Pikiran Rakyat
USD Jual 14.619,00 Beli 14.521,00 | Berawan, 21.1 ° C

Kriteria Rektor Unpad Versi Mahasiswa, Dosen, dan Alumni

Catur Ratna Wulandari

TAHAPAN pemilihan Rektor Universitas Padjadjaran periode 2019-2024 sudah bergulir. Harapan digantungkan pada para kandidat.

Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran Hikmat Kurnia mengatakan, status Unpad sebagai sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) menuntut kemandirian dalam pengelolaan aset dan keuangan. Sumber pendanaan tidak hanya iuran mahasiswa dan pemerintah. Rektor yang akan datang harus mampu menggali potensi untuk kemajuan Unpad.

"Dengan mengoptimalkan aset, hasil riset, jaringan, termasuk jaringan alumni bagi kemajuan Unpad," kata Hikmat kepada PR, Rabu 29 Agustus 2018.

 

Rektor Unpad setidaknya memiliki tiga kriteria 



Harapannya, Unpad bisa mengupayakan pendanaan sendiri. Mengurangi ketergantungan pada dana mahasiswa dan pemerintah.

Hikmat mengatakan, Rektor Unpad nantinya harus punya tiga kemampuan, akademik, manajerial, dan entepreneurship.

"Status dari BLU (Badan Layanan Umum) ke PTNBH membutuhkan kaliber rektor yang berbeda," ujarnya.

Rektor baru harus bisa menjadikan Unpad sebagai universitas yang berbasis riset dan enterpreneurship. Sehingga Unpad tidak hanya punya produk riset, tetapi juga produk yang bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.

Tiga kriteria rektor baru yang diinginkan alumni ini, kata Hikmat, merupakan kesimpulan atas pembahasan yang terjadi di kalangan alumni.

"Nati kan ada uji kompetensi, ada debat publik. Nanti baru ketahuan punya program apa saja dan bagaimana tiga unsur itu akan ditangani seperti apa," tuturnya.

 

Peran fakultas agar kembali diperbesar



Dosen Fakuktas Hukum Indra Perwira mengatakan, Unpad mempunyai banyak sumber daya manusia yang mumpuni di bidangnya masing-masing. Rektor baru harus bisa memanfaatkan potensi besar itu.

"Manajemen tidak dikuasai satu atau sekelompok pimpinan saja," ujarnya.

Ia mengatakan, saatnya peran fakultas diperbesar. Sebab fakultas yang punya andil besar dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan.

"Saya berharap peran fakultas dikembalikan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan pencetakan SDM. Ini juga berpengaruh pengelolaan keuangan," katanya.

Menurut dia, selama ini pengelolaan keuangan hanya di rektorat, sehingga ruang gerak fakultas menjadi sempit. Dampaknya ada demotivasi. Pembinaan mahasiswa juga pengabdian masyarakat tak bisa dilakukan optimal.

"Memang pendapatan meningkat, tapi kami seperti pekerja saja. Padahal dulu (fakultas) otonom, sekarang disibukkan urusan administratif," ujarnya.

Menurutnya, kepemimpinan di Unpad tak ubahnya seperti kultur Sunda. Tidak ada kepemimpinan pusat yang tunggal. Oleh karenanya Indra meyakini semakin banyak pihak diberi peran, Unpad akan semakin maju.

"Unpad tidak bisa diajak ke mana-mana hanya oleh rektor sendiri. Kerja sama tim, merasa sama-sama senasib sepenanggungan, itu bisa terpenuhi," ujarnya.

 

Pangkas jarak mahasiswa-rektorat



Sementara itu mewakili unsur mahasiswa, Ketua BEM Kema Unpad Izmu Tamami Roza mengatakan, mahasiswa menginginkan rektor yang tidak berjarak dengan mahasiswa. Sehingga kebijakannya tidak akan mempersulit mahasiswa.

"Siapapun figurnya harus bisa memperpendek jarak antara rektor dan mahasiswa. Jaraknya jangan terlalu jauh agar masalah di lapangan bisa mudah diatasi," katanya.

BEM Kema Unpad berharap akan ada forum dialog antara mahasiswa dan calon rektor. Dialog itulah yang akan menentukan calon rektor pilihan mahasiswa. 

Ketua BEM merupakan wakil mahasiswa di Majelis Wali Amanat. Setelah berstatus PTNBH, Rektor Unpad dipilih oleh MWA. 

Panitia Pemilihan Rektor Universitas Padjaran mengumumkan delapan bakal calon rektor yang lolos tahap seleksi administrasi. 

Delapan orang bakal calon itu adalah Achmad Syawqie (Fakuktas Kedokteran Gigi), Ahmad Mujahid Ramli (Fakultas Hukum), Aldrin Herwany (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Atip Latipulhayat (Fakultas Hukum), Nandang Alamsah Deliarnoor (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), Obsatar Sinaga (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), Sri Mulyani (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), dan Tri Hanggono Achmad (Fakultas Kedokteran).***

Bagikan: