Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Orangtua Siswa Korban Perisakan SDN 023 Pajagalan Tak Akan Tempuh Jalur Hukum

Catur Ratna Wulandari
PELAJAR yang tergabung dalam The cofunas dan Therateather menampilkan pertunjukan dengan tema "Ngga Oke To Bully", di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranangsiang, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.*
PELAJAR yang tergabung dalam The cofunas dan Therateather menampilkan pertunjukan dengan tema "Ngga Oke To Bully", di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranangsiang, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.*

BANDUNG, (PR).- Dinas Pendidikan Kota Bandung membenarkan video aksi perisakan yang diunggah di media sosial benar terjadi di SDN 023 Pajagalan. Orangtua siswa yang menjadi korban dan pelaku perisakan sepakat untuk tidak melanjutkan kasus ini ke jalur hukum. Pemulihan psikologis para siswa yang terlibat kini menjadi perhatian.

Video perisakan di sekolah tersebut diunggah oleh akun Instagram @seeking_dorothy58. Dalam video tersebut, seorang siswa laki-laki dipegangi oleh siswa lainnya.

Ia dipukul juga diberondong kata-kata kasar. Meski sempat memberi perlawanan, korban kemudian menangis dan merunduk. Dalam video tersebut, selain korban tampak sekitar empat anak laki-laki lain.

Selain video, akun tersebut juga mengunggah cuplikan layar yang diduga ialah ibu korban yang mengungkapkan kemarahannya atas kejadian yang menimpa putranya. Akun tersebut mengunggah video itu pada Jumat, 31 Agustus 2018.

Namun menurut Kepala Sekolah SDN 023 Pajagalan Dante Rigmalia, sekolah menerima pengaduan orangtua siswa yang jadi korban pada Rabu, 29 Agustus 2018. Sekolah berusaha menenangkan orangtua korban dan memanggil para pelaku beserta orangtuanya. Pada hari yang sama, sekolah melaporkan kejadian ini kepada Dinas Pendidikan Kota Bandung.

Menurut laporan tertulis Dante terkait penanganan kasus ini, pada hari itu orangtua pelaku memohon maaf kepada orangtua korban. Kepala sekolah juga membuat permohonan maaf secara tertulis kepada orangtua korban.

Terkait penanganan terhadap para siswa, baik pelaku maupun korban, sekolah menghubungi Komisi Perlindungan Anak dan Perempuan, juga psikolog. "Berdiskusi mengenai alternatif solusi penanganan dan pencegahan," kata Dante dalam laporan tertulisnya.



Guru lebih waspada



Dihubungi Sabtu, 1 September 2019, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Elih Sudiapermana mengatakan, kasus ini telah ditangani secara musyawarah. Ia menjelaskan, pada Kamis, 30 Agustus 2018 telah ditandangani surat kesepakatan yang ditandatangani oleh orangtua korban, orangtua pelaku, kepala sekolah dan saksi dari Komite Sekolah dan PPID SDN 023 Pajagalan.

Pada surat tersebut, semua pihak bersepakat menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan dan tidak akan menempuh jalur hukum. Orangtua pelaku harus membuat surat pernyataan untuk menjaga anak-anak agar tidak mengulangi perbuatan serupa.

Selanjutnya, sekolah melakukan upaya untuk memulihkan kondisi psikologis siswa, baik yang menjadi korban maupun pelaku.

Terkait pemulihan psikologis ini, Elih mengatakan, sekolah bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM), psikolog, dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Bandung. 

"Kami berharap ke depan guru-guru di sekolah lebih waspada melihat perilaku anak-anak agar tidak mengarah ke kekerasan atau bullying," kata Elih.***

Bagikan: