Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 20.6 ° C

36 SMA Ikuti Pasanggiri Basa sareng Kesenian Daerah 2018

Catur Ratna Wulandari
SISWA SMA Negeri 4 Bandung menunjukan kebolehannya membawakan "Sisindiran" pada acara Pasanggiri Apresiasi Basa sareng Kesenian Daerah 2018 di SMA Negeri 3 Bandung, Jalan Belitung, Kota Bandung, Minggu (2/9/2018). Acara tersebut diikuti oleh para siswa SMA se-Kota Bandung dengan tujuan melestarikan Bahasa Sunda di kalangan pelajar Kota Bandung.
SISWA SMA Negeri 4 Bandung menunjukan kebolehannya membawakan "Sisindiran" pada acara Pasanggiri Apresiasi Basa sareng Kesenian Daerah 2018 di SMA Negeri 3 Bandung, Jalan Belitung, Kota Bandung, Minggu (2/9/2018). Acara tersebut diikuti oleh para siswa SMA se-Kota Bandung dengan tujuan melestarikan Bahasa Sunda di kalangan pelajar Kota Bandung.

BANDUNG, (PR).- Sebanyak 36 SMA di Kota Bandung mengikuti Pasanggiri Apresiasi Basa sareng Kesenian Daerah 2018. Kegiatan ini sebagai upaya untuk melestarikan bahasa dan kesenian Sunda.

Kegiatan yang diselenggarkan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Basa Sunda Kota Bandung ini terdiri dari delapan mata lomba. Kedelapan mata lomba itu ialah sajak, dongeng, biantara, aksara Sunda, sisindiran, kawih, pupuh, dan maca warta. Tahun ini jumlah mata lomba leih banyak dibanding tahun sebelumnya yang hanya 4 mata lomba.

Pupuhu MGMP Basa Sunda Kota Bandung Encep Ridwan mengatakan, dari 36 SMA yang mengikuti kegiatan ini, 10 SMA diantaranya merupakan SMA swasta. Setiap sekolah bisa mengirimkan dua peserta di setiap mata lomba.

"Kegiatan ini sebagai evaluasi pengajaran Basa Sunda di sekolah. Semua mata lomba ini diajarkan di sekolah," tutur Encep ditemui di tempat kegiatan yaitu si SMA Negeri 3 dan 5 Kota Bandung, Minggu, 2 September 2018.

Encep mengatakan, dari semua mata lomba, kawih termasuk yang tergolong sulit. Tak hanya perlu penguasaan bahasa, peserta harus menguasai cengkok yang jadi khas kawih.

Encep berharap kegiatan ini bisa memperkuat Sunda sebagai karakter dan jati diri masyarakat Jawa Barat, khususnya bagi pelajar SMA. "Kami berharap kegiatan ini tetap mendapat dukungan dari pemerintah," ujarnya.

Salah seorang peserta lomba sajak, Iqbal (16) mengatakan, ia terbiasa mengikuti lomba sajak. Tetapi lebih sering berbahasa Indonesia. "Lebih sulit Bahasa Sunda karena pengucapannya berbeda. Kata-katanya pun bukan Bahasa Sunda yang biasa digunakan sehari-hari," kata siswa SMA Negeri 9 ini.

Hal serupa juga disampaikan rekan satu sekolahnya. "Selain itu perlu penghayatan juga," ujar Aghni (15).

Ia mengatakan, meski persaingan ketat, ia optismistis. Ia justru tertantang untuk belajar Bahasa Sunda. "Jadi kalau ada lomba bisa ikutan lagi," ujarnya.

Sampai berita ini ditulis, lomba masih berlangsung. Belum diketahui pemenang di semua mata lomba. Dewan juri akan mimilih tiga orang pemenang untuk setiap mata lomba. Pemenang pertama akan mewakili Kota Bandung di kompetisi tingkat Provinsi Jabar. Bertindak sebagai dewab juri ialah akademisi dari Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Padjadjaran, serta praktisi Bahasa Sunda.***

Bagikan: