Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 20.4 ° C

Indonesia Raih 3 Medali Emas Olimpiade Sains 2018

Dhita Seftiawan
PERAIH medali International Earth Science Olympiad (IESO) 2018 disambut di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat 17 Agustus 2018. Indonesia meraih 3 emas, 2 perak dan 3 perunggu dari ajang yang diselenggarakanndi Thailand tersebut.
PERAIH medali International Earth Science Olympiad (IESO) 2018 disambut di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat 17 Agustus 2018. Indonesia meraih 3 emas, 2 perak dan 3 perunggu dari ajang yang diselenggarakanndi Thailand tersebut.

JAKARTA, (PR).- Lima siswa Indonesia meraih 3 emas, 2 perak dan 3 perunggu 12nd International Earth Science Olympiad (IESO) 2018 yang berlangsung di Mahidol Kanchanaburi, Thailand. Mereka merupakan peraih medali Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2017. 

Kepala Sub Direktorat Peserta Didik, Direktorat Pembinaan SMA, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Suharlan mengatakan, perolehan medali tersebut membawa Indonesia masuk pada peringkat ketiga dunia dalam ajang yang diikuti 39 negara itu. "Kami bangga anak-anak pulang mendapatkan medali dan mayoritas mendapatkan emas,” kata Suharlan di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Senin 20 Agustus 2018.

Dua siswa peraih medali emas pada kategori individu diraih Naufal Dean Anugrah (SMAN 1 Yogyakarta) dan Geoffrey Tyndall (SMAN 2 Jakarta). Sedangkan satu medali perak diraih Abraham Karel (SMAN 8 Jakarta) dan satu medali perunggu diraih satu-satunya olimpiad putri, Lintang Ambar Pramesti (SMA Kesatuan Bangsa Yogyayakarta). Tidak hanya itu, Indonesia juga dibuat bangga dengan raihan penghargaan kategori lomba berkelompok ESP dan ITFI. 

Dari kompetisi ESP, siswa Indonesia meraih medali emas atas nama Abraham dan medali perunggu atas nama Lintang. Sedangkan dari kategori ITFI, siswa Indonesia raih medali perak atas nama Naufal dan perunggu atas nama Geoffrey. 

Suharlan menuturkan, lima siswa yang mewakili Indonesia dalam ajang tersebut terpilih melalui jalan yang tidak mudah. Pasalnya, harus melewati empat tahapan pembinaan yang dilaksanakan di Yogyakarta dan Bandung selama 3 bulan di akhir 2017 hingga sebelum keberangkatan pada 2018. “Dari beberapa siswa yang mengikuti pembekalan yang dilaksanakan oleh Direktorat PSMA, terpilih lima yang berangkat mewakili Indonesia untuk mengikut olimpiade Internasional,” ujarnya.

Mampu berprestasi 



Suharlan mengatakan, prestasi anak bangsa semakin meningkat dan membuktikan bahwa Indonesia mampu berprestasi di dunia dalam bidang sains. Ini adalah prestasi terbaik yang pernah diraih tim IESO sejak keikutsertaannya pertama kali pada  2007 di Korea Selatan. "Ini bukan semata kebanggaan meraih medali atau berhasil mengalahkan lawan, tetapi menjadi wadah penyatu segala perbedaan dan pijakan dalam meraih prestasi gemilang bersama-sama. Inilah yang kita namakan forum diplomasi kebudayaan, mengharumkan dan mengangkat derajat bangsa Indonesia," kata Suharlan.

Naufal mengaku sangat bahagia bisa menjadi mengungguli siswa lain dari sejumlah negara maju. Menurut dia, persaingan sangat ketat dan penuh sportifitas. “Saat sampai di sana seru banget saya bisa bertemu dengan teman-teman dari berbagai negara. Saat pembukaan acara pun kami disambut oleh salah satu putri dari Kerajaan Thailand,” ucap Naufal.

Naufal menilai, persiapan yang dilakukan Kemendikbud sebelum keberangkatannya ke Thailand sangat membantu sehingga ia percaya diri dapat memberikan yang terbaik pada ajang olimpiade tersebut. “Persiapan dari Indonesia sendiri melalui pembinaan yang dilakukan Direktorat PSMA sudah sangat bagus. Kita mulai dari kabupaten kemudian seleksi tingkat provinsi, terus ikut OSN tingkat nasional di Riau. Kemudian ikut pelatihan nasional sebanyak empat kali,” ujarnya. 

Kompetisi pra-perguruan tinggi



Ia berharap para siswa Indonesia dapat memiliki semangat yang sama dalam meraih prestasi sesuai bakat dan minat masing-masing. “Jangan pernah ragu dan terus berusaha. Awal mau mengikuti olimpiade ini juga saya ada kendala karena mau cari universitas, dan saya sempat berpikir mau mundur dari kejuaraan ini, akhirnya saya putuskan untuk tetap maju dan tetap semangat. Alhadulillah dapat juara,” katanya.

Geoffrey Tyndall juga mengaku senang bisa bertemu dengan para siswa dari 39 Negara peserta IESO. “Saya senang sekali memiliki teman-teman baru dari 39 negara. Saya bisa merasakan atmosfer kompetisi dengan negara-negara yang memiliki keunggulan serupa dengan Indonesia di bidang kebumian,” ujarnya.

Ia berharap, para siswa Indonesia bisa terus mengikuti ajang tersebut dan meningkatkan capaian prestasi tahun ini. “Apa yang kami lakukan apapun hasilnya harus mempersembahkan yang terbaik, sekecil apapun peluangnya. Saya pun memulai dari bawah mengikuti kompetisi di tingkat kota, kemudian provinsi, dan nasional. Dengan kita tetap tenang dan fokus akhirnya berhasil ikut pada ajang internasional dan mendapatkan juara,” kata Geoffrey. 

IESO adalah ajang kompetisi siswa pra-perguruan tinggi (sekolah menengah) bidang ilmu kebumian yang meliputi pengetahuan mengenai geosfer (geologi dan geofisika), hidrosfer (hidrologi dan oseanografi), atmosfer (meteorologi dan klimatologi) dan astronomi. Kegiatan ini dipayungi International Geoscience Education Organization (IGEO) yang merupakan organisasi internasional dengan anggota para pendidik/organisasi/institusi pendidikan ilmu kebumian di seluruh dunia baik untuk tingkat pra-perguruan tinggi maupun perguruan tinggi. Tim Amerika Serikat menjadi juara umum IESO 2018 dengan perolehan empat medali emas.***

Bagikan: