Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan, 20.5 ° C

Berkat Strategi Ambu, Kepala SDN 166 Ciateul Kota Bandung Jadi Juara Nasional

Catur Ratna Wulandari

BANDUNG, (PR).- Kepala Sekolah SDN 166 Ciateul Kota Bandung, Sri Hendrawati menjadi Juara I pada Pemilihan Tenaga Kependidikan Berprestasi Tingkat Nasional 2018 kategori Kepala SD. Pada ajang yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini Jawa barat menjadi juara umum. Dari 35 kategori yang digerlar, Jabar meraih 7 emas 4 perak dan 4 perunggu.

Pemilihan ini dilakukan berjenjang. Seleksi pertama dilakukan di tingkat gugus, dilanjutkan ke tingkat kecamatan, kota, provinsi, hingga nasional. Proses seleksi sudah dimulai sejak April lalu.

Sri mengatakan, seleksi itu tidak saja menilai prestasi kepala sekolah, tetapi juga melihat prestasi sekolah, serta guru dan siswanya. Karya tulis dan penghargaan yang diperoleh selama tiga tahun terakhir juga dipertimbangkan. "Peran serta di keluarga dan masyarakat seperti apa juga ikut dilihat," kata Sri kepada Pikiran Rakyat, Sabtu, 18 Agustus 2018.

Selain itu, ia juga harus mempresentasikan praktik terbaik yang menjadi gagasannya. Ide yang ia kemukakan ialah membangun sekolah pembelajar melalui strategi Ambu Cantik di SDN 166 Ciateul.

"Strategi ambu cantik ini saya ambil dari nilai-nilai karakter masyarakat kesundaan. Pemimpin dari kesundaan itu seperti apa, saya rangkum dari keseharian," tuturnya.

Ia menjelaskan, strategi ambu ini diperoleh dari aktivitasnya di sekolah. "Saya termasuk kepala sekolah muda. Saya berhadapan dengan guru-guru yang sudah senior. Saya juga punya tenaga honorer yang usianya jauh di bawah saya. Ketika berhadapan dengan beliau-beliau, saya harus memahami karakter bapak ibu guru. Saya mempelajari betul bagaimana bersikap pada yang lebih tua supaya ide dan upaya menggerakkan perubahan bisa berjalan mudah," tuturnya.

Empat langkah



Strategi ambu ini merupakan kependekan dari empat langkah yang diramu oleh Sri. Pertama, Arahkan sesuai potensi, motivasi diri harus ditingkatkan, berbuat memberi contoh dan keteladanan, serta berbuat bersama-sama.

Bagi Sri, sebagai pemimpin harus bisa menjadi figur yang bisa menunjukkan kerja dan karya. Hal itu penting sebagai motivasi bagi guru dan siswa untuk berprestasi serupa. "Anak-anak jadi percaya diri, punya sesuatu yang dibanggakan," katanya.

Keterbatasan yang dihadapi sekolah, kata dia, tak jadi penghalang untuk mendulang prestasi. Bahkan harus menjadi motivasi untuk menciptakan terobosan-terobosan baru. SDN 166 Ciateul tak punya sarana ang mentereng, gedungnya sudah lapuk dimakan usia, siswanya juga hanya 260. Tapi sekolah ini terus berupaya mengembangkan diri.

SDN 166 Ciateul bekerja sama dengan salah satu sekolah di Vietnam menggelar pelajaran terbuka. Menggunakan fasilitas video call, guru di SDN 166 Ciateul memperagakan cara membuat listri dengan menggunakan air garam. Dari demonstrasi itu, anak-anak di Vietnam boleh bertanya.

"Kami pakai android dan tongsis. Di sana sampai dilihat oleh 100 observer. Itu rasanya senang sekali. Sebelumnya guru-guru khawatir karena tidak  bisa Bahasa Inggris, akhirnya belajar dulu, latihan dulu," kata Sri yang tahun lalu meraih gelar juara di Simposium Nasional Tenaga Kependidikan 2017.

Ia berharap kegiatan-kegiatan seperti ini bisa terus mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah maupun pusat.***

Bagikan: