Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan, 22.4 ° C

Tiga Mahasiswa UI Ciptakan Aplikasi Pemilu Desa

Bambang Arifianto
Tim perancang SIMPELDes berpose di Kampus UI, Kota Depok‎, Selasa, 21 Agustus 2018 lalu. Tim yang terdiri dari 3 mahasiswa UI dan 1 dosen pembimbing merancang dan menciptakan aplikasi pemilihan umum kepala desa yang modern, efektif, efisien dan murah.*
Tim perancang SIMPELDes berpose di Kampus UI, Kota Depok‎, Selasa, 21 Agustus 2018 lalu. Tim yang terdiri dari 3 mahasiswa UI dan 1 dosen pembimbing merancang dan menciptakan aplikasi pemilihan umum kepala desa yang modern, efektif, efisien dan murah.*

DEPOK, (PR).- Tiga mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Negara Universitas Indonesia menciptakan aplikasi Sistem Informasi Pemilihan Umum Desa (SIMPELDes). Ini sebagai upaya menciptakan  pemilu yang lebih modern, efisien, efektif serta berbiaya murah.

Aplikasi tersebut juga merupakan sarana edukasi masyarakat berbasis digital guna mengurangi permasalahan dalam Pemilu.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah ‎Mujahidin Yusuf, Dyah Ayu Febriani, Nafisah Nadjib. Mereka menciptakan aplikasi di bawah bimbingan Dosen FIA UI Nidaan Khafian, SSOS, MA. 

SIMPELDes memiliki lima fitur unggulan‎ yakni media informasi calon pemimpin, voting elektronik, layanan aspirasi, dan pengaduan online rakyat terintegrasi, layanan beri pendapat dan pendidikan politik.

Dalam fitur media informasi calon pemimpin, masyarakat atau pemilih mendapat informasi terkait riwayat hidup dan rekam jejak/pengalaman kandidat. Aplikasi tersebut pun menjadi wadah serta peluang pemilih menyalurkan aspirasi serta melaporkan berbagai hal yang merugikan dalam pemilihan kepala daerah/desa. 

Tak hanya itu, SIMPELDes memiliki fitur mobile voting. Dengan fitur tersebut, pemilihan dapat dilakukan melalui gawai ‎melalui single sign on (SSO) yang berarti satu pemilik NIK  hanya dapat mengakses satu akun. 

Melalui pemilihan berbasis teknologi, kecurangan dalam Pemilu bisa diminimalisir. Aplikasi itu juga dirancang agar terintegrasi dengan aplikasi pemilu lain seperti sistem informasi pencalonan (Silon) dan sistem informasi daerah pemilihan (Sidalih).

"Aplikasi Simpeldes pada dasarnya dapat diterapkan pada beragam pesta demokrasi. Namun pada kesempatan ini, kami mencoba menerapkan pada pemilihan kepala desa yang memiliki IKP (indeks kerawanan pemilihan kepala daerah/desa) yang tergolong cukup tinggi," kata Mujahidin selaku ketua tim dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 24 Agustus 2018.

Kerawanan itu tampak dari banyaknya kendala dan kecurangan terkait tidak masuknya pemilih dalam daftar pemilih, formulir C6 yang tak disebar, pemilih ganda, praktik politik uang dan ketidaknetralan petugas pemilu.

"Selain itu, kendala lain yang kerap terjadi di tengah masyarakat pemilih adalah belum mengenal sosok pemimpin serta calon kepala desa yang mereka pilih," ujar Mujahidin.

Pendidikan politik



Akibat keterbatasan informasi dan pengetahuan itu, masyarakat memilih calon pemimpin ‎secara sembarangan. "Mereka hanya menebak secara tidak pasti calon manakah yang pantas mereka pilih tanpa mengetahui calon mana yang memiliki kemampuan kepemimpinan yang baik," ucapnya. 

Suara warga pun rentan dimanipulasi oleh praktik politik uang. "Sehingga kami menciptkan SIMPELDes untuk menghilangkan itu semua," tuturnya.

SIMPeLDes diharapkan ‎mampu menjadi media pendidikan politik berbasis digital serta mengurangi proses manual pada Pemilu langsung. Proses manual  berdampak pelayanan berlangsung lama, membutuhkan tenaga serta menyedot anggaran yang besar.

SIMPELDes dinilai dapat memotong persoalan tersebut dengan menghadirkan Pemilu lebih sederhana, efisien dan efektif.***

Bagikan: