan Dante Rigmalia mengatakan, selain bimbingan psikologis kepada anak-anak yang terlibat langsung, bimbingan juga dilakukan terhadap semua siswa. Hal itu penting untuk menciptakan suasana yang baik saat anak-anak kembali ke sekolah.

"Siswa juga harus tahu, kalau melihat ada anak yang celaka harus bagaimana," ujarnya.

Anak-anak yang terlibat perisakan akan diberi penanganan trauma, pemulihan rasa malu. Sekolah juga tengah menganalisa perlu tidaknya anak-anak ini dipindah kelas agar tidak di kelas yang sama lagi.

"Masih kami pertimbangkan. Kami tidak berharap ada dampak negatif lainnya," ujarnya.

Salah seorang orangtua murid, Dina mengatakan, ia menghendaki adanya sanksi bagi pelaku. Namun ia berharap sanksi itu sesuai dengan umur merwka yang masih anak-anak.

"Sudah kejadian, mudah-mudahan anak-anak lebih baik lagi. Agar orangtua dan guru lebih erat lagi dalam memperbaiki situasi ini," katanya.

Jangan takut bicara



Selain orangtua, anak-anak juga diberi bimbingan untuk bisa menghadapi perisakan atau kekerasan lainnya. Para siswa dijelaskan soal hak-haknya.

Anak harus sadar ketika teman mengganggu, dan merasa terganggu harus lapor ke guru. Korban perundungan biasanya cenderung diam. Dia terganggu tapi takut," kata praktisi paikologi dari DP3APM Kota Bandung Agnia Amalia.

Anak harus dididik agar berani berbicara mengemukakan pendapatnya, mau bercerita apa yang dialaminya.

Orangtua juga harus bisa merespons dengan tepat keluh kesah anak. Tak perlu ikut emosi. "Berkepala dingin, bicarakan dengan sekolah. Bisa dengan wali kelasnya," katanya.

Salah seorang siswa, Azka (10) mengatakan, ia selalu bercerita apapun yang ia alami di sekolah. Termasuk jika ada gangguan dengan teman. Ia berharap jika orangtua tahu, maka tak ada lagi gangguan.

"Tapi biasanya saya harus berani. Kalau diam malah digangguin," ujarnya.***

Bagikan: